Cara Berhenti Melakukan Self Sabotage dan Mulai Menghargai Diri Sendiri
Nisrina - Wednesday, 04 March 2026 | 10:15 AM


Pernah nggak sih lo ngerasa hidup lagi asyik-asyiknya, karier lagi nanjak, atau hubungan asmara lagi manis-manisnya, tapi tiba-tiba lo malah melakukan sesuatu yang bikin semuanya berantakan? Misalnya, lo tiba-tiba menghilang (ghosting) pas gebetan udah ngajak serius, atau lo malah begadang nonton series nggak jelas padahal besok pagi ada presentasi gede di depan bos. Kalau lo pernah ngerasain itu, selamat datang di klub self-sabotage.
Jujur aja, fenomena self-sabotage ini emang rada absurd. Bayangin, kita yang pengen sukses, kita yang pengen bahagia, tapi kita juga yang naruh batu di jalan sendiri biar kesandung. Rasanya kayak lagi main bola, gawang udah kosong, eh kita malah nendang bolanya ke luar stadion. Aneh, kan? Tapi di balik perilaku "nyari penyakit" ini, ternyata ada alasan psikologis yang cukup dalem dan seringkali bikin nyesek kalau dikulik.
Kenapa Kita Menghancurkan Kesempatan Sendiri?
Salah satu alasan paling klasik kenapa orang melakukan self-sabotage adalah karena rasa tidak pantas untuk sukses. Istilah kerennya, low self-esteem yang udah mendarah daging. Kita sering punya narasi di kepala yang bilang, "Ah, gue mah cuma beruntung aja," atau "Ini bentar lagi juga bakal ancur kok, liat aja." Ketika kesempatan emas dateng, mental kita bukannya siap tempur, malah panik karena merasa nggak layak dapet barang sebagus itu.
Efeknya? Kita bakal nyari cara bawah sadar buat ngerusak situasi itu supaya kita balik lagi ke "zona nyaman" kita yang sebenernya nggak nyaman-nyaman amat: yaitu zona kegagalan. Karena buat sebagian orang, gagal itu lebih familiar daripada sukses. Gagal itu rasanya udah biasa, jadi nggak perlu kaget. Sementara sukses? Wah, itu tanggung jawab baru, ekspektasi baru, dan ketakutan baru kalau nanti jatuh dari ketinggian.
Bayang-bayang Masa Lalu dan Trauma yang Belum Selesai
Nah, kalau kita mau gali lebih dalem lagi, biasanya ada jejak trauma masa lalu yang ikut main. Mungkin dulu waktu kecil lo sering dikritik pedas sama orang tua atau guru pas lo lagi bangga-bangganya sama sesuatu. Atau mungkin, lo pernah gagal total di masa lalu dan rasa sakitnya masih kerasa sampe sekarang. Trauma ini bikin otak kita masang alarm otomatis: "Hati-hati, jangan terlalu seneng, nanti jatuhnya sakit."
Akhirnya, sabotase diri jadi semacam mekanisme pertahanan diri yang salah kaprah. Kita mendingan ngerusak semuanya sekarang atas kemauan kita sendiri, daripada nunggu dunia yang ngerusak itu dan kita nggak punya kendali apa-apa. Ibaratnya, lo mending mutusin pacar lo duluan karena lo takut suatu saat nanti dia bakal ninggalin lo. Padahal hubungannya lagi baik-baik aja. Sedih nggak tuh?
Wujud Sabotase Diri dalam Keseharian
Self-sabotage itu bentuknya macem-macem, dan seringkali kedoknya rapi banget. Simak nih, mungkin ada yang lo lakuin tanpa sadar:
- Prokrastinasi alias Menunda-nunda: Bukan karena lo males, tapi karena lo takut hasilnya nggak sempurna atau lo takut kalau lo beneran ngerjain, lo bakal ketahuan kalau lo "nggak kompeten".
- Perfeksionisme: Lo bikin standar yang nggak masuk akal tingginya sampe lo sendiri stres dan akhirnya nggak mulai-mulai ngerjain tugas itu. Ujung-ujungnya? Gagal juga.
- Negative Self-Talk: Lo adalah kritikus paling kejam buat diri lo sendiri. Belum juga nyoba, udah bilang "Gue nggak bakal bisa" atau "Ini bukan level gue".
- Self-Medication yang Berlebihan: Pelarian ke alkohol, belanja impulsif, atau main game sampai pagi pas lagi banyak tekanan kerjaan.
Observasi gue sih, anak muda jaman sekarang sering kejebak di "hustle culture" tapi di saat yang sama kena "burnout" parah karena sebenernya mereka lagi mensabotase diri sendiri. Mereka kerja keras banget sampe sakit, biar mereka punya alasan kalau nanti gagal: "Ya wajar gagal, kan gue kurang istirahat." Padahal itu cuma tameng buat ngelindungin ego mereka.
Gimana Caranya Berhenti Jadi Musuh Diri Sendiri?
Keluar dari lingkaran setan self-sabotage emang nggak semudah membalikkan telapak tangan atau sekadar dengerin podcast motivasi sambil ngopi. Langkah pertama yang paling krusial adalah kesadaran (awareness). Lo harus mulai jujur sama diri sendiri: "Gue lagi ngerusak ini karena gue takut ya?" atau "Gue lagi nunda ini karena gue ngerasa nggak pantes ya?"
Berhenti jadi perfeksionis juga penting. Kasih ruang buat diri lo buat berbuat salah. Inget, kegagalan itu bagian dari proses, bukan akhir dari dunia. Dan yang nggak kalah penting, mulai pelan-pelan berdamai sama masa lalu. Kalau emang traumanya kerasa berat banget, nggak ada salahnya lho dateng ke profesional kayak psikolog. Jangan nunggu "meledak" baru nyari bantuan.
Lo pantas kok buat sukses. Lo pantas buat dicintai tanpa harus ngerasa was-was kapan itu semua bakal berakhir. Jangan biarkan ketakutan-ketakutan di kepala lo jadi sutradara buat hidup lo. Sesekali, coba deh percaya kalau hal baik yang terjadi di hidup lo itu emang hasil kerja keras lo, bukan cuma sekadar "kebetulan".
Jadi, besok kalau ada kesempatan bagus dateng lagi, jangan langsung kabur ya? Hadapi aja. Kalaupun gagal, setidaknya lo gagal karena udah mencoba, bukan karena lo sendiri yang narik pelatuk buat nembak kaki lo sendiri. Semangat, ya!
Next News

Benarkah Bawang Bombai di Kaki Bisa Sembuhkan Pilek?
in 5 hours

Makan Enak Tapi Tetap Anemia? Mungkin Ini Akibat Kebiasaan Minum Es Tehmu!
in 7 hours

Waspada Bencana di Perut Akibat Makan Semangka Setelah Daging
in 6 hours

Bagaimana Dehidrasi Ringan Bisa Mengacak-acak Saraf Penciumanmu?
in 4 hours

Cara Mengatasi Bias Kognitif Agar Tidak Salah Ambil Keputusan
in 2 hours

Sering Mules Pas Mau Presentasi? Ini Penjelasan Medisnya
in an hour

Bahaya Inflamasi Kronis Pemicu Penuaan Dini dan Penyakit Autoimun
in 35 minutes

Cara Ampuh Berhenti Overthinking dan Menyiksa Diri Sendiri
30 minutes ago

Tips Mengatasi Amygdala Hijack Akibat Media Sosial dan Kerjaan
10 minutes ago

Bangun Tidur Langsung Ingin Ngamuk? Atasi Gejala Sumbu Pendek Ini
an hour ago






