Ceritra
Ceritra Update

Masa Orientasi Serasa Drama Korea: Tips Menghadapi Hari Pertama MPLS/Ospek

Shannon - Wednesday, 08 July 2026 | 08:00 PM

Background
Masa Orientasi Serasa Drama Korea: Tips Menghadapi Hari Pertama MPLS/Ospek
Foto mahasiswa baru yang sedang menjalani kegiatan ospek di ITB (Instagram/oskm.itb)

Antara Halusinasi Drakor dan Realita Lapangan: Sisi Lain MPLS dan Ospek yang Bikin Elus Dada

Ada satu momen dalam hidup yang rasanya seperti gerbang menuju dimensi lain: hari pertama masuk sekolah baru atau kampus baru. Buat kita yang tumbuh besar dengan asupan drama Korea yang estetiknya selangit, masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) seringkali dibayangkan sebagai awal dari kisah romansa yang manis. Bayangan kita sudah melanglang buana, membayangkan bakal ketemu kakak kelas (kakel) atau kakak tingkat (kating) yang auranya mirip Nam Joo-hyuk atau minimal setampan Song Kang.

Tapi ya, namanya juga hidup di dunia nyata, bukan di dalam skenario garapan Kim Eun-sook. Begitu kaki melangkah masuk ke gerbang sekolah atau kampus, ekspektasi yang sudah dibangun setinggi langit itu biasanya langsung terjun bebas, mendarat darurat di atas aspal lapangan yang panasnya minta ampun. Mari kita bedah pelan-pelan, apa saja sih yang sebenarnya kita nanti-nantikan, dan bagaimana realita seringkali mengajak kita bercanda dengan cara yang agak kejam.

Ekspektasi: Cinta Pandang Pertama di Koridor Sekolah

Di kepala kita, MPLS adalah momen di mana kita sebagai murid baru yang masih polos dan bingung bakal menabrak seorang kakak kelas yang gantengnya nggak masuk akal di koridor. Buku-buku kita jatuh berserakan, lalu dia dengan gaya cool-nya membantu memungut sambil memberikan senyum tipis yang bikin jantung mau copot. Atau minimal, ada kating mentor yang sangat perhatian, selalu menanyakan "Kamu sudah makan?" atau "Capek ya? Semangat ya, Dek."

Vibes-nya itu harusnya sinematik. Ada lagu ballad yang tiba-tiba berputar di latar belakang saat dia lewat di depan kita. Kita membayangkan bakal ada momen di mana kita "terselamatkan" dari hukuman karena si kating ini pasang badan buat kita. Intinya, kita berharap MPLS dan Ospek adalah ajang pencarian jodoh terselubung yang dibalut kegiatan edukatif.

Realita: Teriakan Megafon dan Aturan "Cek Kelengkapan"

Begitu hari-H tiba, alih-alih senyum manis, yang kita dapati adalah suara cempreng dari megafon yang beradu dengan terik matahari jam sepuluh pagi. Alih-alih Kakel ganteng yang perhatian, kita malah ketemu sama Komdis (Komisi Disiplin) yang mukanya ditekuk tiga belas lipatan. Alih-alih ditanya sudah makan atau belum, kita malah diinterogasi kenapa pita di rambut kita kurang satu sentimeter atau kenapa tali sepatu kita warnanya nggak "hitam pekat" sesuai aturan.

Realitanya, kating atau kakel yang kita harapkan jadi pelindung itu seringkali justru yang paling rajin bikin kita senam jantung. Mereka nggak akan membantu memungut buku kita yang jatuh; mereka justru bakal menyuruh kita lari bolak-balik kalau kita telat masuk barisan. Dan jangan harap ada adegan slow motion. Yang ada hanyalah adegan kita lari tunggang langgang mengejar angkot atau berebut tempat parkir supaya nggak kena denda poin pelanggaran.

