Ceritra
Ceritra Uang

Modal 10 Ribu Bisa Jadi Investor? Ini Bukan Hoaks

Refa - Wednesday, 14 January 2026 | 10:30 AM

Background
Modal 10 Ribu Bisa Jadi Investor? Ini Bukan Hoaks
Ilustrasi reksa dana (Pinterest/itbrainindonesia)

Kalau mendengar kata "investasi", apa yang terbayang di kepalamu? Mungkin bayangannya adalah orang-orang berdasi yang sibuk memantau grafik naik-turun di layar komputer seharian, atau orang kaya yang punya modal ratusan juta rupiah.

Gara-gara bayangan seram itu, banyak anak muda yang mundur teratur. "Ah, aku nggak ngerti ekonomi," atau "Gajiku pas-pasan, mana bisa investasi."

Padahal, ada satu instrumen investasi yang memang didesain khusus untuk orang yang modalnya terbatas dan pengetahuannya masih nol. Namanya Reksa Dana.

Secara sederhana, Reksa Dana itu seperti "patungan". Uang kamu dikumpulkan bersama uang ribuan investor lain, lalu diserahkan kepada ahlinya untuk dikelola. Nah, kenapa ini sangat recommended buat pemula? Ini untungnya.

1. Modal Kecil

Dulu, kalau mau beli saham perusahaan besar, kamu butuh modal jutaan karena harus beli minimal 1 lot (100 lembar). Ini yang bikin investasi terasa eksklusif.

Reksa Dana menghapus tembok penghalang itu. Kamu bisa mulai investasi dengan modal yang sangat receh, mulai dari Rp10.000 atau Rp100.000 saja. Ini setara dengan harga satu cangkir kopi atau sekali makan di mal. Jadi, alasan "nggak punya modal" sudah tidak berlaku lagi. Dengan menyisihkan uang jajan sedikit saja, kamu sudah resmi berstatus sebagai investor.

2. Punya "Joki" Profesional (Manajer Investasi)

Masalah utama pemula adalah: "Aku harus beli apa? Kapan harus beli? Kapan harus jual?" Salah ambil keputusan, uang bisa hilang.

Di Reksa Dana, kamu tidak perlu pusing memikirkan itu. Ada pihak profesional bernama Manajer Investasi (MI). Tugas mereka adalah mengelola uang patungan tadi. Merekalah yang meriset pasar, memantau ekonomi, dan memutuskan uangmu akan dibelikan saham A, obligasi B, atau deposito C. Kamu cukup setor uang, lalu duduk manis biarkan ahlinya yang bekerja memutar uangmu. Cocok banget buat kamu yang sibuk atau mager belajar analisis pasar yang rumit.

3. Risiko Lebih Tersebar (Diversifikasi Otomatis)

Ada aturan emas dalam investasi: Don't put all your eggs in one basket. Jangan taruh semua uangmu di satu tempat. Kalau keranjangnya jatuh, semua telurnya pecah.

Kalau kamu punya uang Rp100.000 dan dibelikan saham satu perusahaan saja, saat perusahaan itu rugi, uangmu langsung minus besar. Tapi di Reksa Dana, uang Rp100.000 itu oleh Manajer Investasi akan disebar ke berbagai tempat (misalnya ke 10 saham perusahaan berbeda atau campuran obligasi). Jadi, kalau ada satu perusahaan yang rugi, masih ada perusahaan lain yang untung. Risiko kerugianmu jadi lebih kecil dibandingkan beli saham sendiri secara langsung.

4. Bebas Pajak

Ini keuntungan yang sering dilupakan. Kalau kamu menabung di deposito bank, bunganya akan dipotong pajak sebesar 20%. Kalau kamu main properti, ada pajak jual-beli yang besar.

Keuntungan (imbal hasil) dari Reksa Dana bukanlah objek pajak. Jadi, kalau di aplikasi tertera keuntunganmu Rp500.000, ya uang itulah yang masuk ke rekeningmu bersih tanpa potongan pajak lagi. Ini membuat hasil investasimu jadi lebih maksimal dibandingkan instrumen lain yang kena potongan sana-sini.

5. Gampang Dicairkan (Likuid)

Banyak orang takut investasi karena khawatir uangnya terkunci lama. "Gimana kalau tiba-tiba butuh duit buat ke dokter?"

Reksa Dana itu sifatnya likuid alias mudah dicairkan. Kamu bisa menjual unit Reksa Danamu kapan saja lewat aplikasi di HP. Uangnya akan masuk ke rekening pribadimu dalam waktu beberapa hari kerja (biasanya 2-7 hari bursa). Meskipun tidak secepat ambil uang di ATM, ini jauh lebih fleksibel daripada investasi tanah atau emas fisik yang butuh waktu lama untuk dijual.

Logo Radio
🔴 Radio Live