Mengapa Marka Jalan Terasa Seperti Perosotan Bagi Pengendara?
Nisrina - Friday, 26 December 2025 | 01:02 PM


Bagi para pengendara sepeda motor, garis putih atau kuning yang membentang di aspal sering kali menjadi "musuh dalam selimut" saat musim hujan tiba. Pernahkah Anda merasakan sensasi jantung berdesir ketika ban kendaraan tiba-tiba kehilangan cengkeraman saat tidak sengaja melindas marka jalan yang basah? Rasa licin yang berbahaya ini sering kali memicu pertanyaan skeptis di benak kita, apakah ini adalah sebuah kesalahan desain fatal dari pemerintah atau kontraktor jalan? Jawabannya ternyata tidak. Fenomena licin tersebut bukanlah sebuah cacat produksi, melainkan konsekuensi fisika yang tak terelakkan dari material canggih yang dipilih demi keselamatan visual pengendara itu sendiri.
Banyak orang mengira garis-garis tersebut hanyalah cat tembok biasa yang dikuas di atas jalan. Padahal, material yang digunakan adalah termoplastik, sebuah jenis plastik khusus yang ketika dipanaskan dan diaplikasikan akan mengeras dengan tekstur menyerupai kaca. Berbeda dengan aspal yang memiliki pori-pori kasar untuk menyerap air dan memberikan traksi, termoplastik memiliki permukaan yang sangat halus, rapat, dan tidak berpori. Sifatnya yang tidak menyerap air inilah yang menjadi biang keladi masalah saat hujan turun. Air hujan tidak bisa meresap ke dalam marka, melainkan hanya menggenang di permukaannya. Genangan ini membentuk lapisan film air mikroskopis yang memisahkan karet ban dengan permukaan jalan, sehingga traksi atau gaya gesek pun lenyap seketika dan mengubah marka jalan menjadi arena seluncur dadakan.
Tingkat kelicinan ini semakin menjadi-jadi karena adanya "bumbu rahasia" yang dicampurkan ke dalam adonan termoplastik tersebut. Untuk menghasilkan warna putih yang tajam, digunakan pigmen Titanium Dioxide, sedangkan untuk warna kuning menggunakan Bismuth Vanadate. Tidak hanya itu, agar marka jalan bisa bersinar saat tersorot lampu kendaraan di malam hari, ditambahkanlah butiran kaca mikro atau glass beads. Campuran bahan-bahan kimia dan butiran kaca inilah yang membuat permukaannya semakin licin saat basah. Lantas, jika membahayakan, mengapa material ini tetap dipertahankan? Alasannya sederhana namun krusial: marka jalan sejatinya didesain untuk dilihat, bukan untuk dilindas.
Fungsi utama marka adalah sebagai panduan navigasi visual yang harus tetap terlihat jelas dalam kondisi ekstrem sekalipun, baik saat terik matahari maupun badai hujan di malam hari. Aspal atau cat biasa tidak mampu melakukan tugas ini karena warnanya akan cepat pudar tergerus gesekan ban dan tidak bisa memantulkan cahaya. Termoplastik dipilih karena ia tahan panas, tahan goresan, dan yang paling penting sangat cepat kering saat diaplikasikan sehingga tidak memicu kemacetan panjang saat proses pengecatan. Jadi, sifat licin pada marka jalan adalah harga mati yang harus dibayar demi mendapatkan durabilitas dan visibilitas tinggi. Mengetahui fakta ini, langkah paling bijak bagi pengendara adalah menyadari bahwa garis putih itu adalah batas visual, bukan jalur lintasan, sehingga sebisa mungkin hindari melakukan pengereman mendadak tepat di atasnya saat langit mulai menangis.
Next News

Ingat Minyak Hijau Ini? Kenali Manfaat Urang Aring untuk Rambut
7 hours ago

Generation Gap: Kenapa Kita Nggak Paham Humor Anak Zaman Sekarang?
6 hours ago

Dari Gado-Gado ke Rujak: Inovasi Salad Lokal Paling Enak
13 hours ago

"Aku Memang Turunan Pemarah": Benarkah Sifat Mudah Marah Bisa Diwariskan?
7 days ago

Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial
8 days ago

Mencuri Waktu dari Tidur: Kebiasaan Scroll Malam yang Diam-Diam Menjadi Alasan "Insomnia" Kita
11 days ago

Masih Perlu Pakai Hand Sanitizer Setiap Saat? Simak Faktanya!
12 days ago

Fashion: Instrumen Politik Paling Tua yang Jarang Disadari
12 days ago

Tips Pilih Warna Baju Saat Cuaca Panas Biar Tetap Nyaman dan Adem
13 days ago

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
13 days ago