Misi Mencari "Susu Macan Biru" dan Atribut Ajaib Lainnya

Salah satu yang paling dinanti sekaligus dibenci adalah tugas-tugas aneh yang diberikan panitia. Di drama Korea, tugas ospek mungkin cuma seputar bikin festival musik atau pesta olahraga. Di Indonesia? Kita disuruh jadi detektif dadakan. Kita harus mencari "nasi perang", "air mineral merk tertentu tapi tutupnya harus warna pelangi", sampai "susu macan biru" yang ternyata setelah dipikir-pikir cuma susu bantal rasa blueberry.

Ekspektasi kita adalah bisa tampil keren dengan seragam baru. Realitanya? Kita disuruh pakai papan nama dari kardus segede gaban, topi dari bola plastik yang dibelah dua, dan tas dari karung beras yang dijahit asal-asalan. Bukannya kelihatan estetik kayak anak SMA di Seoul, kita justru lebih mirip peserta karnaval 17 Agustusan yang tersesat. Di momen inilah, harga diri kita rasanya sedang diuji sampai ke titik nadir.

Solidaritas di Tengah Penderitaan (The Only Real Part)

Tapi, kalau ada satu hal yang benar-benar mirip dengan drakor, itu adalah munculnya persahabatan yang nggak terduga. Di balik semua omelan kating dan tugas yang nggak masuk akal, kita bakal nemu teman yang sama-sama menderita. Ada satu kepuasan tersendiri saat kita bisa ngerumpiin kating yang paling galak sambil sembunyi-sembunyi makan bekal di pojokan kelas. Di situlah bonding yang sebenarnya terjadi.

Kita belajar berbagi air minum saat haus melanda di tengah lapangan, atau saling meminjamkan alat tulis saat teman sebelah panik karena kelengkapan tugasnya kurang. Momen "senasib sepenanggungan" inilah yang justru bikin MPLS atau Ospek jadi berkesan. Bukan karena keromantisannya, tapi karena kekonyolannya yang bikin kita punya bahan cerita buat sepuluh tahun ke depan.

Kenapa Kita Masih Suka Berhalusinasi?

Kenapa sih kita nggak kapok-kapok berharap punya pengalaman ala drakor? Jawabannya sederhana: karena realita butuh bumbu. Membayangkan ada kating yang naksir kita itu jauh lebih menyenangkan daripada membayangkan kenyataan bahwa kita harus bangun jam 4 pagi demi menyiapkan nasi kuning yang dibentuk bintang.

Lagipula, drakor memberikan kita harapan bahwa di setiap lingkungan baru, akan selalu ada keajaiban. Dan meski realitanya nggak ada kating yang ngajak kita makan malam romantis setelah penutupan ospek, setidaknya kita keluar dari masa pengenalan itu dengan mental yang lebih baja. Kita belajar bahwa dunia ini nggak selalu indah, tapi kalau dihadapi bareng teman-teman yang frekuensinya sama, semuanya jadi terasa jauh lebih ringan.

Penutup: Menikmati Setiap Momen "Ambyar"

Jadi, buat kalian yang sebentar lagi mau MPLS atau Ospek, saran saya cuma satu: turunkan ekspektasi drakor kalian sedikit saja, tapi jangan hilangkan semangatnya. Nikmati saja saat-saat kalian "dikerjain" oleh kakel, nikmati panasnya lapangan, dan nikmati betapa konyolnya atribut yang kalian pakai. Sebab, suatu hari nanti, saat kalian sudah jadi kating atau kakel yang gantian memberikan tugas, kalian bakal kangen sama masa-masa polos saat masih jadi "anak bawang" yang penuh imajinasi.

Ospek dan MPLS mungkin nggak akan memberi kalian pacar sekelas aktor papan atas Korea, tapi dia pasti memberi kalian satu hal yang lebih berharga: sebuah cerita perjuangan yang bikin kalian tertawa sendiri saat mengingatnya. Dan siapa tahu, di antara sekian banyak kating yang teriak-teriak pakai megafon itu, ada satu yang diam-diam memperhatikan kalian dengan tulus, meski nggak pakai adegan slow motion. Siapa yang tahu, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live