Ceritra
Ceritra Warga

Makan Enak Tapi Tetap Anemia? Mungkin Ini Akibat Kebiasaan Minum Es Tehmu!

Refa - Wednesday, 04 March 2026 | 05:00 PM

Background
Makan Enak Tapi Tetap Anemia? Mungkin Ini Akibat Kebiasaan Minum Es Tehmu!
Ilustrasi es teh (pexels.com/Chu Chup Hinh)

Dilema Sate Kambing dan Es Teh Manis: Kenikmatan Hakiki yang Ternyata Menghambat Nutrisi

Siapa sih yang bisa menolak godaan sepiring sate kambing yang lemaknya masih mendesis, atau semangkuk bakso urat dengan kuah kaldu yang gurihnya minta ampun? Di tengah cuaca Indonesia yang seringkali bikin gerah, pendamping paling setia untuk hidangan berat semacam itu biasanya cuma satu, gelas besar berisi es teh manis. Perpaduan ini sudah seperti duet maut yang nggak terpisahkan di warung pinggir jalan manapun, mulai dari Warteg sampai restoran mewah di mall.

Tapi, ada sebuah kenyataan pahit yang harus kita telan bareng es batu di dalam gelas itu. Ternyata, kebiasaan minum es teh saat makan daging atau makanan kaya zat besi lainnya, itu sebenarnya tindakan sabotase terhadap tubuh sendiri. Ibaratnya, kamu sudah capek-capek investasi beli daging mahal, tapi manfaatnya malah dihadang sama minuman yang harganya cuma lima ribu perak. Kenapa bisa begitu? Mari kita bongkar pelan-pelan tanpa perlu kerutan di dahi.

Si Pelaku Utama Bernama Tanin

Kalau kita bicara soal teh, ada satu zat yang jadi primadona sekaligus biang kerok dalam konteks ini, namanya tanin. Tanin adalah salah satu jenis polifenol yang memberikan rasa sepat yang khas pada teh. Sebenarnya, tanin ini punya sifat antioksidan yang bagus buat tubuh kalau dikonsumsi di waktu yang tepat. Masalah baru muncul ketika tanin bertemu dengan zat besi dari makanan yang baru saja masuk ke lambung kita.

Cara kerjanya begini: bayangkan zat besi adalah nutrisi berharga yang mau masuk ke dalam aliran darah lewat dinding usus. Nah, si tanin ini sifatnya posesif banget. Begitu mereka ketemu di dalam perut, tanin akan mengikat zat besi tersebut dan membentuk senyawa kompleks yang nggak larut. Karena bentuknya jadi besar dan nggak larut, si zat besi ini jadi macet dan nggak bisa diserap oleh usus. Akhirnya apa? Ya, zat besi itu cuma sekadar lewat di saluran pencernaan dan berakhir di pembuangan tanpa sempat memberikan manfaat buat tubuh.

Daging Adalah Sumber Zat Besi Terbaik, Tapi...

Perlu kita tahu, zat besi itu ada dua jeni, yaitu heme dan non-heme. Zat besi heme berasal dari sumber hewani kayak daging merah, hati ayam, atau ikan. Sementara non-heme berasal dari tumbuhan kayak bayam atau kacang-kacangan. Secara teori, zat besi heme dari daging itu lebih mudah diserap tubuh dibandingkan yang dari sayuran. Namun, kekuatan blokir dari teh ini saking saktinya sampai-sampai penyerapan zat besi dari daging pun bisa anjlok drastis.

Beberapa penelitian menyebutkan kalau minum teh saat makan bisa menurunkan penyerapan zat besi hingga 50 sampai 60 persen. Bayangkan, kamu makan steak seharga ratusan ribu, tapi tubuhmu cuma dapat setengah nutrisinya gara-gara segelas es teh. Kan, sayang banget? Ini bukan sekadar mitos kesehatan yang disebar di grup WhatsApp keluarga, tapi murni urusan reaksi kimia di dalam perut kita.

Anemia: Musuh Tersembunyi di Balik Segarnya Es Teh

Mungkin ada yang membatin, "Ah, gue sering minum es teh tiap makan daging tapi sehat-sehat aja tuh?" Nah, ini dia masalahnya. Dampak dari kurangnya penyerapan zat besi itu nggak langsung terasa kayak sakit perut atau pusing setelah makan. Efeknya itu jangka panjang dan merayap pelan. Istilah populernya adalah 5L: Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lalai.

Kalau kebiasaan ini diteruskan bertahun-tahun, cadangan zat besi dalam tubuh bakal menipis dan memicu anemia defisiensi besi. Gejalanya ya itu tadi, kamu gampang capek, konsentrasi buyar, muka pucat, bahkan rambut rontok. Buat anak muda yang mobilitasnya tinggi, ini jelas bakal mengganggu performa kerja atau kuliah. Masa iya, masih muda tapi kalau naik tangga sedikit langsung ngos-ngosan kayak habis lari maraton?

Lalu, Harus Minum Apa Dong?

Nggak usah sedih, bukan berarti kamu harus memusuhi es teh selamanya. Kita cuma butuh strategi sedikit biar tetap bisa menikmati hidup sekaligus tetap sehat. Kuncinya ada pada waktu. Para ahli gizi biasanya menyarankan untuk memberi jeda sekitar satu sampai dua jam sebelum atau sesudah makan kalau mau minum teh. Kasih waktu buat usus kita buat panen zat besi dulu tanpa gangguan si tanin.

Kalau butuh teman minum yang segar saat makan daging, pilihan paling aman dan paling juara tetap air putih. Tapi kalau merasa air putih kurang memberikan sensasi nendang, coba beralih ke es jeruk atau minuman yang mengandung vitamin C tinggi. Kenapa? Karena vitamin C adalah sahabat sejati zat besi. Berbanding terbalik dengan teh, vitamin C justru membantu mempercepat dan memaksimalkan penyerapan zat besi di usus. Jadi, kalau makan sate, minumnya es jeruk, itu baru kolaborasi yang saling menguntungkan (symbiosis mutualism, kalau kata buku biologi SMP).

Kesimpulan yang Agak Berat untuk Diterima

Mengubah kebiasaan makan memang nggak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau sudah mendarah daging (pun intended). Budaya "makan apa saja, minumnya teh..." sudah terlalu melekat di kepala kita lewat iklan-iklan yang ikonik. Tapi demi investasi kesehatan masa depan, nggak ada salahnya mulai pilih-pilih partner untuk makanan kita.

Daging merah itu sumber nutrisi yang hebat, dan teh adalah minuman yang punya banyak manfaat antioksidan. Masalahnya cuma satu, mereka berdua nggak ditakdirkan untuk berada di dalam perut di waktu yang bersamaan. Jadi, lain kali kalau pelayan di warung tanya, "Minumnya apa, Mas/Mbak?", mungkin ini saatnya kamu menjawab dengan mantap, "Air putih aja, atau es jeruk deh kalau ada!"

Menjadi sehat nggak harus selalu makan makanan hambar atau menghindari kesenangan. Kadang, sehat itu cuma soal tahu kapan harus menunda segelas es teh manis demi tubuh yang lebih berenergi. Yuk, mulai hargai zat besi yang sudah susah payah kita beli lewat makanan enak!

Logo Radio
🔴 Radio Live