PBNU Bergolak? Gus Ipul Tegaskan Jangan Terpancing.
Elsa - Saturday, 22 November 2025 | 01:30 PM


Kabar mengenai dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini memang cukup santer terdengar. Layaknya riak air di danau yang tenang, bisik-bisik soal "gejolak" di organisasi Islam terbesar di Indonesia ini sukses membuat sebagian Nahdliyin bertanya-tanya, bahkan mungkin sedikit panik. Di tengah suasana yang mulai sedikit menghangat ini, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, tampil ke muka. Dengan suara yang menenangkan namun tegas, ia menyerukan satu hal penting: tetap tenang dan jangan terpancing.
Gus Ipul bukan orang baru di kancah perpolitikan dan organisasi keagamaan di Tanah Air. Dengan segudang pengalaman, ucapannya selalu memiliki bobot tersendiri. Kali ini, ia meminta semua pihak, khususnya para Nahdliyin, untuk tidak ikut-ikutan membuat spekulasi liar atau malah menjadi kompor yang bisa memperkeruh suasana. Pesannya jelas dan lugas: tunggu informasi resmi. Dan siapa yang akan mengeluarkan informasi resmi itu? Tak lain dan tak bukan adalah Syuriah PBNU, dewan tertinggi yang menjadi nahkoda spiritual dan penentu arah organisasi.
Mari kita sedikit mundur ke belakang. PBNU, dengan jutaan anggota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, adalah sebuah entitas raksasa. Wajar saja jika di dalamnya ada berbagai macam pemikiran, aspirasi, dan tentu saja, dinamika. Ibarat sebuah keluarga besar, perbedaan pendapat itu lumrah adanya. Namun, yang membedakan adalah bagaimana perbedaan itu disikapi dan diselesaikan. Nah, di sinilah peran Gus Ipul dan Syuriah PBNU menjadi krusial. Mereka bertindak sebagai penenang dan penjamin bahwa setiap masalah akan diselesaikan sesuai koridor organisasi dan nilai-nilai luhur Nahdlatul Ulama.
Gejolak internal itu seperti penyakit demam di tubuh kita. Kadang terasa panas, kadang bikin pusing, tapi kalau ditangani dengan benar dan tidak panik, pasti bisa sembuh. Yang bahaya adalah kalau demam itu malah dibiarkan atau diobati dengan cara yang salah, bisa-bisa malah menjalar ke mana-mana. Demikian pula yang dikhawatirkan Gus Ipul. Di era digital ini, informasi—baik yang valid maupun hoaks—menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering. Satu cuitan, satu postingan di media sosial, bisa memicu kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan. Gus Ipul paham betul potensi ini, makanya ia buru-buru mengingatkan agar semua menjaga diri dan tidak ikut-ikutan main tebak-tebakan.
Mengapa harus Syuriah? Ini bukan soal birokrasi semata. Syuriah adalah jantung spiritual PBNU. Mereka adalah para kiai sepuh, ulama-ulama kharismatik yang ilmunya mumpuni, pandangannya jernih, dan kebijaksanaannya tak diragukan lagi. Keputusan yang diambil oleh Syuriah bukan hanya berdasarkan pertimbangan organisasi, tapi juga melibatkan dimensi spiritual dan kemaslahatan umat yang lebih luas. Menunggu informasi dari Syuriah berarti menunjukkan penghormatan pada tradisi, hierarki, dan wibawa para ulama. Ini juga merupakan bentuk kematangan berorganisasi, di mana setiap persoalan diserahkan kepada ahlinya dan diputuskan dengan musyawarah yang mendalam.
Bagi Nahdliyin, seruan Gus Ipul ini patut menjadi pegangan. Di tengah gempuran informasi yang simpang siur, penting sekali untuk memiliki filter. Jangan mudah termakan isu, apalagi ikut menyebarkannya. Ingat, ukhuwah Nahdliyah adalah harga mati. Persatuan di internal NU adalah pondasi utama untuk menjaga keutuhan bangsa. Jika di internal sendiri sudah gaduh, bagaimana bisa NU berperan aktif menjaga kedamaian dan kerukunan di level nasional? Oleh karena itu, Gus Ipul dengan bijak meminta agar semua Nahdliyin, dari tingkat ranting hingga pusat, tetap menjaga suasana kondusif.
Pesan ini sejatinya tidak hanya berlaku untuk Nahdliyin, tapi juga untuk seluruh elemen masyarakat. NU adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap sosial-politik Indonesia. Kestabilan NU seringkali berkorelasi dengan kestabilan nasional. Maka, ketika ada riak di dalamnya, perhatian publik pasti tertuju. Adalah tugas kita bersama untuk tidak memperkeruh suasana, melainkan menunggu keputusan resmi dari pihak yang berwenang. Ini bukan berarti kita harus pasif, tapi lebih ke arah aktif dalam menjaga kedamaian dan menghindari polarisasi yang tidak perlu.
Sejarah panjang Nahdlatul Ulama telah membuktikan bahwa organisasi ini selalu mampu melewati badai. Dari masa penjajahan, pergolakan politik pasca-kemerdekaan, hingga tantangan modernisasi dan globalisasi, NU selalu berdiri tegak. Ini semua berkat soliditas anggotanya, bimbingan para ulama, dan komitmen kuat pada nilai-nilai keislaman moderat yang ramah. Maka, gejolak internal yang terjadi saat ini, seberapa pun besarnya, diyakini akan dapat diselesaikan dengan baik, asalkan semua pihak menahan diri dan mengikuti arahan para pemimpin. Ibarat perahu yang sedang diguncang ombak, yang penting nakhoda tetap tenang dan semua penumpang tetap kompak.
Penting untuk dicatat bahwa proses-proses internal semacam ini, meski terkadang menimbulkan sedikit kegaduhan di permukaan, sejatinya merupakan bagian dari pendewasaan organisasi. Sebuah organisasi yang hidup pasti punya dinamika. Yang mati itu yang tidak ada dinamikanya. Dan NU, jelas-jelas adalah organisasi yang sangat hidup dan relevan hingga hari ini. Oleh karena itu, mari kita berikan ruang bagi Syuriah untuk bekerja, untuk bermusyawarah, dan untuk menemukan solusi terbaik. Sikap tawadhu' (rendah hati) dan tasamuh (toleransi) yang selalu diajarkan di lingkungan NU harus menjadi panduan dalam menyikapi situasi ini.
Jadi, pesan Gus Ipul ini bukan sekadar imbauan biasa. Ini adalah pengingat penting tentang bagaimana seharusnya sebuah organisasi besar dan anggotanya menyikapi sebuah persoalan. Jangan panik, jangan gegabah, dan jangan ikut-ikutan jadi provokator. Simpan energi kita untuk hal-hal yang lebih produktif. Percayakan pada para kiai, percayakan pada Syuriah. Mereka punya kebijaksanaan dan pengalaman untuk membawa kapal besar NU ini kembali berlayar dengan tenang menuju dermaga tujuan. Mari kita doakan semoga badai segera berlalu, dan PBNU senantiasa kokoh dan jaya. Kepala dingin, hati lapang, dan mata tertuju pada informasi resmi, itu kuncinya.
Sumber Foto: Sekjen PBNU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. (CNN Indonesia).
Next News

Lebih dari Botol: Tumbler Simbol Generasi Z
2 days ago

Musim Hujan di Surabaya: Saatnya Berburu Kuliner Nikmat!
4 days ago

UMP UMK Surabaya: Tantangan Besar di Kota Pahlawan
5 days ago

Ramalan Cuaca Jatim: Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang!
5 days ago

Jawa Timur: Surga Tersembunyi Berdetak Api
6 days ago

Waspada! Longsor Tutup Jalur Pacet-Cangar Mojokerto-Batu
6 days ago

Bekal Wajib Randy Martin di Lokasi Syuting "Beri Cinta Waktu": iPad, Mi Instan, dan Rahasia Tetap Waras!
8 days ago

Madura: Lebih dari Perantau Ulung dan Keras?
8 days ago

Indonesia dan Thailand Bakal Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026: Ngeri-ngeri Sedap Nih!
8 days ago

FC Barcelona Femení: Ketika Sepak Bola Indah Bukan Cuma Milik Kaum AdamFC Barcelona Femení: Ketika Sepak Bola Indah Bukan Cuma Milik Kaum Adam
9 days ago





