Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia

Nizar - Monday, 04 May 2026 | 06:00 PM

Background
Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia
ilustrasi (sleepandco.id/)

Menelusuri Jejak Si Guling: Teman Tidur Setia yang Ternyata Punya Sejarah "Ngenes"

Pernah nggak sih kalian merasa ada yang kurang kalau mau tidur tapi nggak ada guling? Rasanya kayak ada lubang di hati, atau minimal tangan dan kaki jadi bingung mau ditaruh di mana. Bagi kebanyakan orang Indonesia, guling itu sudah kayak "harta karun" di atas kasur. Mau sekeren apa pun desain kamar atau semahal apa pun sprei yang dipakai, kalau nggak ada benda berbentuk tabung ini, tidur rasanya cuma kayak simulasi pingsan yang tidak sempurna.

Tapi, pernah nggak kalian iseng berpikir, dari mana sih asal-usul benda ini? Apakah sejak zaman Majapahit orang-orang sudah hobi peluk-peluk guling? Atau jangan-jangan ini adalah teknologi canggih hasil konspirasi masa lalu? Ternyata, sejarah guling itu jauh lebih menarik—dan sedikit ironis—daripada sekadar fungsinya sebagai penyangga kaki saat kita bermimpi indah.

Lahir dari Kesepian Para Serdadu Belanda

Sejarah guling di Indonesia sebenarnya nggak lepas dari masa kolonialisme. Kalau kalian cari padanan kata "guling" di bahasa Inggris, kalian mungkin akan menemukan istilah "Dutch Wife" atau Istri Belanda. Nah, dari namanya saja sudah ketahuan kalau ada campur tangan orang-orang dari negeri kincir angin itu dalam populernya guling di tanah air.

Ceritanya begini, pada zaman dulu, ketika para serdadu dan pejabat Belanda dikirim ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia), mereka seringkali datang sendirian. Membawa istri atau keluarga dari Eropa itu ribet dan mahal. Akhirnya, mereka pun dilanda kesepian yang luar biasa di tengah cuaca tropis yang gerah. Untuk menyalurkan kebutuhan psikologis akan "pelukan" dan supaya posisi tidur lebih nyaman, mereka butuh sesuatu untuk dipeluk.

Namun, karena menyewa "teman tidur" sungguhan (atau gundik) tidak selalu bisa dilakukan atau dianggap terlalu berisiko bagi sebagian orang, mereka menciptakan guling. Benda ini awalnya berfungsi sebagai pengganti pelukan manusia. Bentuknya yang panjang dan empuk dirancang supaya bisa didekap sepanjang malam. Jadi, kalau boleh jujur, sejarah awal guling itu sebenarnya agak menyedihkan ya, karena lahir dari rasa kesepian para jomblo di masa kolonial.

Sindiran Tajam Sir Stamford Raffles

Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa sih yang pertama kali mempopulerkan istilah Dutch Wife itu? Jawabannya adalah Sir Stamford Raffles. Ya, pria Inggris yang juga mendirikan Singapura dan menulis buku The History of Java itu. Raffles punya sentimen persaingan yang cukup kuat dengan Belanda.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan di Jawa sekitar tahun 1811, Raffles melihat kebiasaan orang-orang Belanda yang suka tidur memeluk bantal panjang. Dengan nada mengejek, Raffles menjuluki bantal itu sebagai "Istri Belanda". Menurutnya, orang Belanda itu pelitnya minta ampun, sampai-sampai nggak mau keluar uang buat menyewa teman tidur dan lebih memilih memeluk bantal yang nggak bisa komplain. Dari ejekan itulah istilah Dutch Wife mendunia, dan guling mulai dikenal luas sebagai identitas tidur di wilayah jajahan Belanda.

Mengapa Guling Hanya Eksis di Sini (dan Sekitarnya)?

Coba deh kalian jalan-jalan ke Amerika atau Eropa, lalu menginap di hotel bintang lima sekalipun. Jangan harap kalian bakal menemukan guling di atas kasur. Paling-paling cuma bantal kepala yang jumlahnya banyak. Mengapa? Karena di negara-negara barat, guling dianggap tidak perlu. Mereka punya iklim dingin yang membuat orang lebih suka meringkuk dalam selimut daripada memeluk guling yang malah memberikan celah udara.

Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, guling jadi populer karena faktor iklim. Memeluk guling membantu menjaga jarak antara kedua paha atau lengan, sehingga ada sirkulasi udara yang lewat. Ini efektif banget buat mengurangi rasa gerah saat tidur di malam yang lembap. Selain itu, secara medis, memeluk guling sebenarnya bagus buat posisi tulang punggung agar tetap lurus. Jadi, selain karena sejarah "ngenes" tadi, ada alasan fungsional kenapa kita nggak bisa lepas dari benda ini.

Evolusi Guling: Dari Kapuk Hingga Dakimakura

Dulu, guling biasanya diisi dengan kapuk pohon randu. Teksturnya padat, berat, dan kalau sudah lama suka menggumpal. Tapi sekarang, zamannya sudah beda. Ada guling dacron yang empuknya kayak awan, sampai guling memory foam yang harganya bisa bikin kantong jerit-jerit. Di Jepang, budaya guling malah ber-evolusi jadi Dakimakura, guling besar dengan gambar karakter anime yang sering bikin orang awam geleng-geleng kepala. Tapi esensinya tetap sama: teman tidur yang bisa dipeluk tanpa perlu takut ditolak cintanya.

Di Indonesia sendiri, guling sudah jadi bagian dari budaya. Bahkan ada istilah "rebutan guling" kalau lagi tidur bareng saudara atau teman. Guling juga sering jadi saksi bisu galau-galau kita di malam hari, tempat curhat paling setia yang nggak bakal membocorkan rahasia ke siapa-siapa. Meski sekarang banyak orang lebih sering memeluk smartphone sebelum tidur, posisi guling sebagai "pendamping sah" di kasur sepertinya belum akan tergantikan dalam waktu dekat.

Sebuah Kesimpulan yang Hangat

Jadi, setiap kali kalian memeluk guling malam ini, ingatlah bahwa kalian sedang merayakan sebuah warisan sejarah yang panjang. Dari simbol kesepian para serdadu Belanda, menjadi bahan ejekan pejabat Inggris, hingga akhirnya menjadi benda wajib di setiap rumah orang Indonesia. Guling bukan cuma sekadar bantal panjang, tapi adalah bukti bagaimana kita bisa beradaptasi dengan keadaan dan menciptakan kenyamanan kita sendiri.

Lagipula, punya guling itu lebih praktis daripada punya pasangan yang hobi protes kalau tangan kita kesemutan saat dipeluk. Guling nggak akan protes kalau kaki kita bau, nggak akan minta putus kalau kita lupa hari jadian, dan pastinya, guling selalu ada kapan pun kita butuh "sandaran" setelah lelah menghadapi kerasnya hidup. Jadi, sudahkah kalian mencuci sarung guling kalian minggu ini?

Logo Radio
🔴 Radio Live