Ceritra
Ceritra Warga

Makna Tersembunyi 7 Hidangan Wajib Pembawa Hoki Saat Perayaan Imlek

Nisrina - Sunday, 15 February 2026 | 09:43 AM

Background
Makna Tersembunyi 7 Hidangan Wajib Pembawa Hoki Saat Perayaan Imlek
Kue keranjang menjadi salah satu makanan wajib yang ada saat Imlek. (i1.wp.com/)

Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah yang menyala suara gemuruh petasan tarian barongsai yang lincah dan tentu saja momen berkumpul bersama keluarga tercinta. Di balik semua kemeriahan tersebut ada satu tradisi sentral yang menjadi jantung dari seluruh rangkaian perayaan yaitu jamuan makan malam keluarga atau yang sering disebut dengan tradisi makan malam reuni pada malam pergantian tahun.

Di atas meja makan yang bundar tersaji berbagai macam hidangan yang menggugah selera. Namun tahukah Anda bahwa hidangan yang disajikan pada malam Imlek sama sekali bukan sekadar urusan memanjakan lidah dan mengenyangkan perut. Bagi masyarakat Tionghoa makanan adalah medium doa. Setiap bahan makanan cara memasak hingga cara menyajikannya memiliki filosofi dan makna simbolis yang sangat mendalam.

Pemilihan menu ini banyak didasarkan pada permainan kata atau homofon dalam bahasa Mandarin dan Kanton di mana nama makanan memiliki pelafalan yang mirip dengan kata kata yang bermakna keberuntungan kekayaan dan umur panjang. Memahami filosofi di balik sajian ini akan membuat pengalaman bersantap Anda menjadi jauh lebih bermakna dan spiritual. Artikel ini akan membedah secara tuntas tujuh hidangan wajib yang pantang dilewatkan saat Imlek beserta rahasia doa yang tersembunyi di baliknya.

Ikan Bandeng Utuh Sebagai Simbol Kelimpahan Tanpa Batas

Kehadiran hidangan ikan di atas meja makan malam Imlek adalah sebuah aturan yang mutlak. Dalam bahasa Mandarin kata ikan dilafalkan sebagai "Yu". Pelafalan ini terdengar sama persis dengan kata yang memiliki arti surplus kelimpahan atau sisa rezeki.

Menyajikan ikan merupakan bentuk doa dan harapan agar seluruh anggota keluarga selalu memiliki kelebihan rezeki sisa harta dan kelimpahan makanan di penghujung tahun sehingga mereka memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk memulai tahun yang baru. Di Indonesia ikan yang paling populer disajikan saat Imlek adalah ikan bandeng.

Ada aturan baku yang harus dipatuhi saat menyajikan ikan ini. Ikan harus disajikan secara utuh dari kepala hingga ekor. Kepala dan ekor melambangkan sebuah awal dan akhir yang baik dalam setiap usaha yang dilakukan sepanjang tahun. Selain itu ada tradisi di mana kepala ikan harus diarahkan kepada anggota keluarga yang paling dituakan sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Sebagian daging ikan juga sengaja disisakan untuk dimakan keesokan harinya sebagai simbol bahwa rezeki tahun ini akan terus berlanjut hingga ke tahun berikutnya.

Mie Panjang Umur Siu Mie Harapan Usia Sehat

Hidangan wajib kedua yang selalu menjadi primadona anak anak hingga orang dewasa adalah mie goreng atau yang secara tradisional disebut Siu Mie. Mie ini sengaja tidak dipotong saat dimasak dan disajikan dalam untaian yang sangat panjang.

Bentuk mie yang panjang dan tidak terputus ini adalah simbolisasi dari doa untuk umur yang panjang kesehatan yang prima dan kehidupan yang terus berjalan tanpa hambatan. Oleh karena itu ada pantangan keras saat Anda menyantap hidangan ini. Anda dilarang memotong mie tersebut dengan sumpit atau gigi sebelum mie tersebut benar benar masuk ke dalam mulut.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa memotong untaian mie sama artinya dengan memotong usia atau memutus jalan rezeki Anda sendiri. Cara menyantapnya adalah dengan menyeruput mie tersebut secara utuh perlahan lahan hingga ke ujungnya. Semakin panjang mie yang berhasil Anda seruput tanpa putus semakin panjang pula keberuntungan dan usia yang Anda harapkan.

Jeruk Mandarin Lambang Emas dan Kekayaan Berlimpah

Setelah hidangan utama selesai buah yang pasti selalu ada di setiap sudut rumah dan meja tamu saat Imlek adalah jeruk mandarin. Buah ini memiliki dua makna simbolis yang sangat kuat baik dari segi warna maupun pelafalan namanya.

Secara visual warna oranye cerah atau keemasan dari jeruk mandarin melambangkan kepingan koin emas atau matahari yang membawa energi Yang sangat positif dan mencerahkan. Warna ini dipercaya sangat disukai oleh para dewa rezeki.

Secara linguistik kata jeruk dalam bahasa Kanton dilafalkan sebagai "Kam" yang terdengar sangat mirip dengan kata untuk emas. Sedangkan dalam bahasa Mandarin jeruk disebut "Ji" yang pelafalannya mirip dengan kata keberuntungan. Oleh karena itu saling memberikan buah jeruk saat berkunjung ke rumah kerabat adalah bentuk pertukaran doa agar kedua belah pihak sama sama dianugerahi kekayaan emas dan nasib baik di tahun yang baru. Pastikan jeruk yang disajikan masih memiliki daun di bagian atasnya karena daun hijau melambangkan umur panjang dan pertumbuhan bisnis yang terus bersemi.

