Ceritra
Ceritra Update

Astrea Grand Motor Legendaris yang Kembali Hits Sekarang

Shannon - Wednesday, 08 July 2026 | 04:00 PM

Background
Astrea Grand Motor Legendaris yang Kembali Hits Sekarang
(Honda Global/)

Seni Menolak Punah: Kenapa Gen Z Lebih Memilih "Sakit Kepala" Demi Motuba dan Motor Lawas?

Pernah nggak sih kalian lagi nongkrong di coffee shop yang estetik, terus tiba-tiba ada suara knalpot yang agak cempreng tapi merdu, disusul kepulan asap tipis dari motor bebek tahun 90-an yang parkir persis di depan mata? Alih-alih merasa terganggu, anak-anak muda di sana malah menoleh dengan tatapan penuh kagum. Padahal yang parkir itu cuma Astrea Grand, bukan moge keluaran terbaru seharga rumah subsidi.

Selamat datang di era di mana "barang lama" bukan lagi berarti "barang rongsok". Bagi Gen Z, generasi yang lahir dengan smartphone di genggaman, segala sesuatu yang berbau analog, berkarat, dan butuh usaha ekstra untuk menghidupkannya justru dianggap sebagai puncak dari sebuah gaya hidup yang elit. Ada semacam pergeseran nilai yang unik: kalau beli mobil baru lewat diler itu biasa, tapi merestorasi mobil tua sampai kinclong itu baru luar biasa.

Eksklusivitas di Balik Bau Bensin dan Karburator

Kenapa sih Gen Z begitu terobsesi dengan gaya vintage? Jawaban paling gampangnya adalah kejenuhan. Kita hidup di dunia yang semuanya serba otomatis, serba plastik, dan serba seragam. Mobil-mobil keluaran tahun 2024 punya desain yang hampir mirip semua demi alasan aerodinamika. Di sinilah letak daya tarik otomotif lawas. Setiap lekukan bodi mobil atau motor tua punya karakter yang "berjiwa".

Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika seorang anak muda mengendarai Motuba (Mobil Tua Bangka). Sebut saja Toyota Starlet, Honda Civic Nouva, atau bahkan Great Corolla. Di mata mereka, mengendarai mobil-mobil ini bukan berarti nggak mampu beli yang baru. Justru sebaliknya, ini adalah flex atau pamer terselubung. Menunjukkan bahwa mereka punya selera (taste) yang nggak bisa dibeli secara instan. Mengurus mobil tua itu butuh dedikasi, riset mencari onderdil di e-commerce sampai ke grup Facebook jadul, dan kesabaran menghadapi mogok di tengah jalan. Itulah yang membuat status mereka terasa lebih "elit" dibanding mereka yang cuma tahu isi bensin dan ganti oli di bengkel resmi.

Vespa dan Astrea: Bukan Sekadar Kendaraan, Tapi Identitas

Kalau kita bicara soal roda dua, trennya makin gila lagi. Lihat saja harga Vespa 2-tak yang harganya sekarang sudah nggak masuk akal. Padahal dulu, Vespa sering dianggap motor orang tua yang hobi mogok. Sekarang? Vespa PX atau PTS sudah jadi simbol status di kalangan "skena" senja. Bahkan motor bebek legendaris seperti Honda Astrea Grand atau Honda Win yang dulu identik dengan motor Pak Camat atau kurir pos, sekarang dipuja-puja.

Istilah "Gembel Elite" mungkin cocok untuk menggambarkan fenomena ini. Tampilannya mungkin terlihat berdebu atau punya cat yang sedikit memudar, tapi nilai estetikanya di kamera Instagram atau TikTok itu tak ternilai harganya. Ada narasi romantis yang dibangun: tentang perjalanan pelan tanpa terburu-buru, tentang menghargai mesin yang bekerja dengan mekanis, bukan sekadar perintah sensor elektronik. Bagi Gen Z, motor-motor ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya cepat saji yang membosankan.

Estetika Vintage yang Menembus Logika Ekonomi

Yang menarik, tren ini akhirnya mengacaukan harga pasar. Logika ekonomi yang bilang kalau barang lama harganya harus turun, nggak berlaku di dunia hobi Gen Z. Hukum permintaan dan penawaran bekerja dengan cara yang ajaib. Karena semua orang pengen kelihatan vintage, harga motor yang dulunya cuma 3 jutaan sekarang bisa melonjak jadi 15 juta kalau kondisinya orisinal. Bahkan, istilah "full ori" atau "new old stock" jadi kata kunci keramat yang bisa bikin harga barang meroket.

Banyak anak muda sekarang yang rela menabung atau menyisihkan gaji pertamanya bukan untuk uang muka mobil listrik, tapi untuk membangun proyek restorasi. Mereka menikmati prosesnya. Ada kepuasan batin saat mesin yang sudah mati bertahun-tahun kembali menderu. Ini bukan cuma soal otomotif, tapi soal terapi mental. Di dunia digital yang serba abstrak, memegang kunci pas dan berlumuran oli memberikan sensasi "nyata" yang tidak bisa didapatkan dari layar sentuh.

Vibe yang Nggak Bisa Diduplikasi

Pada akhirnya, fenomena Gen Z suka vintage ini adalah tentang mencari identitas di tengah keseragaman. Mereka ingin terlihat berbeda, ingin terlihat punya cerita untuk diceritakan. Mobil atau motor tua itu seperti mesin waktu. Saat mereka duduk di jok yang aromanya khas mobil lama, ada perasaan nostalgia pada masa yang mungkin bahkan belum mereka alami secara langsung.

Apakah tren ini akan bertahan lama? Melihat betapa kuatnya komunitas-komunitas otomotif retro sekarang, sepertinya kecintaan pada barang lawas ini nggak akan padam dalam waktu dekat. Selama masih ada rasa bosan terhadap teknologi yang terlalu klinis dan dingin, barang-barang vintage akan selalu punya tempat di hati anak muda. Jadi, jangan heran kalau besok-besok temen kamu yang biasanya pakai headset canggih tiba-tiba pamer foto lagi benerin kabel busi di pinggir jalan. Karena bagi mereka, "sakit kepala" ngurus barang tua itu adalah bagian dari gaya hidup elit yang sesungguhnya.

Intinya, menjadi keren di mata Gen Z saat ini bukan soal seberapa cepat kendaraanmu melaju, tapi seberapa banyak orang yang menoleh dan berbisik, "Anjir, rapi banget itu mobil," saat kamu lewat pelan-pelan di depan tongkrongan.

Logo Radio
🔴 Radio Live