Musim Hujan Tiba: Bahaya Longsor Hantui Jawa Timur
Nuryadi - Friday, 05 December 2025 | 01:25 PM


Jawa Timur yang Cantik, tapi Sembunyikan Bahaya: Mengintip Titik-titik Rawan Longsor yang Bikin Merinding
Jawa Timur, siapa yang tak kenal pesonanya? Dari deretan pantai selatan yang memukau sampai puncak-puncak gunung yang menawan, provinsi ini memang punya paket lengkap untuk memanjakan mata dan jiwa. Hamparan hijaunya perkebunan, lautan pasir Bromo yang magis, atau hiruk pikuk kota-kota besarnya yang tak pernah tidur. Rasanya, semua ada di sini. Tapi, seperti layaknya primadona, ada sisi lain yang mungkin nggak banyak orang tahu, atau pura-pura nggak tahu: ancaman longsor yang setiap musim hujan datang, seolah jadi momok tak terhindarkan. Bukan cuma bikin deg-degan, tapi juga bikin ngeri dan sering kali memakan korban. Mari kita coba telusuri, di mana saja sih 'titik-titik panas' longsor di Jawa Timur ini? Dan kenapa kok bisa sampai separah itu?
Ketika Alam Pun Berbicara: Kenapa Jawa Timur "Berbakat" Longsor?
Gini lho, kalau dipikir-pikir, Jawa Timur itu secara geografis memang punya 'bakat' buat longsor. Bentangan pegunungan yang membujur, mulai dari deretan Pegunungan Selatan yang membentang dari Pacitan sampai Banyuwangi, sampai gugusan gunung api yang menjulang gagah perkasa. Daerah ini diberkahi dengan tanah yang subur, tapi di sisi lain juga menyisakan potensi bahaya. Ditambah lagi, tanah di beberapa wilayah itu memang punya tekstur labil, apalagi kalau udah 'minum' air hujan berlebihan. Ibaratnya, tanahnya itu kayak adonan kue yang kemarau kering kerontang, tapi begitu kena air dikit, langsung lembek dan gampang ambyar.
Nah, kalau udah gitu, siapa yang nggak was-was? Apalagi di musim hujan yang sekarang ini, intensitasnya makin nggak karuan, kadang sehari hujan deres kayak ditumpahin dari langit, besoknya panas terik. Pola cuaca yang 'nggak jelas' ini juga ikut andil, bikin tanah makin stres. Bayangkan saja, tanah yang tadinya kering kerontang, tiba-tiba diguyur hujan berjam-jam tanpa henti. Air meresap, membuat ikatan antar partikel tanah melonggar, dan pada akhirnya, gravitasi melakukan tugasnya. Bruuukk! Longsor pun tak terelakkan. Ini belum lagi bicara soal ulah tangan manusia, seperti deforestasi alias penebangan pohon secara membabi buta, atau pembangunan yang nggak memperhatikan kaidah konservasi lingkungan. Semua itu, kalau kata anak muda zaman sekarang, 'nggak kaleng-kaleng' lho efeknya buat kesetimbangan alam.
Peta Titik Merah: Daerah-daerah Langganan Longsor
Kalau bicara titik-titik rawan, ada beberapa daerah di Jawa Timur yang namanya seolah udah jadi langganan berita longsor tiap tahun. Coba deh kita tengok Pacitan. Kabupaten di ujung barat daya ini, dengan topografi berbukit-bukit kapur dan tanah yang labil, sering banget jadi sorotan media nasional tiap musim hujan tiba. Setiap hujan deras, warga di sana pasti langsung waspada tingkat tinggi. Longsor di Pacitan itu bukan cuma urusan tanah ambles, tapi sering juga disertai banjir bandang yang bikin kerusakan makin parah. Infrastruktur jalan sering putus, akses terhambat, bahkan rumah-rumah warga ikutan tergerus. Rasanya kayak udah jadi PR turun-temurun, ya, bagaimana caranya hidup berdamai dengan ancaman yang satu ini.
Nggak cuma Pacitan, daerah seperti Trenggalek dan Ponorogo juga punya cerita serupa. Topografi perbukitan dan lahan pertanian yang banyak dibuka di lereng-lereng curam, ditambah minimnya vegetasi penahan air, bikin area ini rentan banget. Kadang, kita lihat sendiri, di pinggir jalan raya yang meliuk-liuk di perbukitan, tiba-tiba ada gundukan tanah yang runtuh. Untungnya kalau nggak pas ada kendaraan lewat. Tapi kalau pas apes? Duh, amit-amit cabang bayi deh. Wilayah-wilayah ini, dengan kondisi geologis yang mirip, seolah berada dalam lingkaran setan yang sulit diputus: tanah labil, curah hujan tinggi, ditambah minimnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan di lereng-lereng bukit.
