5 Alasan Jalan Tunjungan Surabaya Wajib Dikunjungi Pekan Ini
Shannon - Thursday, 09 July 2026 | 08:00 PM


Demam Photobox di Tunjungan: Kenapa Kita Rela Antre Demi Secarik Kertas?
Kalau main ke Surabaya, rasanya nggak afdal kalau nggak melipir ke Jalan Tunjungan. Kawasan yang dulu cuma dikenal lewat lagu "Rek Ayo Rek" ini sekarang sudah bermetamorfosis jadi pusat gaya hidup anak muda paling hits di Kota Pahlawan. Mau cari kopi? Ada. Mau makan steak pinggir jalan? Banyak. Tapi ada satu pemandangan yang belakangan ini makin mencolok mata: antrean panjang anak muda di depan gerai kecil dengan lampu neon warna-warni. Bukan, mereka bukan lagi nunggu martabak, melainkan nunggu giliran masuk ke dalam bilik photobox.
Fenomena menjamurnya photobox di Surabaya, terutama di kawasan Tunjungan, sebenarnya menarik untuk dibedah. Rasanya baru kemarin kita merasa kalau era cetak foto sudah mati gara-gara kehadiran smartphone dengan kamera boba yang makin canggih. Tapi nyatanya, tren itu justru balik lagi, bahkan lebih kencang dari era awal 2000-an pas zaman-zamannya kita masih suka nongkrong di depan studio foto mall sambil pakai baju seragam sekolah.
Tunjungan dan Magnet Estetika "Skena"
Jalan Tunjungan punya aura tersendiri. Trotoarnya lebar, bangunannya punya arsitektur kolonial yang masih kokoh, dan kalau malam, lampu-lampu jalanannya bikin suasana kerasa romantis sekaligus vintage. Di tengah suasana inilah, bisnis photobox masuk dan menemukan celahnya. Mulai dari brand besar seperti Selfie Time, Photomatics, sampai studio independen yang nyempil di pojokan kafe, semuanya hampir nggak pernah sepi pengunjung.
Kenapa sih harus di Tunjungan? Jawabannya sederhana: validasi visual. Anak muda sekarang, atau yang sering kita sebut anak skena, butuh wadah buat mengekspresikan diri. Setelah capek jalan kaki atau sekadar ngopi lucu, mereka butuh kenang-kenangan fisik yang bisa dipajang di belakang casing HP atau ditempel di pintu lemari. Photobox di Tunjungan bukan cuma soal memotret wajah, tapi soal menangkap momen kebersamaan di titik paling ikonik di Surabaya.
Beda dengan studio foto zaman dulu yang kaku dan harus diarahkan fotografer dengan instruksi "senyum ya, satu, dua, tiga...", photobox modern memberikan privasi penuh. Di dalam bilik ukuran 1x1 meter itu, lo bebas mau gaya apa aja. Mau gaya kayang, gaya nutup muka, sampai gaya yang paling absurd sekalipun, nggak bakal ada yang nge-judge. Kebebasan inilah yang mahal harganya.
Panik Lima Detik: Ritual di Dalam Bilik
Ada satu sensasi yang cuma bisa dirasakan kalau lo masuk ke photobox: kepanikan kolektif. Bayangin, lo cuma punya waktu sekitar 5 sampai 10 detik buat ganti gaya sebelum kamera otomatis jepret. Di situlah letak seninya. Biasanya, sebelum masuk, satu geng sudah diskusi serius soal mau pakai template apa, filternya gimana, sampai urutan gaya dari pose keren ke pose konyol.
Tapi begitu di dalam? Semua rencana biasanya bubar jalan. "Eh, gaya apa nih?" "Aduuh, kacamata gue miring!" "Cepetan, sisa dua detik!" Dan jepret! Hasilnya sering kali berantakan, tapi justru di situlah nilai autentiknya. Foto yang nggak sempurna itu malah jadi bahan ketawaan yang awet diingat sampai bertahun-tahun kemudian.
