Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia di Balik Keberanian Netizen Menghujat di Media Sosial

Nisrina - Thursday, 02 April 2026 | 11:15 AM

Background
Rahasia di Balik Keberanian Netizen Menghujat di Media Sosial
Ilustrasi (https://blog.securly.com/the-10-types-of-cyberbullying//)

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling X (yang dulu namanya Twitter) atau kolom komentar TikTok, terus nemu orang yang ketikannya pedas banget? Level pedasnya bukan lagi level seblak bumbu mala, tapi sudah sampai tahap mendoakan orang lain kena azab atau menghujat fisik dengan kata-kata yang kalau diucapkan langsung, mungkin bakal bikin kita kena gampar di tempat. Anehnya, pas kita cek profilnya, fotonya cuma gambar kucing lucu, pemandangan gunung, atau malah foto keluarga yang kelihatannya adem ayem banget.

Fenomena ini bukan barang baru, tapi makin ke sini makin menjadi-jadi. Orang yang kalau di dunia nyata ditanya alamat saja jawabnya sambil nunduk-nunduk sopan, eh, pas di depan layar HP bisa berubah jadi "Keyboard Warrior" kelas berat. Pertanyaannya: kok bisa ya? Apa yang bikin nyali manusia modern mendadak tumbuh seribu persen saat jempolnya menyentuh layar sentuh?

Ekses Disinhibisi Online: Topeng yang Membebaskan

Dalam dunia psikologi, fenomena ini punya nama keren: Online Disinhibition Effect. Istilah yang dipopulerkan oleh John Suler ini menjelaskan kenapa hambatan atau kontrol diri kita mendadak "runtuh" saat berinteraksi di internet. Sederhananya, internet itu kayak pesta topeng yang nggak pernah usai. Pas kita pakai topeng, kita merasa identitas asli kita aman di balik selimut, jadi kita merasa bebas mau melakukan apa saja.

Faktor pertama yang paling jelas adalah anonimitas. Di dunia nyata, kalau kamu maki-maki orang di tengah pasar, semua orang bakal tahu siapa kamu. Kamu punya reputasi yang harus dijaga. Tapi di dunia digital? Kamu bisa pakai username @pecinta_bakso_urat dan pasang foto profil anime. Rasa anonim ini bikin kita merasa nggak bakal ada konsekuensi sosial yang nyata. "Ah, dia kan nggak tahu gue siapa," begitu pikir kita dalam hati. Perasaan "tak terlihat" ini adalah bahan bakar utama keberanian yang sering kali salah tempat.

Nggak Lihat Muka, Nggak Ada Empati

Ada satu hal yang hilang saat kita berkomunikasi lewat teks: kontak mata. Manusia itu makhluk sosial yang sangat bergantung pada isyarat non-verbal. Pas kita ngobrol langsung dan kita mulai ngomong yang agak kasar, kita bisa lihat raut wajah lawan bicara yang berubah sedih, marah, atau kecewa. Refleks empati kita biasanya bakal langsung ngerem omongan itu.

Nah, di media sosial, kita cuma berhadapan dengan layar kaca yang dingin. Kita nggak lihat air mata orang yang kita rundung, kita nggak dengar getar suara mereka yang sakit hati. Karena nggak ada umpan balik emosional yang instan, otak kita gagal memproses bahwa di balik akun yang kita hujat itu ada manusia beneran yang punya perasaan. Akibatnya, ketikan kita jadi makin nggak terkontrol. Kita seolah-olah lagi main game, padahal yang kita serang adalah mental orang lain.

Sistem "Kirim Sekarang, Urusan Nanti"

Selain nggak lihat muka, ada juga faktor asinkronitas. Maksudnya, komunikasi di internet itu nggak selalu terjadi saat itu juga. Kamu bisa mengetik komentar pedas pukul 2 pagi, lalu tidur nyenyak. Kamu nggak perlu langsung menghadapi balasan atau reaksi orang tersebut saat itu juga. Ada jeda waktu yang bikin kita merasa aman.

Jeda ini juga sering kali bikin orang makin berani karena mereka punya waktu untuk menyusun "skenario" atau kata-kata yang paling menyakitkan tanpa perlu takut disanggah secara instan secara fisik. Kalau di dunia nyata, mau debat saja kadang sudah gemeteran duluan karena adrenalinya beda. Di media sosial? Sambil boker pun kita bisa merasa jadi filsuf paling benar sejagat raya.

Otoritas yang Hilang dan Hasrat Pengakuan

Di dunia nyata, kita dibatasi oleh hierarki. Kita mungkin nggak berani protes ke bos atau mengkritik pejabat secara langsung karena takut dipecat atau kena masalah hukum. Tapi di internet, semua orang terlihat sejajar. Seorang remaja di pelosok desa bisa langsung me-mention presiden atau artis papan atas dengan bahasa yang sangat kasar.

Ada kepuasan tersendiri saat kita merasa "berhasil" menjatuhkan atau menyerang orang yang punya posisi lebih tinggi. Apalagi kalau komentar pedas kita banyak yang kasih like atau didukung oleh netizen lain (echo chamber). Wah, rasanya kayak pahlawan kesiangan. Validasi dari orang asing di internet ini sering kali lebih memabukkan daripada teguran dari orang tua sendiri.

Harus Gimana Sekarang?

Jujur saja, susah buat menghilangkan fenomena ini sepenuhnya selama internet masih ada. Tapi, kita bisa mulai dari diri sendiri. Sebelum pencet tombol "kirim" atau "post," coba bayangkan kalau kata-kata itu diucapkan langsung ke muka orangnya. Kalau kamu merasa nggak berani atau merasa itu terlalu jahat untuk diucapkan langsung, ya mending nggak usah diketik.

Dunia sudah cukup berisik dengan segala masalahnya. Menjadi sedikit lebih manusiawi di kolom komentar nggak bakal bikin kita kelihatan lemah, kok. Justru, orang yang bisa menahan jempolnya saat emosi lagi di ubun-ubun adalah mereka yang punya kontrol diri paling keren. Jadi, besok-besok kalau mau "ngegas," tarik napas dulu, minum air putih, dan ingat: di balik layar sana, ada manusia yang juga bisa terluka sama seperti kamu.

Logo Radio
🔴 Radio Live