Kue Keranjang Nian Gao Doa Kemajuan Tiap Tahun

Beralih ke hidangan penutup yang manis kita memiliki kue keranjang atau Nian Gao. Kue bertekstur lengket dan kenyal yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini adalah ikon kuliner yang paling identik dengan perayaan Imlek di Indonesia.

Nama Nian Gao sendiri jika diterjemahkan secara harfiah memiliki pelafalan yang sama dengan frasa "tahun yang lebih tinggi". Menyantap kue ini adalah bentuk afirmasi dan harapan agar setiap tahun kehidupan kita selalu mengalami peningkatan. Peningkatan ini bisa berupa promosi jabatan di tempat kerja nilai akademis yang lebih baik bagi anak anak atau pertumbuhan omzet bagi mereka yang menjalankan bisnis.

Selain maknanya yang berorientasi pada kemajuan tekstur kue keranjang yang lengket dan manis juga memiliki makna sosial. Tekstur lengket ini melambangkan harapan agar ikatan persaudaraan antar anggota keluarga selalu erat tidak mudah terpisahkan dan selalu dipenuhi dengan kenangan yang manis sepanjang masa. Kue ini biasanya disusun bertingkat ke atas melambangkan anak tangga menuju puncak kesuksesan.

Pangsit Tiongkok Jiaozi Penarik Rezeki dan Uang

Jiaozi atau sejenis pangsit rebus khas Tiongkok adalah hidangan yang sarat akan makna kemakmuran finansial. Pangsit ini biasanya diisi dengan daging cincang sayuran segar dan dibungkus dengan adonan kulit tepung yang lembut.

Keistimewaan jiaozi terletak pada bentuk lipatannya. Bentuk jiaozi sengaja dibuat menyerupai Yuanbao yaitu uang logam emas atau perak kuno yang digunakan pada masa kekaisaran Tiongkok. Bentuknya yang seperti perahu oval dengan kedua ujung yang melengkung ke atas ini melambangkan bongkahan harta karun.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa semakin banyak jiaozi yang Anda makan pada malam Tahun Baru Imlek semakin banyak pula uang dan kekayaan yang akan Anda kumpulkan di tahun tersebut. Terkadang sang pembuat makanan akan menyembunyikan sebuah koin bersih di dalam salah satu pangsit. Anggota keluarga yang beruntung menggigit pangsit berisi koin tersebut diyakini akan menjadi orang yang paling makmur dan mendapatkan keberuntungan finansial paling besar di tahun itu.

Manisan Segi Delapan Wadah Kebersamaan dan Kesuburan

Di ruang tamu tempat keluarga saling bercengkerama Anda pasti akan menemukan sebuah kotak berbentuk segi delapan atau bulat yang berisi berbagai macam camilan manis. Kotak ini dikenal dengan sebutan Tray of Togetherness atau kotak kebersamaan.

Bentuk segi delapan dipilih karena angka delapan merupakan angka paling beruntung dalam kebudayaan Tionghoa yang melambangkan kekayaan yang tidak terhingga. Isi dari kotak ini biasanya terdiri dari delapan jenis manisan biji bijian atau kacang kacangan yang masing masing memiliki makna tersendiri.

Misalnya biji teratai melambangkan harapan agar pasangan suami istri segera dikaruniai keturunan buah leci melambangkan ikatan keluarga yang kuat kacang tanah melambangkan panjang umur sementara permen manis melambangkan awal tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Menawarkan kotak manisan ini kepada tamu yang datang adalah wujud keramahtamahan dan niat baik untuk berbagi berkat dengan sesama.

Ayam atau Bebek Panggang Utuh Bukti Kesetiaan Keluarga

Daging unggas seperti ayam atau bebek panggang juga tidak pernah absen dari meja perayaan. Sama seperti aturan penyajian ikan bandeng ayam atau bebek harus disajikan dalam keadaan utuh lengkap dengan kepala sayap hingga ceker kakinya.

Unggas yang disajikan secara utuh ini adalah simbol yang mewakili keutuhan dan kesatuan keluarga. Ini adalah pengingat visual bahwa seberapa jauh pun anggota keluarga merantau pada saat malam Imlek tiba mereka semua kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Selain itu ayam juga dipercaya sebagai simbol kesetiaan dalam pernikahan kebangkitan dan keberanian.

Khusus untuk ayam bagian ceker sering kali menjadi rebutan karena dipercaya dapat membantu seseorang untuk "mengais" rezeki dengan lebih mudah. Sementara bagi mereka yang berperan sebagai pencari nafkah utama menyantap bagian sayap diyakini mampu membantu mereka untuk "terbang" lebih tinggi menggapai kesuksesan karier di tahun yang baru.

Merayakan Imlek pada dasarnya adalah merayakan nilai nilai kekeluargaan dan pengharapan. Melalui setiap gigitan hidangan tradisional yang sarat makna ini kita tidak hanya menutrisi tubuh fisik tetapi juga sedang menanam benih benih afirmasi positif ke dalam pikiran kita. Oleh karena itu saat Anda duduk mengelilingi meja makan bersama keluarga tercinta nikmatilah setiap hidangannya dengan rasa syukur yang mendalam dan biarkan doa doa leluhur mengiringi langkah Anda menuju masa depan yang gemilang.

Tags

imlek
Logo Radio
🔴 Radio Live