Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Sosok Herman Thomas Karsten Sang Arsitek Legendaris di Balik Keindahan Tata Kota Malang dan Bandung

Nisrina - Monday, 26 January 2026 | 10:45 AM

Background
Mengenal Sosok Herman Thomas Karsten Sang Arsitek Legendaris di Balik Keindahan Tata Kota Malang dan Bandung
Thomas Karsten (Times Indonesia/)

Banyak orang sering merasa suasana Kota Malang dan Bandung memiliki kemiripan yang cukup identik. Kedua kota ini dikenal dengan tata letak jalan yang rapi serta banyaknya bangunan kolonial yang estetik. Kesamaan nuansa ini ternyata bukanlah sebuah kebetulan belaka.

Ada satu sosok penting yang menjadi otak di balik rancangan kedua kota indah tersebut. Ia adalah Herman Thomas Karsten yang merupakan seorang arsitek sekaligus perencana kota asal Belanda. Pria ini lahir di Amsterdam pada tanggal 22 April 1884.

Karsten datang ke Hindia Belanda pada tahun 1914 atas ajakan seniornya yang bernama Henri Maclaine Pont. Ia kemudian mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk membangun kota-kota di nusantara. Ia meninggal dunia pada tahun 1945 saat berusia 60 tahun dan dimakamkan di Cimahi.

Jejak tangan dinginnya di Kota Malang bermula saat ia ditunjuk sebagai penasihat tata kota. Tugas ini ia emban ketika Malang ditetapkan statusnya sebagai Kotamadya. Ia merancang kota ini secara intensif dalam kurun waktu tahun 1930 hingga 1935.

Salah satu warisan ikoniknya di Malang adalah alun-alun baru bernama J.P Coen Plein. Tempat ini sekarang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Alun-alun Tugu yang berada di depan Balai Kota. Keberadaan alun-alun ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus landmark kota yang cantik.

Karsten juga merancang kawasan pemukiman elit Idjen Boulevard atau yang kini disebut Jalan Ijen. Jalan ini didesain dengan konsep taman di tengah jalan dan deretan pohon palem yang ikonik. Hingga kini kawasan Ijen tetap menjadi salah satu jalan terindah di Indonesia.

Sementara itu kontribusinya di Bandung terjadi sekitar tahun 1941 hingga 1942. Pada masa itu Bandung dipersiapkan menjadi calon ibu kota baru bagi Hindia Belanda. Karsten pun terpilih menjadi salah satu anggota tim perancang kota tersebut.

Ia bertugas menangani proyek pemukiman modern di kawasan Bandung Utara atau Uitbreidingsplan Bandoeng-noord. Ia juga didapuk mengerjakan proyek perluasan kota baru bertajuk Karsten Plan. Proyek besar ini digagas dan dirancang bersama Thomas Nix selama lima tahun.

Namun karya Karsten tidak hanya terbatas pada dua kota tersebut saja. Buku "100 Tahun Kota Malang" mencatat bahwa jejak arsitekturnya tersebar di 12 kota besar Indonesia. Kota-kota itu meliputi Yogyakarta, Semarang, Bogor, Padang, Jakarta, Surakarta, Magelang, Madiun, Cirebon, Banjarmasin, dan Palembang.

Sebagai seorang arsitek ia merancang berbagai jenis bangunan mulai dari rumah pribadi hingga fasilitas umum. Beberapa karya monumentalnya antara lain Pasar Gede Solo dan Pasar Johar Semarang. Ia juga merancang Pasar Jatingaleh, Stasiun Solo Balapan, hingga Museum Sonobudoyo di Yogyakarta.

Kepiawaiannya dalam bidang arsitektur juga diakui oleh kalangan akademisi pada masanya. Pada tahun 1941 ia sempat diangkat sebagai staf pengajar di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Kampus teknik tersebut kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung atau ITB.

Rancangan Karsten memiliki filosofi yang sangat kuat dan berbeda dari arsitek kolonial lainnya. Karyanya selalu mengandung nilai kemanusiaan dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar. Ia selalu menganggap penting keberadaan taman kota serta ruang terbuka hijau dalam setiap desainnya.

Karsten dikenal mampu memadukan unsur Barat dan Jawa dengan sangat harmonis dalam karya-karyanya. Ia mengembalikan aspek perkotaan khas Jawa klasik yang menonjolkan rerimbunan pepohonan. Konsep alun-alun sebagai pusat kota dan pemerintahan juga ia pertahankan dengan baik.

Sikap politiknya juga cukup unik karena ia dikenal sebagai pengkritik kolonialisme. Melalui arsitektur ia menantang pemerintahan Hindia Belanda dengan memasukkan unsur lokal pada setiap bangunan. Ia tidak ingin sekadar memindahkan bangunan Eropa ke tanah tropis tanpa penyesuaian budaya.

Logo Radio
🔴 Radio Live