Membahas Sejarah Pancasila : Awalnya Sempat Bernama "Trisila" ???
Nizar - Monday, 25 May 2026 | 12:15 PM


Pernah nggak sih kalian pas lagi ikut upacara hari Senin, terus pas bagian pembacaan Pancasila, pikiran malah melayang ke mana-mana? Entah mikirin seblak di kantin atau tugas yang belum kelar. Padahal, kalau kita mau ditarik mundur ke tahun 1945, proses lahirnya lima sila itu jauh dari kata membosankan. Itu bukan sekadar deretan kata yang dipajang di atas papan tulis kelas, tapi hasil dari perdebatan intelektual kelas tinggi, penuh intrik, dan pastinya sangat emosional.
Bayangin aja, Indonesia saat itu masih di bawah bayang-bayang penjajahan Jepang yang mulai kepepet sama Sekutu. Di tengah situasi yang nggak menentu itu, para pendahulu kita harus merumuskan: "Kita ini mau jadi negara yang kayak gimana sih?".
BPUPKI: Ruang Sidang yang Cukup Panas
Semuanya bermula dari sebuah badan bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), atau bahasa kerennya Dokuritsu Junbi Cosakai. Sidang pertamanya dimulai tanggal 29 Mei 1945. Lokasinya di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila di Jakarta Pusat). Suasananya pasti beda banget sama rapat-rapat zaman sekarang yang isinya cuma nungguin snack box.
Di sana, berkumpul orang-orang paling jenius di zamannya. Ada Muhammad Yamin, Soepomo, dan tentu saja, Soekarno. Mereka nggak cuma duduk manis. Mereka debat! Muhammad Yamin, misalnya, pada hari pertama langsung gas pol ngasih usulan tentang dasar negara. Beliau bicara soal peri kebangsaan, kemanusiaan, ketuhanan, kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat. Orasinya Yamin itu tipikal orang yang visioner, yang sudah membayangkan Indonesia bakal jadi negara besar.
Dua hari kemudian, giliran Soepomo yang naik panggung. Beliau lebih fokus ke arah "Negara Integralistik". Intinya, negara itu jangan cuma buat satu golongan aja, tapi harus jadi satu kesatuan yang utuh. Bayangin kayak sebuah tim esport, nggak boleh ada yang egois mau menang sendiri, semuanya harus sinkron demi satu tujuan: merdeka.
Soekarno dan Tanggal 1 Juni
Nah, puncaknya ada di tanggal 1 Juni 1945. Ini dia hari yang sekarang kita rayakan sebagai Hari Lahir Pancasila. Bung Karno, dengan kharismanya yang nggak ada obat, menyampaikan pidato legendaris tanpa teks. Di situ beliau pertama kali memperkenalkan istilah "Pancasila". Panca artinya lima, sila artinya dasar.
Uniknya, Soekarno sempat bilang kalau lima sila itu bisa diperas lagi jadi Trisila (Socio-nasionalisme, Socio-demokrasi, dan Ketuhanan), bahkan bisa diperas lagi jadi Ekasila, yaitu Gotong Royong. Filosofinya dalam banget, gaes. Beliau pengen nekenin kalau Indonesia itu dibangun di atas kerja sama, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan. Pidato Bung Karno ini kayak oase di tengah padang pasir. Semua peserta sidang langsung tepuk tangan riuh, kayak habis nonton konser headliner favorit.
Drama Piagam Jakarta dan "Tujuh Kata" yang Ikonik
Tapi, ceritanya nggak berhenti di situ. Setelah sidang BPUPKI kelar, dibentuklah Panitia Sembilan. Isinya campuran antara tokoh nasionalis sekuler dan tokoh agama. Mereka ngumpul di rumah Bung Karno buat ngerapihin usulan-usulan tadi. Hasilnya? Lahirlah Piagam Jakarta atau Jakarta Charter pada 22 Juni 1945.
