Ceritra
Ceritra Warga

Lelah Mental Bukan Kurang Tidur Tapi Akibat Terlalu Sering Berpura Pura Bahagia

Nisrina - Friday, 30 January 2026 | 11:45 AM

Background
Lelah Mental Bukan Kurang Tidur Tapi Akibat Terlalu Sering Berpura Pura Bahagia
Ilustrasi (Pexels/Andrea Piacquadio)

Pernahkah Anda bangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa sangat berat padahal sudah tidur selama delapan jam penuh. Atau mungkin Anda sering merasa energi Anda habis terkuras padahal aktivitas fisik yang Anda lakukan seharian tidak terlalu berat. Jika Anda sering mengalami hal ini maka kemungkinan besar masalahnya bukan terletak pada fisik Anda melainkan pada kondisi batin Anda.

Banyak orang salah mengartikan rasa lelah sebagai sinyal tubuh yang kekurangan waktu istirahat atau tidur. Padahal ada jenis kelelahan lain yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur seharian di kasur. Kelelahan tersebut adalah kelelahan emosional atau emotional burnout yang menggerogoti energi dari dalam.

Salah satu penyebab utama dari kelelahan emosional ini adalah kebiasaan memakai "topeng" dalam kehidupan sehari hari. Kita terlalu sering berpura pura kuat berpura pura bahagia dan berpura pura bahwa semuanya baik baik saja. Padahal di balik senyum yang kita paksakan itu ada jiwa yang sedang menjerit minta tolong untuk didengarkan.

Beban Berat Memakai Topeng Sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu ingin diterima oleh lingkungannya. Dorongan untuk diterima inilah yang sering kali memaksa kita untuk menyembunyikan perasaan asli kita. Kita takut jika kita menunjukkan kesedihan atau kemarahan orang orang akan menjauh atau menilai kita sebagai sosok yang lemah dan negatif.

Akibatnya kita membangun sebuah benteng pertahanan berupa senyuman palsu dan kata kata "aku tidak apa apa" yang menjadi mantra harian. Proses menahan emosi asli dan menggantinya dengan ekspresi palsu ini membutuhkan energi mental yang sangat besar. Otak kita bekerja dua kali lebih keras untuk melakukan sandiwara ini secara terus menerus.

Bayangkan jika Anda harus memanggul beban seberat sepuluh kilogram di punggung Anda sepanjang hari. Mungkin di awal hari Anda masih kuat namun lama kelamaan bahu Anda akan remuk juga. Begitu pula dengan beban emosi yang dipendam semakin lama dipikul semakin hancur pula pertahanan jiwa kita.

Jebakan Menjadi People Pleaser

Akar dari kebiasaan berpura pura ini sering kali berasal dari sindrom people pleaser atau orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain. Kita sering kali mengiyakan permintaan orang lain padahal hati kita ingin menolak. Kita memaksakan diri untuk tersenyum ramah pada orang yang menyebalkan hanya demi menjaga sopan santun dan menghindari konflik.

Sikap tidak enakan ini perlahan lahan menjadi racun bagi diri sendiri. Kita menomorduakan kebutuhan dan perasaan sendiri demi kenyamanan orang lain. Kita memberikan potongan kue terakhir kita kepada orang lain padahal kita sendiri sedang kelaparan. Pengorbanan yang tidak pada tempatnya inilah yang membuat batin menjadi lelah dan kosong.

Ketika kita terus menerus hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain kita akan kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Kita menjadi asing dengan perasaan sendiri dan bingung apa yang sebenarnya membuat kita bahagia. Kehilangan jati diri adalah puncak dari kelelahan mental yang sesungguhnya.

Perbedaan Lelah Fisik dan Lelah Emosional

Sangat penting bagi kita untuk bisa membedakan antara lelah fisik dan lelah emosional agar penanganannya tepat. Lelah fisik biasanya ditandai dengan otot yang pegal mata yang berat dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Solusi untuk lelah jenis ini cukup sederhana yaitu tidur yang berkualitas dan asupan nutrisi yang baik.

Sementara itu lelah emosional memiliki gejala yang lebih kompleks dan sering kali tidak kasat mata. Gejalanya bisa berupa rasa mudah tersinggung kehilangan motivasi hidup merasa hampa hingga gangguan kecemasan yang muncul tiba tiba. Orang yang mengalami lelah emosional sering kali merasa ingin melarikan diri dari kenyataan hidup.

Jika Anda merasa tidur berjam jam tidak membuat Anda merasa segar kembali maka itu adalah tanda merah. Itu artinya jiwa Anda yang butuh istirahat bukan sekadar raga Anda. Jiwa yang lelah membutuhkan ketenangan kejujuran dan penerimaan diri bukan sekadar bantal yang empuk.

Bahaya Toxic Positivity

Di era media sosial seperti sekarang ini kita sering terpapar dengan konten yang menyuarakan semangat positif yang berlebihan atau toxic positivity. Kita dituntut untuk selalu bersyukur dan melihat sisi baik dari segala hal tanpa diberi ruang untuk mengeluh. Padahal perasaan sedih kecewa dan marah adalah emosi manusiawi yang valid dan perlu dirasakan.

Memaksa diri untuk selalu positif di saat hati sedang hancur adalah bentuk penyiksaan diri yang kejam. Hal ini sama saja dengan membalut luka yang bernanah dengan perban tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Luka itu tidak akan sembuh malah akan semakin parah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Mengizinkan diri untuk merasa sedih atau menangis bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah mekanisme alami tubuh untuk membuang racun racun emosi yang menumpuk. Menangis bisa menjadi sarana pelepasan yang sangat melegakan dan membuat beban di dada terasa lebih ringan.

Cara Memulihkan Energi yang Hilang

Langkah pertama untuk mengatasi kelelahan akibat berpura pura adalah dengan mulai belajar jujur pada diri sendiri. Akui bahwa Anda sedang tidak baik baik saja dan itu adalah hal yang normal. Anda tidak perlu menjadi pahlawan super yang selalu kuat di setiap situasi.

Mulailah menetapkan batasan atau boundaries yang sehat dengan orang orang di sekitar Anda. Belajarlah untuk berkata "tidak" pada hal hal yang memang tidak ingin Anda lakukan. Berani menolak bukan berarti Anda jahat tetapi Anda sedang menghargai kapasitas dan kesehatan mental diri sendiri.

Carilah ruang aman atau safe space di mana Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Ruang aman ini bisa berupa sahabat terdekat pasangan atau bahkan profesional seperti psikolog. Bercerita secara jujur tentang apa yang Anda rasakan adalah terapi terbaik untuk melepas topeng yang selama ini menyiksa.

Luangkan waktu untuk melakukan hal hal yang benar benar Anda sukai tanpa memikirkan pendapat orang lain. Entah itu sekadar berjalan jalan sendirian di taman membaca buku atau melukis. Kembalikan koneksi dengan diri sendiri dan berikan cinta yang selama ini Anda berikan ke orang lain kepada diri Anda sendiri.

Ingatlah bahwa istirahat bukan hanya soal memejamkan mata. Istirahat yang sejati adalah ketika Anda berhenti berpura pura dan mulai berani tampil apa adanya. Dunia akan tetap berputar meskipun Anda sesekali menunjukkan wajah lelah Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live