Ceritra
Ceritra Uang

Mengapa Paylater Terasa Ringan Padahal Jadi Beban Finansial

Nisrina - Thursday, 12 March 2026 | 04:15 PM

Background
Mengapa Paylater Terasa Ringan Padahal Jadi Beban Finansial
Ilustrasi (Bank BCA/)

Pernah nggak sih, kamu lagi asyik scrolling media sosial di tengah malam, terus tiba-tiba muncul iklan sepatu lari model terbaru atau gadget yang kameranya bisa motret pori-pori semut? Padahal sepatu lama masih layak pakai dan HP di tangan masih lancar jaya. Tapi entah kenapa, ada suara di kepala yang membisikkan kata-kata sakti: "Ah, sekali-sekali self-reward," atau yang paling maut, "Kan bisa pakai Paylater, cicilannya cuma seharga kopi susu kekinian per bulan."

Tanpa sadar, jari kita menari di atas layar, klik 'Beli Sekarang', dan BOOM! Selamat, kamu baru saja menambah satu lagi beban di masa depan demi kesenangan yang cuma bertahan tiga puluh menit setelah paket dibuka. Fenomena ini bukan cuma terjadi sama kamu doang, tapi sudah jadi "penyakit" kolektif masyarakat urban zaman sekarang. Utang konsumtif sudah bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal gaya hidup yang dipaksakan biar kelihatan tetap 'hidup'.

Gengsi yang Harganya Lebih Mahal dari Cicilan

Kalau kita mau jujur-jujuran, akar masalah dari utang konsumtif itu seringkali bukan karena perut lapar, tapi karena mata yang laper. Kita hidup di era di mana validasi orang lain rasanya lebih penting daripada saldo tabungan di hari tua. Ada semacam tekanan sosial yang tak kasat mata kalau kita harus punya apa yang orang lain punya. Istilah kerennya sih Fear of Missing Out alias FOMO.

Lihat teman kantor ganti iPhone, hati langsung panas. Lihat influencer liburan ke Jepang, langsung cek limit kartu kredit. Masalahnya, kita sering lupa kalau apa yang ditampilkan di media sosial itu cuma permukaan yang dipoles sedemikian rupa. Kita nggak tahu apakah mereka beli barang itu pakai uang dingin atau malah lagi pusing tujuh keliling mikirin tagihan yang numpuk. Kita berlomba-lomba mengejar standar hidup orang lain menggunakan sumber daya yang sebenarnya kita nggak punya.

Kemudahan yang Menipu: Paylater dan Pinjol

Dulu, kalau mau utang itu ribetnya minta ampun. Harus ke bank, bawa dokumen segunung, dan nunggu verifikasi berhari-hari. Sekarang? Cuma modal KTP dan foto selfie sambil pegang kartu identitas, duit jutaan rupiah bisa cair dalam hitungan menit. Kemudahan akses keuangan digital ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi membantu saat darurat, tapi di sisi lain jadi lubang hitam buat mereka yang nggak punya kontrol diri.

Fitur Paylater yang ada di hampir semua aplikasi belanja online itu didesain dengan psikologi yang sangat cerdik. Mereka memecah angka jutaan menjadi angka-angka kecil yang terlihat "murah". "Cuma 150 ribu per bulan!" terdengar jauh lebih ringan daripada "Total harga 2 juta rupiah". Padahal kalau diakumulasi dengan bunga dan denda keterlambatan, harganya bisa jadi jauh lebih mahal. Kita sering terjebak dalam delusi bahwa kita mampu membeli sesuatu hanya karena kita punya limit, padahal limit utang itu bukan uang kita.

Jebakan Batman Bernama 'Self-Reward'

Istilah self-reward belakangan ini sering banget disalahgunakan untuk melegitimasi perilaku boros. "Habis kerja keras sebulan, masa nggak boleh beli tas baru?" Ya boleh saja, asal uangnya memang ada dan bukan hasil minjem. Banyak orang yang terjebak utang karena mereka merasa berhak mendapatkan kemewahan sebagai kompensasi atas rasa lelah bekerja.

Padahal, self-reward yang sesungguhnya nggak harus selalu berupa barang material yang mahal. Tidur lebih awal, nonton film favorit, atau sekadar masak makanan enak di rumah juga bentuk penghargaan diri. Sayangnya, industri kapitalis sukses mencuci otak kita bahwa kebahagiaan itu harus dibeli, dan kalau nggak punya duit sekarang, ya tinggal gesek saja dulu urusan belakangan.

Kurangnya Literasi Keuangan Sejak Dini

Mari kita akui, sekolah kita jago banget ngajarin rumus kalkulus yang mungkin jarang kepakai, tapi hampir nggak pernah ngajarin cara ngatur duit atau bahaya bunga majemuk. Banyak anak muda yang masuk ke dunia kerja tanpa bekal pengetahuan finansial yang cukup. Begitu pegang gaji sendiri, langsung kalap.

Mereka nggak paham bedanya antara aset dan liabilitas. Mereka nggak tahu kalau cicilan utang itu maksimal harusnya cuma 30% dari pendapatan. Tanpa pemahaman ini, banyak yang akhirnya terjebak dalam siklus "gali lubang tutup lubang". Pinjam di aplikasi A buat bayar aplikasi B, begitu seterusnya sampai akhirnya bunga menggulung dan kolektor mulai neror kontak di HP. Di titik ini, hidup yang tadinya mau kelihatan estetik di Instagram berubah jadi mimpi buruk yang bikin stres tiap malam.

Lalu, Gimana Caranya Supaya Nggak Terperosok?

Keluar dari jeratan utang konsumtif itu memang nggak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti nggak bisa. Langkah pertama yang paling penting adalah berhenti membohongi diri sendiri. Akui kalau gaya hidup kita mungkin sudah melampaui kapasitas kantong. Belajarlah untuk bilang "nggak" pada keinginan-keinginan impulsif.

Cobalah buat menerapkan aturan 24 jam atau bahkan 30 hari sebelum membeli barang yang sifatnya keinginan bukan kebutuhan. Kalau setelah menunggu sekian lama keinginan itu hilang, berarti itu cuma nafsu sesaat. Selain itu, mulai deh bangun dana darurat. Kenapa? Karena banyak orang terpaksa utang karena mereka nggak punya simpanan saat ada kejadian tak terduga.

Pada akhirnya, hidup yang tenang tanpa dikejar-kejar tagihan itu jauh lebih mewah daripada punya barang branded tapi hati nggak tenang setiap tanggal jatuh tempo. Jangan biarkan gengsi membunuh masa depanmu. Ingat, kekayaan itu diukur dari berapa banyak yang kamu simpan, bukan dari berapa banyak yang kamu pamerkan di instastory.

Logo Radio
🔴 Radio Live