Pundak Terasa Berat Sebelah? Coba Lakukan Hal Ini Sekarang Juga
Refa - Thursday, 02 April 2026 | 07:00 AM


Kenapa Pundak Terasa Kaku Sebelah? Mungkin Kamu Kebanyakan Gaya (atau Beban)
Pernah nggak sih, pas lagi asyik-asyiknya menyeruput kopi di pagi hari atau lagi semangat-semangatnya membalas email kerjaan, tiba-tiba ada rasa cenat-cenut yang nggak sopan di area pundak? Anehnya lagi, rasa kaku dan pegal ini cuma muncul di satu sisi saja. Entah itu sebelah kanan doang atau kiri doang. Rasanya kayak pundak kita lagi ditempelin magnet raksasa yang narik otot sampai ke leher. Kalau sudah begini, biasanya jurus andalan kita adalah mengoleskan minyak kayu putih atau balsem aromaterapi yang baunya mirip toko jamu, sambil bergumam, "Duh, faktor usia nih kayaknya."
Eits, jangan buru-buru menyalahkan akta kelahiran atau bilang kalau ini murni gara-gara salah bantal. Memang sih, posisi tidur yang ajaib bisa bikin leher kaku, tapi kalau pegalnya konsisten di satu sisi dalam waktu yang lama, bisa jadi ada "tersangka" lain yang lebih sering kita abaikan. Coba deh, cek kembali gimana cara kamu membawa tas kerja atau kebiasaanmu saat menerima telepon di kantor. Bisa jadi, drama pundak kaku ini bermula dari hal-hal sepele yang kita anggap keren atau efisien, padahal aslinya bikin otot teriak minta tolong.
Tas Kerja: Sahabat Karir yang Diam-Diam Berkhianat
Mari kita bicarakan soal tas kerja. Bagi banyak orang, tas adalah identitas. Ada yang merasa lebih profesional kalau pakai tas laptop selempang (messenger bag), atau lebih kelihatan "skena" dan modis kalau pakai tote bag kulit yang muat segalanya—mulai dari laptop, charger, botol minum satu liter, sampai harapan masa depan. Masalahnya, tas-tas model satu tali ini adalah musuh utama keseimbangan tubuh.
Secara nggak sadar, saat kita menyampirkan tas yang berat di satu bahu, tubuh kita bakal melakukan kompensasi. Bahu yang keberatan beban itu otomatis akan naik sedikit untuk menjaga agar tali tas nggak merosot. Di sisi lain, tulang belakang kita bakal miring untuk menyeimbangkan beban tersebut. Bayangkan kamu melakukan posisi miring ini selama 30 menit perjalanan di KRL atau saat berjalan kaki dari parkiran ke meja kantor setiap hari. Otot trapezius kamu bakal bekerja keras bagai kuda, tegang terus tanpa henti. Hasilnya? Pundak kaku sebelah yang rasanya kayak lagi digantungi galon air mineral.
Solusinya sebenarnya sederhana tapi sering kita abaikan karena alasan estetika: pakai ransel alias backpack. Tapi kalau kamu tetap teguh pendirian pengen pakai tote bag demi penampilan, minimal rajin-rajinlah pindah posisi. Jangan biarkan bahu kananmu menderita sendirian sementara bahu kirimu pengangguran. Berbagi beban itu perlu, bukan cuma dalam hubungan, tapi juga dalam urusan bawa tas.
Aksi Akrobatik Menjepit Telepon: Multitasking yang Berujung Petaka
Pernah merasa bangga karena bisa mengetik laporan sambil ngobrol di telepon tanpa memegang gagangnya? Kamu menjepit ponsel di antara telinga dan bahu, lalu lehermu miring sekitar 45 derajat dalam waktu yang lama. Wah, selamat! Kamu baru saja melakukan "penyiksaan" terencana pada otot leher dan pundakmu sendiri. Di dunia medis, kebiasaan ini sering banget jadi pemicu ketegangan otot akut.
Saat kamu menjepit telepon dengan bahu, otot-otot di satu sisi leher akan memendek dan berkontraksi dengan sangat kuat, sementara otot di sisi lainnya tertarik maksimal. Kalau ini jadi kebiasaan, jangan heran kalau suatu saat kamu merasa lehermu "terkunci" atau ada sensasi tajam saat menoleh. Di zaman serba canggih ini, kita punya yang namanya earphone, headset, atau sekadar fitur speakerphone. Pakailah itu. Jangan biarkan lehermu melakukan aksi akrobatik yang nggak ada gunanya selain bikin kamu bolak-balik ke tukang pijat atau fisioterapi.
