Ceritra
Ceritra Warga

Kisah Inspiratif Muhammad Kusrin: Lulusan SD yang Sulap Limbah Elektronik Jadi TV Murah Berstandar SNI

Nisrina - Sunday, 01 February 2026 | 12:45 PM

Background
Kisah Inspiratif Muhammad Kusrin: Lulusan SD yang Sulap Limbah Elektronik Jadi TV Murah Berstandar SNI
Muhammad Kusrin (Liputan6.com/Reza Kuncoro)

Inovasi sering kali identik dengan laboratorium canggih, kacamata tebal, dan gelar akademik berderet dari universitas ternama. Namun, stigma tersebut berhasil dipatahkan oleh sosok sederhana asal Karanganyar, Jawa Tengah, bernama Muhammad Kusrin.

Tanpa ijazah sarjana, pria yang hanya menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Dasar (SD) ini membuktikan bahwa kecerdasan dan kreativitas bisa lahir dari keterbatasan. Kisah hidupnya adalah roller coaster emosi—dari seorang kuli bangunan, menjadi inovator, sempat dianggap kriminal, hingga akhirnya diundang ke Istana Negara oleh Presiden.

Perjalanan Kusrin mengubah sampah elektronik menjadi "emas" bukan hanya soal bisnis, melainkan tentang memberi harapan bagi rakyat kecil untuk mendapatkan hiburan yang layak. Berikut adalah rekam jejak perjuangan Kusrin yang penuh liku.

Bermodal Otodidak dan Semangat Baja

Jauh sebelum dikenal sebagai pembuat televisi, kehidupan Kusrin sangat jauh dari dunia teknologi. Ia memulai perjalanannya sebagai kuli bangunan demi menyambung hidup. Namun, rasa ingin tahunya yang besar terhadap dunia elektronik tidak pernah padam.

Bermodalkan ketekunan luar biasa, Kusrin mulai belajar secara otodidak. Ia tidak malu bertanya dan menyerap ilmu dari teman-temannya yang berprofesi sebagai teknisi servis elektronik. Siang bekerja, malam mengutak-atik komponen.

Pada tahun 2011, ia melihat peluang emas di tumpukan sampah. Banyak monitor komputer tabung (CRT) bekas yang sudah tidak terpakai karena orang beralih ke layar LCD. Di tangan dingin Kusrin, limbah yang mencemari lingkungan ini dilihat sebagai bahan baku berharga. Ia mulai bereksperimen merakit ulang komponen monitor tersebut menjadi sebuah televisi yang berfungsi normal.

Visi Mulia: TV Murah untuk Rakyat Kecil

Apa yang mendorong Kusrin melakukan ini? Visinya sangat sederhana namun menyentuh hati. Ia ingin menyediakan televisi dengan harga yang sangat terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.

Kusrin sadar, bagi buruh tani atau pekerja serabutan, membeli TV baru merek terkenal adalah sebuah kemewahan yang sulit dijangkau. Dengan memanfaatkan limbah monitor bekas, Kusrin bisa menekan biaya produksi secara drastis.

Produk rakitannya kemudian diberi label nama yang cukup mentereng seperti "Maxreen", "Veloz", dan "Zener". Televisi ini dijual dengan kisaran harga hanya ratusan ribu rupiah saja. Tak heran, produk Kusrin laris manis bak kacang goreng di pasaran lokal karena kualitas gambarnya yang cukup jernih dan harganya yang sangat bersahabat dengan kantong rakyat kecil.

Hancur Lebur Dihantam Tembok Birokrasi

Namun, niat baik dan kreativitas tidak serta merta membuat jalan Kusrin mulus. Pada tahun 2015, bisnis yang ia rintis dengan susah payah harus berbenturan keras dengan tembok tebal regulasi negara.

Bengkel kerja sederhananya di Karanganyar tiba-tiba digerebek oleh aparat penegak hukum. Produk televisi rakitannya dianggap ilegal, melanggar hukum perindustrian, dan belum mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI). Kusrin, sang inovator kampung, seketika dianggap sebagai pelaku kriminal.

Momen paling memilukan terjadi ketika pihak kejaksaan menyita ratusan unit televisi siap jual miliknya. Puncaknya, televisi-televisi hasil keringatnya tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Kusrin hanya bisa pasrah melihat impiannya hangus menjadi abu, bahkan ia sempat divonis hukuman percobaan.

Gelombang Simpati: "Dibina, Bukan Dibinasakan"

Peristiwa pembakaran televisi karya Kusrin ini memicu ledakan amarah publik di media sosial. Masyarakat Indonesia merasa tindakan aparat hukum terlalu kaku dan tidak manusiawi. Netizen menilai bahwa kreativitas rakyat kecil seperti Kusrin seharusnya dibina dan diarahkan agar sesuai aturan, bukan langsung "dibinasakan" dan dimatikan usahanya.

Gelombang dukungan dan petisi online bermunculan untuk membela Kusrin. Ia berubah menjadi simbol perlawanan inovasi akar rumput terhadap kaku-nya birokrasi di negeri ini. Kasus ini membuka mata banyak pihak bahwa ada celah besar dalam dukungan pemerintah terhadap Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Titik Balik: Dari Terdakwa Menjadi Tamu Istana

Kegaduhan publik yang masif akhirnya sampai ke telinga pemerintah pusat. Kementerian Perindustrian bergerak cepat merespons kritik masyarakat dengan memberikan pendampingan intensif kepada Kusrin.

Kusrin dibimbing untuk membenahi standar produksinya agar sesuai dengan kualifikasi SNI. Berkat kegigihannya yang tak kenal menyerah, Kusrin akhirnya berhasil lulus uji. Produk televisi rakitannya resmi mendapatkan sertifikat SNI yang sah.

Puncak dari "balas dendam" manis Kusrin adalah ketika ia diundang secara khusus ke Istana Merdeka. Ia bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo. Dalam pertemuan tersebut, Presiden memberikan apresiasi tinggi dan bahkan memborong televisi buatan Kusrin sebagai bentuk dukungan nyata. Momen ini menjadi penanda bahwa karya Kusrin telah diakui negara.

Pelajaran Mahal Tentang Inovasi dan Legalitas

Kini, televisi rakitan Kusrin bukan lagi barang selundupan yang harus disembunyikan dari kejaran petugas. Legalitas SNI dan hak paten merek yang telah dikantonginya menjadi tiket emas untuk memperluas pasar hingga ke berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Kisah Muhammad Kusrin mengajarkan kita banyak hal. Bahwa ijazah bukanlah penentu tunggal kesuksesan. Bahwa limbah bisa menjadi berkah. Dan yang terpenting, kisah ini menjadi pelajaran bagi pemerintah dan kita semua bahwa potensi anak bangsa harus didukung dan dilindungi.

Kusrin telah membuktikan, meski sempat jatuh dan "dibakar", semangat untuk berinovasi dan bermanfaat bagi orang banyak tidak akan pernah bisa hangus.

Logo Radio
🔴 Radio Live