Di sini sempat ada "plot twist". Sila pertama di Piagam Jakarta awalnya bunyi: "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Muncul perdebatan sengit. Teman-teman kita dari wilayah Indonesia Timur merasa keberatan karena mereka ngerasa nggak "dianggap" kalau bunyinya kayak gitu. Mereka bahkan sempat ngancem mau pisah kalau poin itu nggak diubah.
Disinilah kedewasaan para founding fathers kita diuji. Bung Hatta, yang dikenal tenang dan logis, jadi penengah. Akhirnya, dengan jiwa besar, tokoh-tokoh Islam saat itu setuju buat menghapus tujuh kata tersebut demi persatuan. Maka jadilah "Ketuhanan Yang Maha Esa". Keputusan ini menurut saya adalah bukti kalau toleransi itu sudah jadi DNA bangsa kita dari dulu. Nggak usah sok-sokan mau jadi radikal sekarang deh, malu sama perjuangan kakek nenek kita dulu.
Finalisasi di Tanggal 18 Agustus
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan yang dramatis itu, tepatnya 18 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengadakan sidang. Agendanya serius banget: milih Presiden-Wakil Presiden dan mengesahkan UUD 1945. Di dalam Pembukaan UUD 1945 itulah, Pancasila yang kita kenal sekarang resmi disahkan sebagai dasar negara yang sah secara hukum.
Urutannya jadi begini:
- Ketuhanan Yang Maha Esa
- Kemanusiaan yang adil dan beradab
- Persatuan Indonesia
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pancasila Hari Ini: Masih Relevan atau Cuma Pajangan?
Kalau kita liat sejarahnya, Pancasila itu bukan produk instan yang dibikin sambil ngopi cantik. Ada keringat, air mata, dan ego yang harus ditekan sedalam-dalamnya. Sayangnya, sekarang kita sering ngeliat Pancasila cuma jadi komoditas politik atau sekadar bahan hafalan biar lulus ujian kewarganegaraan.
Padahal, esensi Pancasila itu "relatable" banget sama kehidupan milenial dan Gen Z. Sila kedua ngajarin kita buat nggak jadi tukang bully di sosmed (kemanusiaan). Sila ketiga ngingetin kita buat nggak gampang kemakan hoaks yang mecah belah (persatuan). Dan sila kelima itu pengingat kalau keadilan itu harusnya merata, bukan cuma buat yang punya "orang dalam" atau saldo rekening gendut.
Jadi, kalau lain kali kalian denger kata Pancasila, coba bayangin gimana ribetnya Bung Karno, Bung Hatta, Yamin, dan yang lainnya duduk satu meja buat nyatuin ribuan pulau dan ratusan suku cuma lewat kata-kata. Sejarah pembentukan Pancasila adalah pengingat kalau perbedaan itu bukan buat diperdebatkan sampai berantem, tapi buat disatukan jadi kekuatan. Keren, kan?
Next News

Hobi Seblak dan Boba? Kenali Risiko PCOS pada Wanita Muda
an hour ago

Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts
2 hours ago

Unik! Kolaborasi Pikachu dan Penyanyi Dangdut Guncang Jakarta 2026
3 hours ago

Mengapa Baju Murah Justru Bikin Kita Boros? Berikut Penjelasannya
4 hours ago

Mengenal "Sugar Level/Sweetness Level" pada Minuman: Mana yang Benar-Benar Rendah Gula?
5 hours ago

Overconsumption: Tren Belanja yang Bikin Dompet Kering dan Bagaimana Mengatasinya
7 hours ago

Panduan Niat, Keutamaan, & Jadwal Puasa Tarwiyah 25 Mei 2026 Wilayah Surabaya
7 hours ago

Gebrakan No Na: Padukan Pop Global dan Nuansa Lokal di Rollerblade
3 days ago

Menengok Diplomasi Meja Makan yang Akrab di Timor Leste
5 days ago

6 Tahun Pasca Pandemi COVID-19, Munculnya Hantavirus Kembali Bangkitkan Kekhawatiran Masyarakat
6 days ago