Terus, geser sedikit ke Malang Raya, khususnya di daerah selatan yang berbatasan dengan pantai, juga punya potensi yang nggak bisa diremehkan. Meskipun nggak se-ekstrem Pacitan, tapi di beberapa titik, kontur tanah yang berbukit dan penggunaan lahan yang masif untuk perkebunan atau pembangunan villa, juga bikin tanah makin 'rapuh'. Mirisnya, kadang-kadang pembangunan itu cuma mikir untung sesaat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang buat lingkungan. Alhasil, yang rugi ya kita semua, terutama warga sekitar yang sehari-hari hidup berdampingan dengan ancaman ini. Belum lagi di lereng gunung seperti Semeru atau Arjuno, di mana hutan-hutan lindung perlahan tergerus aktivitas manusia, menambah daftar panjang daerah yang berpotensi mengirimkan "pesan" lewat longsor.
Lebih dari Sekadar Angka: Kisah di Balik Trauma
Ini nih yang bikin hati miris. Di balik statistik dan peta zona rawan, ada kisah nyata orang-orang yang hidup dalam ketakutan. Bayangkan saja, setiap kali mendung tebal datang dan hujan mulai turun deras, jantung berdebar kencang. Apakah tanah di belakang rumah akan kuat menahan gempuran air? Apakah jalan akses pulang ke rumah besok pagi masih bisa dilewati? Anak-anak harus bolos sekolah karena jalan terputus, petani gagal panen karena lahannya tertimbun, bahkan nggak jarang ada yang kehilangan anggota keluarga atau harta benda berharganya, semua ludes dalam sekejap. Ini bukan cuma soal kerugian material, tapi juga kerugian emosional yang tak ternilai harganya.
Dampak longsor itu nggak cuma soal materi yang hancur, lho. Tapi juga trauma psikologis yang membekas. Ada rasa khawatir yang terus-menerus, seolah alam itu menyimpan amarah yang siap dilampiaskan kapan saja. Hidup di daerah rawan longsor itu memang butuh mental baja, guys. Dan jujur saja, kita yang cuma bisa melihat dari jauh, kadang cuma bisa menghela napas panjang dan berharap ada solusi yang lebih konkret dan berkelanjutan. Rasanya, solidaritas dan empati perlu diungkit lebih dalam lagi, karena bencana ini bukan cuma urusan warga terdampak, tapi urusan kita semua sebagai penghuni bumi.
Harmoni dengan Alam: PR Besar Kita Bersama
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Ya, nggak bisa cuma pasrah dong. Pemerintah daerah, para ahli geologi, dan yang paling penting, masyarakat itu sendiri, punya peran krusial. Edukasi tentang mitigasi bencana, pembangunan infrastruktur penahan longsor yang mumpuni seperti terasering atau dinding penahan tanah, sampai reboisasi besar-besaran di lahan kritis itu mutlak perlu. Nggak cuma wacana di meja rapat, tapi harus beneran digarap sampai akar-akarnya, dengan perencanaan matang dan eksekusi yang konsisten. Dana yang digelontorkan pun harus benar-benar sampai ke tujuan, bukan malah 'menguap' di tengah jalan.
Kita juga sering lupa, lho, bahwa perubahan iklim global ini juga memperparah kondisi. Hujan jadi makin ekstrem, pola cuaca nggak terduga, bikin prediksi jadi makin sulit. Jadi, menjaga lingkungan itu bukan cuma tanggung jawab orang lain atau pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Dari hal kecil seperti nggak buang sampah sembarangan sampai ikut mengampanyekan pentingnya menanam pohon. Memang terdengar klise, tapi ya begitulah adanya. Setiap tindakan kecil kita hari ini, bisa jadi penentu nasib di masa depan.
Jawa Timur, Pesona dan Peringatan
Jawa Timur memang indah, nggak ada yang membantah. Keberagaman alamnya selalu berhasil memikat siapa saja yang datang. Tapi di balik keindahannya, ada peringatan dari alam yang nggak boleh kita abaikan. Titik-titik rawan longsor itu bukan cuma sekadar tanda di peta, tapi adalah jeritan bumi yang minta diperhatikan. Mari kita jadikan ini sebagai pengingat, bahwa harmoni dengan alam itu bukan pilihan, tapi sebuah keharusan. Agar anak cucu kita kelak bisa menikmati pesona Jawa Timur tanpa dihantui rasa was-was setiap kali musim hujan tiba. Karena sejatinya, tanah yang kita pijak ini adalah titipan, dan kita punya kewajiban untuk menjaganya sebaik mungkin. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Next News

Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
a day ago

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
a day ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
a day ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago





