Ceritra
Ceritra Kota

UMP UMK Surabaya: Tantangan Besar di Kota Pahlawan

Nuryadi - Tuesday, 25 November 2025 | 03:10 PM

Background
UMP UMK Surabaya: Tantangan Besar di Kota Pahlawan

Balada UMP/UMK Surabaya: Ketika Eri Cahyadi Berjuang Mencari Jalan Tengah, Antara Dompet Pekerja dan Senyum Investor

Surabaya. Kota pahlawan yang nggak pernah tidur, selalu punya denyut nadi yang kencang. Baik itu dari hiruk pikuk pasar tradisional, gemerlap mal, sampai deru mesin di pabrik-pabrik. Tapi, di balik semua keriuhan itu, setiap akhir tahun ada satu topik yang selalu bikin kepala banyak orang pusing tujuh keliling: kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota (UMK). Ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi ini adalah urat nadi ekonomi, harapan banyak keluarga, dan tantangan besar bagi para pengusaha.

Dan di tengah pusaran dilema klasik ini, ada satu nahkoda yang harus bisa menavigasi kapal besar bernama Surabaya: Bapak Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya. Beliau paham betul, bahwa kenaikan UMP dan UMK itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah angin segar bagi para pekerja yang berharap kantongnya lebih tebal biar bisa nutupin cicilan rumah, biaya sekolah anak, atau sekadar buat nambah tabungan impian. Apalagi, dengan harga kebutuhan pokok yang kian melambung, siapa sih yang nggak pengen gaji naik?

Tapi, di sisi lain, bagi dunia usaha, terutama yang skalanya belum segede raksasa, kenaikan UMK itu bisa jadi PR besar. Kenaikan gaji berarti peningkatan biaya operasional yang nggak main-main. Nah, di sinilah letak dilemanya: bagaimana caranya biar pekerja sejahtera, tapi investor juga nggak jadi mikir-mikir lagi buat nanam modal di Surabaya? Itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi Pak Eri tampaknya punya resep rahasia untuk menemukan "win-win solution" yang diidam-idamkan banyak pihak.

Merajut Keseimbangan: Bukan Sulap, Bukan Sihir

Kita semua tahu lah, mencari titik temu antara keinginan pekerja dan kemampuan pengusaha itu bukan perkara gampang. Ibaratnya, pekerja pengen langit, pengusaha pengen bumi. Tapi, Pak Eri Cahyadi, dengan gaya khasnya yang komunikatif, rupanya nggak mau ambil pusing sendiri. Ia memilih jalur musyawarah, duduk bareng dengan pihak-pihak terkait. Ini bukan cuma ajang ngopi-ngopi biasa, lho. Pemerintah Kota Surabaya sudah gercep banget ngajak Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan perwakilan serikat pekerja untuk diskusi maraton.

Tujuannya satu: mencari tahu apa sih maunya masing-masing, apa kendalanya, dan bagaimana caranya biar semua pihak bisa senyum, meskipun mungkin nggak selebar-lebarnya. Ini bukan sulap bukan sihir, tapi butuh empati, data yang valid, dan kemauan untuk berkompromi. Pak Eri menekankan pentingnya menjaga iklim investasi. Kenapa? Karena investasi itu ibarat bahan bakar. Kalau investor pada kabur atau mikir ulang, maka roda ekonomi bisa melambat, lapangan kerja jadi nggak bertambah, bahkan bisa-bisa malah berkurang.

Fokus Pak Eri nggak cuma ke perusahaan-perusahaan besar. Beliau sangat peduli sama nasib Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Surabaya. Kita tahu kan, UMKM itu tulang punggung ekonomi kota. Warung kopi di pojok jalan, toko baju online yang dikelola ibu rumah tangga, sampai bengkel motor kecil; mereka semua adalah UMKM. Kalau iklim investasi nggak kondusif, UMKM ini yang paling pertama merasakan dampaknya. Mereka mungkin kesulitan kalau harus menanggung kenaikan upah yang signifikan, padahal margin keuntungan mereka seringkali tipis banget.

UMKM: Jantung Kota yang Harus Dijaga

Bayangkan saja, sebuah UMKM baru merintis usahanya, udah jungkir balik cari modal, ngurus perizinan, bersaing di pasar yang ketat. Eh, tiba-tiba harus menghadapi kenaikan biaya operasional yang lumayan bikin sesak napas. Tentu saja, ini bisa jadi cobaan berat. Makanya, Pak Eri Cahadi nggak mau gegabah. Ia ingin memastikan bahwa keputusan UMK nanti tidak hanya melindungi hak-hak pekerja, tapi juga memberikan ruang bernapas bagi UMKM untuk terus tumbuh dan berkembang. Ini bukan sekadar soal angka, tapi soal keberlangsungan hidup ribuan usaha kecil yang menopang keluarga-keluarga di Surabaya.

Pemkot Surabaya, di bawah komando Pak Eri, punya PR besar untuk menerjemahkan aturan itu ke dalam konteks lokal yang lebih spesifik, dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan sosial kota ini.

Kita semua tentu berharap, keputusan UMK Surabaya nanti bisa jadi kabar baik bagi semua pihak. Para pekerja bisa mendapatkan upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Di sisi lain, para pengusaha, baik yang skala besar maupun UMKM, juga bisa melanjutkan usahanya tanpa harus khawatir terjerembap ke dalam jurang kerugian. Mereka bisa terus berinovasi, menciptakan lapangan kerja baru, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kota.

Masa Depan Surabaya di Tangan Kita Bersama

Ini bukan hanya tanggung jawab Wali Kota atau Pemkot saja, lho. Ini adalah tantangan bersama kita sebagai warga Surabaya. Bagaimana kita mendukung produk lokal, bagaimana kita menciptakan ekosistem yang kondusif bagi bisnis, dan bagaimana kita semua bisa berkontribusi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Keputusan UMK memang selalu menjadi momen krusial yang ditunggu-tunggu, dan wajar jika ada banyak harapan dan juga kekhawatiran yang menyertainya.

Tapi, dengan semangat kolaborasi yang digagas Pak Eri Cahyadi, kita patut optimis. Surabaya punya potensi besar, punya semangat juang yang tinggi, dan punya pemimpin yang berkomitmen untuk mencari solusi terbaik. Semoga "win-win solution" yang diimpikan benar-benar bisa terwujud, sehingga kesejahteraan pekerja meningkat, investasi tetap mengalir deras, dan Surabaya bisa terus melaju sebagai kota yang maju, sejahtera, dan penuh harapan bagi warganya. Mari kita nantikan bersama pengumuman UMK Surabaya, semoga menjadi kabar baik yang membawa senyum di wajah kita semua!


Sumber Foto : Suarasurabaya.net

Logo Radio
🔴 Radio Live