Nostalgia! 3 Jajanan Sekolah di Lumajang yang Bikin Kangen Masa Kecil
Nisrina - Monday, 15 December 2025 | 01:16 PM


Masa kecil adalah lembaran cerita yang paling indah untuk dibaca ulang, dan sering kali, "pembatas buku" dari cerita tersebut adalah rasa makanan. Bagi Anda yang tumbuh besar di Lumajang, memori tentang masa sekolah dasar (SD) pasti tidak lepas dari suara bel istirahat yang nyaring, debu kapur tulis, dan tentu saja, serbuan murid-murid ke pedagang jajanan di depan gerbang sekolah.
Di balik kesederhanaan gerobak dan pikulan para penjual, tersimpan cita rasa otentik yang mungkin sulit ditemukan tandingannya di restoran mewah sekalipun. Jajanan-jajanan ini bukan sekadar pengganjal perut saat jam istirahat, melainkan saksi bisu tawa, persahabatan, dan sisa uang saku yang dihitung cermat. Mari sejenak memutar waktu dan bernostalgia dengan tiga jajanan legendaris khas sekolah di Lumajang yang selalu sukses membuat rindu.
1. Kerupuk Pecel

Foto: Instagram @sambelpecel_mbahkaji
Jika ada satu jajanan yang memegang takhta tertinggi di hati anak SD Lumajang, itu adalah Kerupuk Pecel atau sering disebut juga Kerupuk Puli Siram. Ini adalah definisi kebahagiaan yang murah meriah.
Bayangkan tekstur kerupuk puli (terbuat dari beras/tepung) atau kerupuk pasir yang renyah dan gurih, disajikan di atas kertas minyak atau daun pisang, lalu disiram dengan bumbu pecel yang encer. Kunci kenikmatannya ada pada bumbu pecelnya yang khas Lumajangan, perpaduan kacang, gula merah, sedikit kencur, dan cabai yang pedas-manis. Sering kali, penjual menambahkan sedikit mie kuning atau sayuran rebus (seperti tauge atau kangkung) sebagai pelengkap.
Sensasi memakannya pun penuh seni; harus cepat agar kerupuk tidak menjadi lembek (mlempem) terkena kuah, namun tetap hati-hati agar bumbu tidak menetes ke seragam putih merah. Rasa gurih kerupuk yang bertemu dengan pedasnya bumbu adalah kombinasi sederhana yang selalu bikin nagih.
2. Kue Latok

Foto: Perpusatakaan Digital Budaya Indonesia
Di tengah gempuran jajanan kemasan modern, Kue Latok tetap memiliki tempat istimewa. Jajanan pasar tradisional ini sering dijual oleh nenek-nenek (mbah-mbah) di sekitar area sekolah dengan wadah tompo (keranjang bambu).
Kue Latok memiliki visual yang memikat mata anak-anak dengan warnanya yang mencolok, biasanya merah menyala dan hijau. Terbuat dari tepung kanji, kue ini memiliki tekstur yang sangat kenyal dan chewy. Cara penyajiannya yang klasik adalah kunci nostalgianya: kue dipotong-potong atau ditarik, ditaburi parutan kelapa muda yang gurih, lalu disiram dengan cairan gula merah yang kental dan manis.
Perpaduan tekstur kenyal yang melawan saat digigit, gurihnya kelapa, dan manis legitnya gula merah menciptakan harmoni rasa yang menenangkan. Bagi banyak orang Lumajang, Kue Latok adalah rasa "rumah" yang sesungguhnya.
3. Pencit Colet Petis

Foto: Lemon8 @izzhu2
Lumajang, sebagai bagian dari wilayah "Tapal Kuda" Jawa Timur, memiliki kultur petis yang kuat, bahkan sejak dini. Jajanan Pencit (Mangga Muda) Colet Petis adalah favorit para siswa, terutama di siang hari yang terik.
Konsepnya sangat sederhana: buah mangga muda, bengkoang, atau timun diiris tipis, lalu "dicoletkan" atau dicocol ke dalam bumbu petis hitam yang kental. Petis yang digunakan biasanya adalah petis Madura atau petis ikan yang memiliki aroma tajam nan sedap, dicampur dengan cabai rawit ulek dan sedikit garam.
Rasa asam (kecut) dari mangga muda yang beradu dengan rasa gurih, asin, dan pedas menyengat dari petis menciptakan sensasi segar yang seketika membuat mata melek. Jajanan ini sering kali dinikmati beramai-ramai, diiringi desis kepedasan dan tawa melihat ekspresi teman yang menahan rasa asam.
Mencicipi kembali ketiga jajanan ini saat Anda berkunjung ke Lumajang bukan hanya sekadar urusan memuaskan lidah. Itu adalah cara sederhana untuk merayakan kenangan, menghargai masa lalu, dan menyadari bahwa kebahagiaan masa kecil sering kali berasal dari hal-hal yang paling sederhana. Selamat bernostalgia!
Next News

Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
15 hours ago

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
16 hours ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
15 hours ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago





