Ma'pasonglo, Mengantar Jiwa Menuju Keabadian di Tana Toraja
Nisrina - Thursday, 18 December 2025 | 10:17 AM


Tana Toraja di Sulawesi Selatan selalu memiliki cara yang unik dan mendalam untuk memandang kematian. Bagi masyarakat adat setempat, kematian bukanlah akhir yang gelap atau momen perpisahan yang harus diratapi dalam kesunyian mutlak. Sebaliknya, kematian adalah sebuah transisi agung menuju dunia roh atau Puya. Filosofi inilah yang menjadi napas dari upacara Rambu Solo', sebuah perhelatan adat megah untuk menghormati mereka yang telah berpulang. Di tengah rangkaian ritual yang panjang dan rumit tersebut, terdapat satu momen yang paling dinanti dan menyedot perhatian banyak mata, yaitu prosesi Ma'pasonglo.
Ma'pasonglo adalah sebuah arak-arakan kolosal untuk mengantar jenazah dari area tongkonan atau rumah adat menuju lakkean atau menara persemayaman sementara, sebelum nantinya dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam prosesi ini, jenazah tidak ditandu dengan keranda biasa. Tubuh mendiang ditempatkan di dalam sebuah peti khusus berbentuk rumah adat Toraja berukuran mini yang disebut duba-duba atau lakkian. Peti ini dihiasi dengan ukiran rumit, kain beludru merah, dan ornamen emas yang menyimbolkan status sosial serta kemuliaan sang almarhum semasa hidupnya.
Sisi paling humanis dan emosional dari Ma'pasonglo terlihat pada bagaimana masyarakat terlibat di dalamnya. Puluhan bahkan ratusan laki-laki dari kerabat dan warga kampung akan bahu-membahu memikul duba-duba tersebut. Keranda ini kemudian diarak keliling desa atau menuju lokasi upacara dengan diiringi bentangan kain merah panjang yang ditarik oleh kaum perempuan di barisan depan. Suasana yang tercipta bukanlah keheningan yang mencekam, melainkan gemuruh semangat gotong royong. Teriakan penyemangat, nyanyian duka yang ritmis, dan hentakan kaki para pemikul keranda menciptakan harmoni magis yang menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikannya.
Uniknya, pergerakan arak-arakan ini sering kali terlihat tidak teratur namun penuh makna. Para pemikul keranda kerap melakukan gerakan maju mundur atau menggoyangkan keranda ke kiri dan ke kanan dengan penuh tenaga. Gerakan dinamis ini bukanlah bentuk ketidaksopanan, melainkan simbol kegembiraan untuk menghibur keluarga yang berduka. Selain itu, gerakan saling tarik-menarik ini juga dimaknai sebagai ekspresi beratnya hati keluarga untuk melepaskan kepergian orang yang mereka cintai. Di sinilah letak keindahan Ma'pasonglo, di mana rasa duka yang mendalam dilebur bersama tenaga kolektif komunitas untuk menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Prosesi ini mengajarkan kita tentang nilai kebersamaan yang melampaui batas kematian. Dalam budaya Toraja, mengantar jenazah bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan bentuk penghormatan tertinggi dan bukti cinta kasih yang tulus. Melalui Ma'pasonglo, masyarakat Toraja menunjukkan kepada dunia bahwa perpisahan fisik tidak memutus ikatan persaudaraan. Arak-arakan agung ini adalah jembatan yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia leluhur, memastikan bahwa sang jiwa berangkat dengan tenang, diantar oleh doa dan keringat orang-orang yang mencintainya.
Next News

Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
21 hours ago

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
a day ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
a day ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago






