Ceritra
Ceritra Warga

Cuaca Terik Surabaya Bikin Budaya 'Numpang Adem' di Cafe dan Mal Makin Marak

Shannon - Monday, 18 May 2026 | 05:00 PM

Background
Cuaca Terik Surabaya Bikin Budaya 'Numpang Adem' di Cafe dan Mal Makin Marak
(Klik Hijau/)

Surabaya Lagi Mode Neraka Bocor: Kenapa Ngadem Jadi Budaya Wajib Gen Z Kota Pahlawan

Kalau ada lomba kota paling berapi-api di Indonesia, kayaknya Surabaya nggak perlu audisi lagi buat jadi juara bertahan. Akhir-akhir ini, suhu di Surabaya beneran nggak masuk akal. Orang-orang sering bercanda kalau matahari di Surabaya itu ada sembilan, atau mungkin langitnya lagi bocor dikit jadi panasnya langsung "nyes" ke ubun-ubun. Bayangin aja, baru keluar rumah lima menit buat beli sarapan, keringat sudah bercucuran kayak habis lari maraton. Aspal jalanan Ahmad Yani atau Basuki Rahmat itu rasanya sudah bisa dipakai buat goreng telur tanpa kompor.

Fenomena panas pol ini akhirnya melahirkan sebuah gerakan massa yang nggak terorganisir tapi masif dilakukan oleh anak-anak muda, alias Gen Z Surabaya. Gerakan itu bernama ngadem. Bagi mereka, ngadem bukan cuma soal mencari tempat yang dingin, tapi sudah jadi mekanisme bertahan hidup alias survival mode di tengah gempuran suhu yang kadang mencapai 38 derajat Celcius tapi rasanya kayak 45 derajat. Pilihannya cuma dua: diam di kamar pakai kipas angin yang malah mengeluarkan angin panas, atau dandan rapi terus melipir ke cafe atau mal.

WFC: Work From Cafe atau Wahana Frozen Central?

Dulu, orang ke cafe ya buat nongkrong atau ngobrol. Sekarang, fungsinya sudah bergeser jauh. Bagi Gen Z Surabaya, cafe adalah oase. Kamu pasti sering lihat pemandangan anak muda bawa laptop, duduk berjam-jam, di depannya ada satu gelas kopi yang es batunya sudah mencair semua tapi mereka masih betah di sana. Fenomena Work From Cafe (WFC) atau nugas di cafe ini sebenarnya adalah strategi penghematan biaya listrik rumah tangga yang dibalut dengan gaya hidup.

Jujurly, daripada nyalain AC di kamar seharian yang bikin tagihan listrik melonjak drastis, mending modal 30 sampai 50 ribu buat beli satu cup Americano atau Matcha Latte. Dengan nominal segitu, kamu dapat akses WiFi kencang, stop kontak, dan yang paling penting: semburan AC yang dinginnya sampai ke tulang rusuk. Ini adalah investasi kesehatan mental. Siapa yang bisa produktif kalau punggung sudah basah kuyup gara-gara gerah? Di cafe, mereka bisa merasa jadi manusia seutuhnya lagi tanpa harus sibuk kipas-kipas pakai buku tulis.

Mal Sebagai Alun-Alun Modern yang Ber-AC

Kalau bosan di cafe, pelarian selanjutnya jelas: mal. Surabaya punya banyak banget mal gede yang jaraknya kadang cuma lemparan batu. Mulai dari Tunjungan Plaza yang saking gedenya bisa bikin tersesat, sampai Pakuwon Mall di barat yang vibes-nya sudah kayak bukan di Indonesia. Bagi Gen Z, mal adalah tempat healing paling murah meriah. Nggak perlu belanja, cukup cuci mata (window shopping) sambil menikmati udara dingin yang disirkulasikan secara merata.

Budaya ngadem di mal ini juga unik. Kamu bakal ketemu gerombolan anak muda yang cuma jalan-jalan bolak-balik dari lantai bawah ke lantai atas tanpa tentengan belanjaan. Mereka cuma pengen ngerasain sensasi dingin yang nggak mereka dapatkan di kosan atau rumah. Kadang, duduk-duduk di area food court sambil main HP sudah cukup buat nge-charge energi sebelum harus berhadapan lagi dengan kenyataan pahit: panasnya jalanan Surabaya pas perjalanan pulang.

Estetika di Tengah Hawa Panas

Lucunya, meskipun Surabaya lagi panas-panasnya, urusan fashion tetap nomor satu buat anak muda di sini. Ini yang sering bikin heran. Di luar suhu lagi membara, tapi di dalam mal atau cafe, kamu bakal lihat Gen Z pakai outfit yang "proper"—kadang ada yang pakai cardigan atau hoodie. Ya gimana ya, soalnya di dalam ruangan itu dingin banget. Jadi ada kontras yang lumayan ekstrem: berangkat keringatan, di lokasi kedinginan, pulang-pulang nangkring di lampu merah langsung kerasa kayak dipanggang lagi.

Style "ngadem" ini juga nggak lepas dari kebutuhan konten. Cafe yang dipilih bukan cuma yang dingin, tapi yang estetik. Jadi, selain menyelamatkan diri dari heatstroke, mereka juga bisa sekalian update Instagram Story atau bikin konten TikTok. "Pov: Nyari tempat ngadem karena Surabaya nggak ada obat," begitu kira-kira caption standarnya. Ini adalah bentuk validasi kolektif bahwa memang cuaca lagi nggak ramah, dan mereka butuh apresiasi karena sudah berhasil bertahan hidup hari itu.

Bukan Manja, Tapi Realita

Beberapa orang tua mungkin bakal bilang, "Halah, baru panas segitu aja sudah ngeluh, dulu bapak ibu jalan kaki nggak apa-apa." Tapi masalahnya, kawan, pemanasan global itu nyata dan Surabaya ada di garis depan. Pohon-pohon makin jarang, gedung makin banyak, dan jumlah kendaraan bermotor makin membludak. Jadi, budaya ngadem ini bukan tanda kalau Gen Z manja. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang memang sudah berubah.

Ngadem di tempat publik ber-AC juga jadi solusi sosial. Di sana, mereka berinteraksi, bertukar ide, atau sekadar main game bareng. Daripada emosi di rumah gara-gara kegerahan yang bikin sumbu pendek, lebih baik mendinginkan kepala di tempat yang tepat. Akhir kata, selama matahari Surabaya masih betah punya cabang banyak, selama itu juga bisnis cafe dan mal di Surabaya bakal terus jaya. Karena bagi Gen Z, dingin adalah kemewahan yang layak diperjuangkan, meski harus dibayar dengan harga segelas kopi atau biaya parkir mal yang lumayan.

Jadi, buat kamu yang lagi di Surabaya dan merasa mulai "matang" perlahan, jangan ragu buat segera cari pintu kaca terdekat yang bertuliskan "Push" atau "Pull". Masuklah, tarik napas dalam-dalam, dan nikmati sensasi surga dunia bernama Air Conditioner. Surabaya memang panas, tapi setidaknya pilihan tempat ngadem kita nggak pernah terbatas.

Logo Radio
🔴 Radio Live