Ditambah lagi, photobox sekarang sudah canggih-canggih. Ada yang pakai sistem wide angle biar satu tongkrongan isi 10 orang bisa masuk semua, ada yang menyediakan aksesoris lucu mulai dari bando telinga kelinci sampai kacamata funky yang sebenarnya nggak bakal kita pakai di kehidupan nyata. Semua itu demi satu tujuan: konten yang estetik.
Kenapa Surabaya Makin "Kebanjiran" Photobox?
Surabaya itu kota yang dinamis, tapi warganya gampang bosan. Para pelaku usaha sadar betul akan hal ini. Kalau dulu kita harus ke mall besar buat cari photobox, sekarang photobox yang datang ke tempat kita nongkrong. Tren ini menyebar bukan cuma di Tunjungan, tapi merembet ke daerah Surabaya Barat hingga ke pelosok gang yang ada kafe hits-nya.
Secara psikologis, keberadaan photobox ini mengisi celah antara dunia digital dan fisik. Kita punya ribuan foto di galeri HP, tapi jarang banget kita lihat lagi. Sedangkan secarik kertas foto yang keluar dari mesin photobox itu punya "nyawa". Ada teksturnya, ada bau tintanya, dan ada usaha buat dapetinnya (termasuk usaha antre berjam-jam kalau malam minggu). Ini adalah bentuk nostalgia yang dikemas dengan selera modern.
Selain itu, harga photobox yang relatif terjangkau—biasanya mulai dari 25 ribu sampai 50 ribu rupiah—bikin aktivitas ini jadi "short escape" yang murah meriah. Buat mahasiswa yang lagi pusing skripsi atau pekerja kantoran yang jenuh dengan meeting, mampir ke photobox di Tunjungan bisa jadi mood booster instan. Keluar dari bilik, pegang hasil cetakan, langsung merasa hidup lebih berwarna lagi.
Lebih dari Sekadar Tren Sesaat
Banyak yang bilang tren ini bakal redup dalam satu atau dua tahun. Tapi kalau kita lihat lagi, photobox sebenarnya cuma evolusi dari keinginan dasar manusia untuk mengabadikan diri. Dulu kita punya lukisan potret, lalu kamera polaroid, lalu studio foto, dan sekarang photobox aesthetic. Namanya mungkin berubah, teknologinya mungkin berganti, tapi intinya tetap sama: kita ingin diingat.
Jadi, selagi Jalan Tunjungan masih jadi primadona dan lampu-lampu neon photobox masih menyala terang, nggak ada salahnya buat ikut antre. Jangan terlalu serius mikirin gaya. Kadang, foto dengan mata merem atau pose yang nggak siap justru jadi foto terbaik yang pernah lo punya. Surabaya memang keras, tapi di dalam bilik photobox yang sempit itu, semuanya terasa lebih santai dan menyenangkan.
Akhir kata, buat kalian yang belum sempat nyobain photobox-an di Tunjungan, buruan deh agendakan sama teman, pacar, atau kalau mau sendiri pun nggak masalah. Karena pada akhirnya, yang kita beli bukan cuma kertas foto, tapi kenangan tentang hari itu, di kota ini, saat kita masih muda dan merasa dunia adalah milik kita sendiri.
Next News

Alasan Makeup Bikin Kusam? Yuk Coba Personal Color Test
7 hours ago

Masa Orientasi Serasa Drama Korea: Tips Menghadapi Hari Pertama MPLS/Ospek
a day ago

Astrea Grand Motor Legendaris yang Kembali Hits Sekarang
a day ago

Beban Moral di Balik Angka Api: Kenapa Kita Terjebak Budaya Streak yang Melelahkan?
a day ago

Mimpi Kulit Putih Instan? Hati-Hati Jebakan Skincare Merkuri
a day ago

Aging Like Fine Wine: Kunci Tampil Menawan di Usia Matang
2 days ago

Fenomena Kesurupan Massal di Sekolah: Mitos atau Gangguan Medis?
2 days ago

Bukan Sekadar Pendamping Makan, Kini Teh Jadi Ritual Self-Care
3 days ago

Nonton Film atau Ikut Ujian? Fenomena 'Polisi Film' di Era Media Sosial
3 days ago

Ganteng Maksimal Pas Nongkrong: Tips Skincare Pria Anti Kusam
6 days ago




