Ceritra
Ceritra Kota

Jawa Timur: Surga Tersembunyi Berdetak Api

Nuryadi - Monday, 24 November 2025 | 07:10 PM

Background
Jawa Timur: Surga Tersembunyi Berdetak Api

Jawa Timur itu memang punya paket komplit. Mau pantai yang eksotis? Ada. Mau air terjun yang bikin mata adem? Melimpah. Mau kota-kota dengan sejarah panjang dan kuliner juara? Bejibun. Tapi, di balik semua keindahan yang bikin kita geleng-geleng kepala saking kerennya, Jawa Timur juga punya "paket komplit" lain yang bikin kita bergidik sekaligus kagum: deretan gunung berapi aktif.

Nama Semeru, tentu saja, langsung terlintas di benak banyak orang. Apalagi setelah rentetan erupsi eksplosifnya beberapa waktu terakhir, yang nggak cuma bikin merinding, tapi juga menyisakan duka mendalam bagi warga di sekitarnya. Lah, wong awan panas guguran (APG) dan muntahan materialnya itu lho, bikin kita mikir ulang soal betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam. Semeru memang sangar, ia adalah "anak bandel" di antara para raksasa yang kadang kalem, kadang juga mendadak murka. Tapi, jangan salah, Semeru itu ibarat satu dari beberapa personel band rock yang masing-masing punya potensi bikin panggung ambruk. Artinya, di Jawa Timur, gunung yang berpotensi "batuk-batuk" atau bahkan meledak itu bukan cuma Semeru doang, lho!

Jawa Timur, secara geografis, memang berada di jalur Cincin Api Pasifik. Ini semacam "jalur bebas hambatan" bagi gunung-gunung berapi di seluruh dunia untuk pamer kegagahan. Jadi, wajar kalau di sini bertebaran puluhan gunung, dan beberapa di antaranya statusnya masih aktif, siap-siap sewaktu-waktu menunjukkan 'jati diri' aslinya. Mari kita kulik, siapa saja "saudara-saudara" Semeru yang juga wajib kita pantau dan hormati, tapi kadang juga bikin kita deg-degan?

Bromo: Sang Ikon yang Kadang Ngeselin

Siapa yang nggak kenal Bromo? Gunung ini ibarat duta wisata Jawa Timur. Pemandangan matahari terbitnya yang legendaris, lautan pasirnya yang eksotis, dan kawahnya yang selalu mengepulkan asap belerang tipis, bikin Bromo jadi destinasi wajib para pelancong. Setiap tahun, upacara Yadnya Kasada Suku Tengger selalu jadi tontonan yang menarik, menunjukkan harmoni antara manusia dan gunung.

Tapi, jangan tertipu dengan parasnya yang menawan. Bromo itu ibarat teman yang kalem tapi kadang suka ngagetin. Erupsi Bromo memang jarang seeksplosif Semeru. Ia lebih sering "batuk-batuk" dengan letusan freatik atau strombolian kecil, yang cuma mengeluarkan abu tipis atau pasir. Namun, letusan semacam ini tetap punya potensi mengganggu penerbangan, kesehatan pernapasan, dan tentu saja, aktivitas wisata. Pernah beberapa kali, Bromo "ngambek" dan bikin bandara di Jawa Timur harus tutup karena sebaran abunya. Jadi, meskipun nggak meledak-ledak kayak Semeru, Bromo tetap harus diwaspadai. Dia punya cara sendiri untuk mengingatkan kita bahwa dia adalah gunung berapi aktif, bukan cuma objek foto Instagram semata.

Ijen: Api Biru yang Menyimpan Bahaya

Geser sedikit ke timur, ada Kawah Ijen. Ini juga ikon, tapi dengan daya tarik yang sedikit berbeda: api birunya yang fenomenal di malam hari, dan danau kawahnya yang berwarna toska menawan. Para penambang belerang yang hilir mudik memikul beban berat di lerengnya adalah pemandangan yang bikin kita merenung.

Kawah Ijen ini, meski nggak punya sejarah erupsi eksplosif besar seperti Semeru atau Kelud, justru punya ancaman laten yang nggak kalah mengerikan: gas beracun. Danau kawahnya adalah salah satu danau paling asam di dunia, dan uap belerang yang keluar dari rekahan-rekahan di sekitar kawah mengandung gas sulfur dioksida (SO2) yang sangat pekat dan berbahaya. Erupsi di Ijen lebih sering berupa letusan gas atau freatik yang tiba-tiba, yang bisa memuntahkan gas beracun dalam jumlah besar. Insiden keracunan gas pernah terjadi dan memakan korban. Jadi, kalau ke Ijen, jangan cuma mikir foto-foto api biru yang keren doang ya, bro dan sis. Patuhi aturan, pakai masker, dan selalu waspada. Keindahan Ijen itu ibarat pedang bermata dua: memukau sekaligus mematikan.

