Menikmati Kesegaran Banyu Kuwung, Wisata Air Alami di Kaki Gunung Ijen
Refa - Thursday, 01 January 2026 | 05:00 PM


Kabupaten Banyuwangi terus mengoptimalkan potensi wisata alam di kawasan Gunung Ijen. Salah satu destinasi yang kini mulai banyak dilirik wisatawan adalah Banyu Kuwung, pemandian alami yang bersumber dari mata air pegunungan di kaki Gunung Ijen.
Terletak di Dusun Panggang, Desa Licin, Kecamatan Licin, Banyu Kuwung menawarkan kolam alami dengan air yang jernih serta udara sejuk khas daerah dataran tinggi. Lingkungan sekitar yang dipenuhi pepohonan rindang menciptakan suasana tenang, cocok untuk bersantai maupun berwisata bersama keluarga.
Destinasi wisata ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Pengembangannya dimulai sejak 2020 dan mulai dibuka untuk umum pada 2022. Letak kolam yang berada di lereng Gunung Ijen memungkinkan pengunjung menikmati panorama hijau sekaligus kesegaran air alami pegunungan.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai Banyu Kuwung sebagai destinasi wisata yang masih sangat alami dan memberikan ketenangan. Ia menyebut tempat tersebut cocok menjadi pilihan liburan keluarga maupun sarana melepas penat dari aktivitas perkotaan.
Pengunjung dapat berenang di kolam alami dengan kedalaman sekitar 60 hingga 120 sentimeter. Sejumlah gazebo juga tersedia sebagai tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya.
Ipuk turut menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ia mendorong agar potensi mata air yang melimpah di desa tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian warga tanpa mengesampingkan upaya pelestarian lingkungan.
Ketua Pokdarwis Banyu Kuwung, Heriyanto, menjelaskan bahwa kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan milik warga yang kurang produktif. Awalnya, lahan hanya dimanfaatkan untuk menanam selada air dengan hasil yang tidak optimal. Setelah diusulkan menjadi destinasi wisata, pemilik lahan menyetujui bahkan menghibahkan area tersebut kepada Pokdarwis.
Sejak dibuka, Banyu Kuwung mendapatkan respons positif dari masyarakat dan wisatawan. Pada awal masa operasional, jumlah pengunjung di akhir pekan bahkan sempat mencapai sekitar 1.200 orang, yang berdampak pada meningkatnya aktivitas ekonomi warga sekitar.
Dari segi fasilitas, Banyu Kuwung dilengkapi area parkir yang luas, warung makan, musala, toilet, serta area camping. Destinasi ini buka setiap hari kecuali Jumat yang dikhususkan untuk kegiatan pembersihan kawasan. Jam operasional berlaku pukul 08.00–16.00 WIB pada Senin hingga Kamis, serta pukul 07.00–16.00 WIB pada Sabtu dan Minggu, dengan harga tiket masuk Rp5.000 per orang.
Next News

Kota Masa Depan Akan Seperti Apa? Melihat Inovasi yang Mulai Terjadi Sekarang Hingga Beberapa Dekade Mendatang
9 days ago

Revitalisasi Kawasan Lama: Mengapa Bangunan Tua Kini Kembali Dihidupkan?
10 days ago

Kota 24 Jam: Mengapa Beberapa Kota Tidak Pernah Benar-Benar Tidur?
10 days ago

Bagaimana Sebuah Kawasan Bisa Berubah Menjadi Pusat Bisnis?
10 days ago

Gedung Pencakar Langit: Mengapa Kota-Kota Besar Terus Membangun ke Atas?
10 days ago

Smart City Bukan Sekadar Kota Canggih, Apa Bedanya dengan Kota Biasa?
10 days ago

Kota Satelit Semakin Bermunculan, Benarkah Jadi Solusi Kemacetan dan Kepadatan?
10 days ago

Kenapa Semakin Banyak Orang Memilih Tinggal di Kota? Fenomena Urbanisasi yang Terus Terjadi
10 days ago

Mengapa Kota Terus Berkembang? Memahami Perubahan Wajah Perkotaan dari Masa ke Masa
10 days ago

Menanti Langit Bersih: Kapan Kekusutan Kabel di Langit Kota Hilang?
17 days ago

