Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia di Balik Kebiasaan Ngintipin Hidup Orang di Media Sosial

Nisrina - Tuesday, 31 March 2026 | 12:15 PM

Background
Rahasia di Balik Kebiasaan Ngintipin Hidup Orang di Media Sosial
Ilustrasi (Pexels/Lance Reis)

Bayangkan situasi ini: jam menunjukkan pukul dua pagi, lampu kamar sudah padam, tapi layar ponselmu masih menyala terang. Jempolmu bergerak lincah, men-scroll feed Instagram atau TikTok milik seseorang yang bahkan nggak kamu kenal secara pribadi. Mungkin itu selebgram yang baru saja tunangan, atau mungkin mantan pacar dari temannya temanmu. Kamu meneliti detail fotonya, membaca caption-nya berkali-kali, sampai akhirnya tersadar kalau kamu sudah menghabiskan satu jam cuma buat "ngintipin" hidup orang lain. Familiar? Tenang, kamu nggak sendirian.

Fenomena ini sering kita sebut dengan istilah "kepo". Kata yang sudah jadi makanan sehari-hari di pergaulan anak muda Indonesia. Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa sih kita punya dorongan sekuat itu untuk tahu urusan orang lain? Apakah kita memang terlahir sebagai makhluk julid, atau ada penjelasan ilmiah yang lebih dalam di baliknya?

Insting Bertahan Hidup Sejak Zaman Purba

Kalau kamu merasa bersalah karena hobi ghibah atau kepo, mungkin fakta ini bisa sedikit menenangkan hatimu: keinginan untuk tahu urusan orang lain itu sebenarnya adalah mekanisme bertahan hidup. Ya, kamu nggak salah baca. Nenek moyang kita dulu perlu tahu siapa yang sedang bersekutu dengan siapa, siapa yang baru saja menemukan sumber air, atau siapa yang sedang berkhianat di dalam suku.

Di zaman batu, ketinggalan informasi atau "gosip" bisa berarti kematian. Kalau kamu nggak tahu siapa orang yang paling kuat atau siapa yang suka mencuri makanan, kamu bisa saja terdepak dari kelompok. Jadi, otak kita memang sudah dirancang secara evolusioner untuk haus akan informasi sosial. Bedanya, kalau dulu informasinya soal "siapa yang baru saja membunuh mammoth", sekarang informasinya berubah jadi "siapa artis yang baru saja cerai karena orang ketiga". Esensinya sama: kita ingin memetakan posisi kita di dalam hierarki sosial.

Teori Perbandingan Sosial: Ukuran Bahagia Kita

Pernah dengar soal Social Comparison Theory? Teori dari psikolog Leon Festinger ini bilang kalau manusia itu punya dorongan bawaan buat mengevaluasi diri mereka sendiri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, kita jarang membandingkan diri dengan pohon atau batu; kita membandingkannya dengan sesama manusia.

Saat kita melihat teman satu angkatan sudah beli rumah di usia 25 tahun, ada rasa nyesek di dada, tapi sekaligus rasa penasaran: "Kok bisa ya?". Sebaliknya, saat kita melihat orang yang hidupnya terlihat lebih berantakan dari kita, ada rasa lega yang tersembunyi (meskipun kita nggak mau mengakuinya). Kita menggunakan hidup orang lain sebagai tolok ukur atau meteran untuk mengukur kesuksesan dan kebahagiaan kita sendiri. Itulah kenapa kita sering terjebak dalam lubang hitam media sosial; kita sedang mencari validasi apakah hidup kita sudah "oke" atau belum.

Dopamin di Balik Sebuah Rahasia

Kenapa tahu rahasia orang lain rasanya begitu nikmat? Jawabannya ada di zat kimia bernama dopamin. Otak kita melepaskan dopamin saat kita mendapatkan informasi baru yang menarik atau "pedas". Rasanya hampir sama dengan saat kita makan makanan enak atau menang main game. Ada sensasi reward yang bikin ketagihan.

Ghibah atau bergosip bukan cuma soal menjatuhkan orang lain, tapi juga soal menciptakan ikatan sosial. Saat kamu berbisik pada temanmu, "Eh, tahu nggak si itu ternyata...", secara otomatis kamu dan temanmu sedang membangun benteng kepercayaan. Kamu berbagi informasi eksklusif yang mempererat hubungan kalian. Makanya, jangan heran kalau lingkaran pertemanan seringkali makin solid justru karena hobi "ngomongin orang" bareng-bareng. Meskipun tentu saja, ini pedang bermata dua.

Efek "Voyeurisme" di Era Digital

Dulu, kalau mau tahu hidup orang, kita harus benar-benar bertemu atau minimal teleponan. Sekarang? Batas itu sudah luntur. Media sosial menciptakan jendela transparan yang lebar banget. Kita seolah-olah punya akses masuk ke kamar tidur orang asing, melihat apa yang mereka makan siang ini, sampai tahu apa merk parfum mereka.

Ada unsur voyeurisme ringan di sini—keinginan untuk melihat tanpa terlihat. Kita bisa mengamati drama hidup orang lain dari balik layar ponsel tanpa harus terlibat secara emosional atau fisik. Ini memberikan rasa aman sekaligus kepuasan rasa ingin tahu yang instan. Tapi jujur saja, kadang ini bikin kita lupa kalau apa yang kita lihat di media sosial hanyalah highlight reel alias bagian-bagian indahnya saja. Kita membandingkan "dapur" kita yang berantakan dengan "ruang tamu" orang lain yang sudah dipoles filter sedemikian rupa.

Kepo yang Sehat vs Kepo yang Toxic

Lalu, apakah ingin tahu urusan orang itu selalu buruk? Nggak juga. Penasaran pada hidup orang lain bisa jadi sumber inspirasi. Misalnya, melihat perjuangan seseorang membangun bisnis bisa memotivasi kita untuk melakukan hal yang sama. Kepo juga bisa jadi bentuk kepedulian. Kalau kita nggak punya rasa ingin tahu, kita nggak akan pernah bertanya "Apa kabar?" atau "Lagi ada masalah ya?" ke teman kita.

Batasan antara kepo yang normal dan yang toxic itu tipis banget. Tandanya sudah nggak sehat adalah ketika kamu mulai merasa depresi, rendah diri, atau malah merasa senang luar biasa saat melihat orang lain jatuh (yang dalam bahasa Jerman disebut schadenfreude). Kalau konten orang lain sudah mulai merusak kesehatan mentalmu, mungkin itu saatnya buat menekan tombol unfollow atau minimal mute.

Kita Memang Makhluk Sosial yang Berisik

Pada akhirnya, keinginan untuk tahu kehidupan orang lain adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk sosial yang memang butuh interaksi dan informasi. Selama tujuannya bukan untuk merugikan atau menjatuhkan, rasa penasaran itu sah-sah saja.

Jadi, lain kali kalau kamu tertangkap basah sedang asyik men-stalking akun orang sampai postingan tahun 2015, nggak perlu terlalu merasa bersalah. Bilang saja pada dirimu sendiri kalau kamu sedang "menjalankan insting evolusi" atau sedang melakukan "riset perbandingan sosial". Tapi ya jangan kelamaan juga, ingat kalau hidupmu sendiri juga perlu diurus, bukan cuma ditonton orang lain. Lagipula, bukankah lebih asyik kalau kita sibuk bikin cerita hidup sendiri daripada cuma jadi penonton setia di hidup orang lain?

Logo Radio
šŸ”“ Radio Live