Kelud: Si Temperamen yang Langganan Bikin Kaget

Kalau ada gunung di Jawa Timur yang punya reputasi "temperamental" dan doyan bikin kejutan besar, dia adalah Kelud. Gunung yang berada di perbatasan Kediri dan Blitar ini punya sejarah erupsi yang dahsyat dan berulang. Ingat erupsi tahun 2014? Abunya sampai menutupi sebagian besar Jawa, bahkan sampai ke Jawa Barat. Bandara tutup, kota-kota gelap gulita diselimuti abu, dan aktivitas lumpuh total. Itu cuma erupsi terbaru, lho. Sebelumnya, Kelud juga pernah meletus hebat di tahun 1990, 1966, dan 1919.

Kelud ini tipe gunung yang kalau ngamuk, dia nggak nanggung-nanggung. Erupsinya seringkali bersifat eksplosif, memuntahkan material pijar, abu, dan kerikil dalam jumlah besar. Bahaya lain dari Kelud adalah ancaman lahar dingin pasca-erupsi, mengingat di kawahnya sempat ada danau yang bisa memicu lahar dahsyat. Meskipun sekarang kawahnya sudah kering pasca-erupsi 2014, potensi erupsi eksplosif tetap menjadi perhatian utama. Jadi, kalau Semeru dijuluki "Mahameru", mungkin Kelud bisa dijuluki "Si Pembikin Kaget Nasional". Dia itu ibarat bom waktu yang punya interval letusan cukup rutin.

Raung: Si Pendiam yang Kadang Beringas

Di ujung timur Jawa, membentang gagah Gunung Raung. Raung ini seringkali terlihat pendiam, puncaknya diselimuti kabut, dan hanya sesekali terlihat asap tipis mengepul. Tapi, jangan salah, Raung ini juga punya catatan erupsi yang nggak kalah bikin was-was. Erupsi Raung seringkali berupa letusan strombolian atau vulkanian yang relatif kecil, tapi kadang juga bisa eksplosif.

Yang unik dari Raung adalah kawahnya yang sangat dalam dan luas, sering disebut kaldera, dan aktivitas di dalamnya bisa jadi penanda awal erupsi. Ketika Raung mulai "batuk", ia bisa mengeluarkan abu vulkanik yang cukup tinggi dan mengganggu penerbangan. Pernah beberapa kali, penerbangan ke Bali harus dibatalkan karena abu Raung yang beterbangan. Dia ibarat harimau yang kadang terlihat malas, tapi kalau sekali mengaum, suaranya bisa sampai jauh. Raung memang jarang jadi sorotan utama media massa seperti Semeru atau Kelud, tapi potensi ancamannya, terutama bagi sektor transportasi udara, nggak bisa dipandang sebelah mata.

Arjuno-Welirang: Kompleks Gunung Kembar yang Tetap Aktif

Terakhir, ada kompleks Gunung Arjuno-Welirang. Ini bukan cuma satu gunung, tapi dua puncak kembar yang saling berdekatan. Keduanya adalah stratovolcano yang punya beberapa kawah aktif dan fumarol (lubang uap) yang terus-menerus mengeluarkan gas. Meskipun belum ada catatan erupsi eksplosif besar dalam sejarah modern, aktivitas solfatara dan fumarolnya menunjukkan bahwa mereka masih "hidup" dan aktif.

Potensi erupsi dari Arjuno-Welirang lebih cenderung ke letusan freatik atau erupsi vulkanik kecil, yang mengeluarkan abu dan material piroklastik ringan. Ancaman utamanya mungkin bukan pada ledakan besar, melainkan pada emisi gas beracun yang bisa berbahaya bagi pendaki atau warga yang beraktivitas terlalu dekat dengan kawah. Jadi, meskipun terlihat tenang dan sering jadi jalur favorit para pendaki, Arjuno-Welirang tetap masuk daftar gunung berapi yang perlu diwaspadai di Jawa Timur.

Hidup Berdampingan dengan Para Raksasa

Melihat daftar ini, kita jadi sadar betul, Jawa Timur itu memang "etalase" gunung berapi aktif. Keindahan alamnya yang memukau selalu datang sepaket dengan ancaman potensi bencana. Ini adalah konsekuensi dari posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan lempeng tektonik, yang terus bergerak dan memicu aktivitas vulkanik. Kita hidup di atas tanah yang subur, berkat abu vulkanik yang kaya mineral, tapi juga hidup di bawah bayang-bayang keganasan alam.

Para ilmuwan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tak pernah lelah memantau aktivitas gunung-gunung ini, dengan alat-alat canggih dan analisis data yang mendalam. Peringatan dini, sosialisasi, dan edukasi mitigasi bencana menjadi sangat vital. Tapi, di luar itu, kearifan lokal masyarakat yang hidup di lereng-lereng gunung ini juga nggak kalah penting. Mereka sudah turun-temurun hidup berdampingan, mengerti tanda-tanda alam, dan punya cara sendiri untuk menghormati "penghuni" gunung.

Intinya, Semeru memang sangar, tapi dia tidak sendirian. Ada banyak "saudara"nya di Jawa Timur yang juga punya potensi untuk menunjukkan keganasannya sewaktu-waktu. Tugas kita? Menghormati alam, tidak meremehkan kekuatannya, terus belajar, dan selalu siap sedia. Karena sejatinya, kita hanya menumpang di bumi ini, dan para raksasa gunung itu adalah pemilik aslinya yang kadang hanya ingin mengingatkan bahwa mereka ada.

Logo Radio
🔴 Radio Live