Ceritra
Ceritra Kota

Merayakan 770 Tahun Lumajang dengan Mencicipi Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah

Nisrina - Monday, 15 December 2025 | 12:59 PM

Background
Merayakan 770 Tahun Lumajang dengan Mencicipi Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah
Sego kelor sebagai kuliner khas Lumajang (Jejak Wisataku/)

Selamat Hari Jadi Kabupaten Lumajang yang ke-770! Di usia yang semakin matang ini, Lumajang terus membuktikan diri sebagai wilayah yang kaya akan sejarah dan budaya. Namun, ketika kita berbicara tentang Lumajang, sering kali imajinasi kita langsung tertuju pada satu ikon: Pisang Agung. Memang tidak salah, karena pisang raksasa tersebut adalah identitas yang melekat erat. Namun, membatasi kuliner Lumajang hanya pada pisang sama dengan melewatkan separuh dari kelezatan yang ditawarkan oleh kota di kaki Gunung Semeru ini.

Bagi para pelancong dan pencinta kuliner, Lumajang adalah surga tersembunyi yang menawarkan spektrum rasa yang unik dari perpaduan antara selera Jawa yang medok dan sentuhan Madura yang berani, khas budaya "Pendalungan". Jika Anda sedang berkunjung untuk merayakan ulang tahun kota ini, berikut adalah deretan kuliner wajib coba yang akan mengubah persepsi Anda tentang rasa otentik Lumajang.

1. Sego Kelor

Foto: Jejak Wisataku

Jika ada satu hidangan yang merepresentasikan kearifan lokal Lumajang, itu adalah Sego Kelor atau Nasi Kelor. Di daerah lain, daun kelor mungkin hanya dianggap sebagai tanaman pagar atau mitos pengusir bala, tetapi di Lumajang, kelor adalah primadona meja makan.

Jangan bayangkan rasa yang hambar atau pahit. Sego Kelor di Lumajang disajikan dengan kuah bening yang segar, dipadukan dengan bumbu rempah yang ringan namun aromatik. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatannya. Biasanya, hidangan ini disandingkan dengan lauk pendamping yang tak kalah menggoda seperti ikan asin, dadar jagung, pepes, dan sambal terasi yang pedasnya "nendang". Menyantap sepiring Sego Kelor hangat di pagi hari bukan hanya mengenyangkan, tetapi memberikan rasa nyaman yang seolah memeluk tubuh dari dalam. Ini adalah definisi comfort food yang sesungguhnya bagi masyarakat Lumajang.

2. Lontong Petis

Foto: Shutterstock

Mungkin Anda pernah mendengar Lontong Petis di daerah lain, tetapi Lontong Petis khas Lumajang memiliki karakter yang berbeda. Ini adalah menu sarapan favorit yang selalu dicari warga lokal. Perbedaannya terletak pada komposisi bumbu petisnya yang pekat, gurih, dan memiliki aroma udang yang kuat namun tidak amis, berpadu harmonis dengan tekstur lontong yang padat namun lembut.

Dalam satu piring, Anda akan menemukan potongan lontong, tahu goreng, kecambah, dan terkadang telur, yang kemudian disiram dengan kuah santan gurih bercampur bumbu petis hitam yang kental. Taburan bawang goreng dan kerupuk menjadi penyempurna tekstur. Rasanya adalah ledakan gurih dan sedikit manis yang kompleks, mencerminkan akulturasi budaya masyarakatnya yang dinamis.

3. Sate Kambing

Foto: VisitLumajang

Bergeser ke arah barat menuju lereng Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Senduro, terdapat kuliner legendaris yang tidak boleh dilewatkan: Sate Kambing. Berbeda dengan sate kambing pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang kental, Sate di sini tampil percaya diri dengan bumbu kecap yang minimalis namun kaya rasa, sering kali ditambah dengan petis khusus.

Keistimewaan utamanya terletak pada ukuran potongan dagingnya yang besar namun sangat empuk saat digigit. Karena berada di dataran tinggi yang dingin, menyantap sate yang masih mengepul panas di Senduro memberikan sensasi kenikmatan ganda. Daging kambingnya yang segar dan tidak berbau prengus membuktikan kualitas peternakan lokal yang unggul. Ini adalah destinasi kuliner yang wajib dikunjungi bagi karnivora sejati.

4. Kue Latok

Foto: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Sebagai penutup perjalanan rasa, Anda wajib mencicipi Kue Latok. Jajanan pasar tradisional ini mungkin terlihat sederhana, namun warnanya yang mencolok selalu berhasil menarik perhatian. Terbuat dari tepung kanji, Kue Latok memiliki tekstur yang kenyal dan chewy.

Penyajiannya pun klasik, ditaburi dengan parutan kelapa muda yang gurih dan disiram dengan gula merah cair yang kental. Perpaduan rasa kenyal, gurih, dan manis legit ini membawa kita kembali pada kenangan masa kecil yang hangat. Kue Latok adalah bukti bahwa di tengah gempuran kuliner modern, Lumajang masih setia menjaga warisan rasa nenek moyang.

5. Rujak Otek

Foto: VisitLumajang/Dnadyaksa

Daftar kuliner Lumajang tidak akan lengkap tanpa menyebutkan Rujak Otek. Bagi pendatang, nama ini mungkin terdengar asing, namun bagi warga lokal, ini adalah hidangan legendaris. Berbeda dengan rujak cingur atau rujak manis, kunci kelezatan hidangan ini terletak pada bahan dasarnya, yaitu petis ikan otek.

Ikan otek adalah jenis ikan sungai atau muara yang banyak ditemukan di perairan Lumajang. Jika petis pada umumnya terbuat dari udang atau kupang, petis otek memiliki profil rasa yang sangat distingtif: gurihnya tajam, warnanya hitam pekat, dan memiliki aroma khas yang kuat namun justru itulah yang membuatnya ngangenin.

Rujak ini biasanya menyajikan sayuran rebus seperti kangkung, genjer (paku rawan), dan tauge, yang disiram dengan bumbu petis otek yang telah diulek bersama cabai dan sedikit asam. Sering kali, hidangan ini dilengkapi dengan rebung (tunas bambu) yang memberikan tekstur renyah. Perpaduan rasa pedas, segar, dan gurih yang "nendang" dari petis otek menciptakan sensasi rasa yang eksotis dan autentik. Rujak Otek adalah bukti keberanian masyarakat Lumajang dalam mengolah hasil alam sekitarnya menjadi hidangan yang berkarakter kuat.


Menikmati kuliner Lumajang bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah cara untuk merayakan keberagaman dan sejarah panjang kabupaten yang kini berusia 770 tahun ini. Jadi, saat Anda berkunjung ke Lumajang, pastikan untuk tidak hanya membawa pulang Pisang Agung, tetapi juga menyimpan memori lezat dari Sego Kelor hingga Sate Senduro di ingatan Anda. Selamat makan!

Logo Radio
🔴 Radio Live