Ceritra
Ceritra Kota

Menyelami Mistisnya Tradisi Kebo-Keboan di Banyuwangi

Refa - Monday, 15 December 2025 | 02:15 PM

Background
Menyelami Mistisnya Tradisi Kebo-Keboan di Banyuwangi
Tradisi Kebo-Keboan, Banyuwangi (Pinterest/)

Jika berkunjung ke Banyuwangi pada bulan Suro (Muharram), jangan kaget jika melihat pemandangan yang tak lazim di jalanan desa.

Puluhan pria bertubuh kekar melumuri seluruh tubuh mereka dengan cairan hitam pekat dari oli dan arang. Di kepala mereka terpasang tanduk buatan, dan di pundak terpikul alat bajak sawah. Tatapan mereka kosong, liar, dan sesekali mendengus kasar. Mereka bukan sedang syuting film horor, melainkan sedang menjalani ritual sakral bernama Kebo-Keboan.

Tradisi yang rutin digelar oleh masyarakat agraris Suku Osing (khususnya di Desa Alasmalang dan Aliyan) ini bukan sekadar karnaval kostum biasa. Di baliknya, tersimpan sejarah pedih tentang wabah penyakit dan doa tulus para petani.

Bermula dari Wabah Mematikan

Sejarah Kebo-Keboan konon bermula pada abad ke-18. Saat itu, Desa Alasmalang dilanda wabah penyakit misterius (pagebluk). Tanaman mati, ternak sakit, dan warga desa meninggal mendadak silih berganti.

Di tengah keputusasaan, sesepuh desa bernama Mbah Buyut Karti mendapatkan wangsit (petunjuk gaib) melalui meditasi. Petunjuk itu menyuruh warga untuk menggelar ritual bersih desa dengan syarat: para petani harus menjelma menjadi kerbau.

Mengapa kerbau? Dalam filosofi pertanian Jawa, kerbau adalah mitra kerja paling setia bagi petani. Ia adalah simbol kekuatan dan tumpuan hidup masyarakat agraris. Begitu ritual ini dilaksanakan untuk pertama kalinya, secara ajaib wabah penyakit pun sirna. Sejak itulah, tradisi ini terus dijaga turun-temurun sebagai bentuk tolak bala dan ungkapan syukur.

Bukan Sekadar Akting

Yang membuat bulu kuduk merinding, para pemeran "manusia kerbau" ini sering kali tidak sedang berakting.

Dalam prosesi arak-arakan keliling desa (Ider Bumi), banyak peserta yang mengalami trance atau kerasukan roh leluhur. Mereka yang tadinya manusia biasa, tiba-tiba bertingkah persis seperti kerbau liar. Mereka menyeruduk penonton, memakan rumput mentah, hingga berkubang di lumpur sawah tanpa rasa jijik sedikit pun.

Masyarakat setempat percaya bahwa roh yang masuk bukanlah roh jahat, melainkan roh leluhur yang ingin ikut merayakan kesuburan tanah desa. Oleh karena itu, para pawang selalu siaga mendampingi setiap "kerbau" agar tidak melukai warga, namun tetap membiarkan mereka berekspresi secara natural.

Simbolisasi Dewi Sri

Puncak dari ritual ini bukan hanya soal arak-arakan manusia kerbau. Inti acaranya adalah pertemuan antara "kerbau" dengan Dewi Sri, sang dewi padi dan kesuburan.

Dalam prosesi ini, sosok yang memerankan Dewi Sri akan menaburkan benih padi ke arah kerbau-kerbauan dan warga. Benih inilah yang diperebutkan oleh masyarakat. Konon, benih padi yang didapat dari ritual Kebo-Keboan membawa berkah tersendiri jika ditanam di sawah masing-masing, menjanjikan panen yang melimpah dan bebas hama di musim berikutnya.

Harmoni Manusia dan Alam

Kebo-Keboan mengajarkan kita bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada alam yang harus dihormati, ada leluhur yang harus diingat, dan ada Tuhan yang harus disyukuri.

Di zaman modern yang serba mesin ini, melihat manusia rela "menjadi hewan" demi mendoakan keselamatan desanya adalah pemandangan yang menyentuh hati. Ini adalah bukti kerendahan hati manusia, mengakui bahwa tanpa berkah alam (yang simbolisasinya diwakili oleh tenaga kerbau), teknologi secanggih apa pun tidak akan bisa menghasilkan butir padi yang kita makan sehari-hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live