Posisi Duduk dan "The Dominant Side"
Selain soal tas dan telepon, coba perhatikan gimana posisi dudukmu di depan komputer. Banyak dari kita yang punya kecenderungan miring ke satu sisi. Mungkin karena posisi mouse yang terlalu jauh ke kanan, atau kamu punya kebiasaan menopang dagu dengan satu tangan sambil melamunkan cicilan. Hal-hal kecil kayak gini kalau dilakukan berjam-jam bakal bikin otot pundak jadi nggak simetris kondisinya.
Ada juga faktor "sisi dominan". Orang yang terbiasa menggunakan tangan kanan (kidal kanan) biasanya punya otot bahu kanan yang lebih tegang karena lebih sering digunakan untuk segala hal. Ditambah lagi kalau meja kerjamu nggak ergonomis. Kadang kita nggak sadar kalau monitor kita nggak lurus di depan mata, tapi agak serong ke kiri atau kanan. Leher yang terus-menerus menoleh sedikit ke satu arah adalah resep mujarab untuk menciptakan pundak kaku yang awet.
Gimana Caranya Biar Nggak Jadi "Kaum Jompo" Prematur?
Kalau pundak sudah terlanjur kaku sebelah, jangan cuma dipasrahkan pada nasib. Kamu bisa mulai melakukan peregangan ringan alias stretching. Nggak perlu yang ribet sampai harus yoga di tengah kantor. Cukup lakukan gerakan memutar bahu ke depan dan belakang secara perlahan. Atau coba gerakan "ear to shoulder"—dekatkan telinga ke bahu secara bergantian untuk meregangkan otot leher samping. Tapi ingat, gerakannya harus pelan dan lembut, jangan disentak kayak lagi dengerin lagu metal.
Selain itu, kompres hangat bisa jadi penyelamat di kala darurat. Suhu hangat membantu aliran darah lebih lancar dan membuat otot yang tadinya tegang jadi lebih rileks. Dan yang paling penting, sadar diri. Setiap 30 atau 60 menit sekali, cobalah berdiri dari kursi, jalan-jalan sebentar, dan cek apakah posisimu sudah tegak atau malah sudah meliuk-liuk kayak huruf S.
Kesimpulannya, pundak kaku sebelah itu biasanya bukan serangan gaib atau tanda-tanda penuaan dini yang nggak bisa dihindari. Itu adalah sinyal dari tubuh kalau ada yang salah dengan cara kita memperlakukan diri sendiri sehari-hari. Mulailah lebih peduli sama beban yang kamu bawa dan posisi tubuhmu saat bekerja. Jangan sampai gaya hidup "hustle culture" kamu malah berakhir di meja operasi atau terapi berkepanjangan. Sehat itu mahal, tapi memperbaiki posisi tas itu gratis, kan? Yuk, mulai lebih sayang sama pundak sendiri, biar bisa tetap produktif tanpa harus sering-sering meringis kesakitan.
Next News

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
4 hours ago

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
9 hours ago

Penyelamat Nasi Putih: Bagaimana Sambal Menjadi Simbol Kemewahan Paling Murah di Indonesia
in 2 hours

Kenapa Radang Tenggorokan Lebih Sering Menyerang Anak-Anak Daripada Orang Dewasa?
10 hours ago

Lebih dari Sekadar "Jamet": Membedah Filosofi di Balik Gaya Rambut Sasuke dan Subkultur Emo
2 days ago

Jangan Kaget Dulu! Membedah Kenapa "Jancok" Jadi Bahasa Cinta Arek Suroboyo
2 days ago

Tren Jorts dan Baggy Jeans 2026: Alasan Mengapa Celana Lebar Lebih Disukai daripada Skinny Jeans
3 days ago

Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital
3 days ago

Bukan Sekadar Mendayu, Ini Alasan Politis di Balik Vibe Melayu pada Lagu Nasional Indonesia
6 days ago

Bukan Sekadar Lomba 17-an, Egrang adalah "Life Lesson" Tentang Keseimbangan dan Ego
7 days ago






