Ceritra
Ceritra Update

Langkah PM Kishida di Makam Tentara Jadi Sorotan

- Wednesday, 29 October 2025 | 03:00 PM

Background
Langkah PM Kishida di Makam Tentara Jadi Sorotan

Ketika Sejarah Kelam Berbisik di Labuan: Ziarah Kontroversial PM Kishida yang Bikin Geger Seantero Asia

Namanya juga pejabat tinggi, gerak-geriknya pasti selalu jadi sorotan. Tapi kali ini, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida sukses bikin geger bukan karena kebijakan ekonomi atau manuver politiknya, melainkan gara-gara sebuah kunjungan yang sebetulnya terlihat biasa saja di mata orang awam: berziarah ke makam tentara. Eits, jangan salah sangka. Ini bukan makam sembarangan, dan tentu saja, bukan pula kunjungan yang bebas kontroversi.

Adalah Pemakaman Perang Labuan di Malaysia yang jadi saksi bisu kunjungan Kishida. Dari namanya saja sudah tercium aroma sejarah, kan? Namun, aroma itu berubah jadi bau mesiu polemik setelah publik tahu persis siapa saja 'penghuni' makam yang diziarahi sang PM. Mereka adalah para tentara Kekaisaran Jepang. Ya, betul sekali, tentara yang dulu – di masa Perang Dunia II – menjadi bagian dari kekuatan invasi brutal yang menancapkan kukunya di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan banyak negara lain.

Bukan rahasia lagi, invasi dan pendudukan Kekaisaran Jepang kala itu bukan cuma soal adu strategi perang atau perebutan wilayah. Ada cerita-cerita kelam tentang kekejaman, eksploitasi, dan penderitaan yang membekas sampai sekarang. Jadi, nggak heran kalau kunjungan Kishida ini langsung disambar kritik pedas dari berbagai penjuru. Ibarat kata, luka lama yang sudah lumayan kering, tiba-tiba diungkit lagi, malah ditaburi garam oleh orang yang 'punya' sejarah kelam di baliknya.

Para pengkritik, dengan nada geram, menuding Kishida seolah abai, bahkan mungkin sengaja menihilkan, sejarah kelam kejahatan perang yang dilakukan bangsanya. Mereka merasa tindakan ini menyinggung perasaan, bahkan melukai hati bangsa-bangsa yang pernah merasakan getirnya penjajahan dan kebrutalan tentara Jepang. Bayangkan, jutaan nyawa melayang, kekayaan alam dijarah, harga diri diinjak-injak. Lalu, tiba-tiba pemimpin dari negara yang bertanggung jawab atas itu berziarah ke makam para pelakunya, seolah semuanya baik-baik saja dan tak pernah ada kisah mengerikan di baliknya.

Fenomena ini, jujur saja, bukan hal baru. Jepang punya 'PR' besar soal sejarah perang mereka. Kita semua mungkin sudah akrab dengan kontroversi yang rutin muncul setiap kali pejabat Jepang berziarah ke Kuil Yasukuni. Kuil itu, bagi sebagian besar masyarakat Asia yang pernah jadi korban penjajahan, bukan cuma tempat ibadah. Ia sudah jadi simbol militerisme masa lalu, sekaligus tempat penghormatan bagi para penjahat perang yang bertanggung jawab atas genosida dan kekejaman yang tak termaafkan. Nah, kunjungan Kishida ke Labuan ini, mau nggak mau, jadi semacam 'mini Yasukuni' di mata para kritikus dan para korban.

Memang sih, mungkin saja Fumio Kishida punya niat yang mulia. Bisa jadi ia bilang kunjungannya itu bertujuan untuk mendoakan semua korban perang, tanpa memandang kubu mana, dan untuk perdamaian dunia. Niat baik memang patut dihargai. Tapi di ranah politik dan sejarah, niat baik saja seringkali nggak cukup. Apalagi kalau konteksnya seberat ini. Kritikus tetap menyoroti kurangnya penyesalan yang tulus dan sensitivitas terhadap korban. Seolah-olah, upaya untuk 'move on' dari sejarah kelam ini dilakukan tanpa benar-benar menghadapi dan meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Ini yang bikin sebagian pihak jadi agak sebel, karena terkesan ingin cuci tangan dari tanggung jawab moral dan historis.

Ini jadi dilema klasik, bukan? Bagaimana sebuah negara bisa menghormati para prajuritnya yang gugur dalam perang, tanpa pada saat yang sama, mengabaikan fakta bahwa prajurit-prajurit itu adalah bagian dari sebuah mesin perang yang melakukan kekejaman? Di satu sisi, ada pengorbanan personal yang mungkin tulus. Di sisi lain, ada konteks historis yang tak terbantahkan, yang melibatkan kekerasan berskala besar. Bagi negara-negara korban, titik keseimbangan itu terletak pada pengakuan penuh atas kesalahan masa lalu, permintaan maaf yang tulus, dan penyesalan yang nyata. Tanpa itu, setiap gesture yang terkait dengan memori perang bisa jadi bumerang, mengoyak luka lama yang belum sembuh total dan malah bikin keruh suasana.

Kita semua tahu, sejarah itu bukan cuma deretan angka dan nama. Sejarah itu kumpulan cerita, pengalaman, dan memori yang hidup di benak banyak orang, bahkan turun-temurun. Nah, memori tentang pendudukan Jepang ini, di banyak negara Asia Tenggara, masih sangat kuat. Cerita-cerita dari kakek-nenek kita tentang sulitnya hidup di zaman Jepang, tentang romusha, tentang 'jugun ianfu' – semua itu bukan dongeng pengantar tidur. Itu adalah fakta pahit yang mengendap dalam memori kolektif. Makanya, ketika ada kunjungan seperti Kishida ini, sentimen yang muncul bukan cuma kemarahan, tapi juga kesedihan dan rasa tak dihargai, seolah-olah penderitaan mereka dianggap sepele.

Pada akhirnya, episode di Labuan ini kembali mengingatkan kita betapa sensitifnya isu sejarah, terutama yang melibatkan kekerasan dan penjajahan. Ini bukan cuma soal benar atau salah, tapi juga soal etika, moral, dan empati. Bagi Jepang, ini adalah pengingat bahwa 'PR' sejarah mereka belum tuntas. Rekonsiliasi sejati, tampaknya, masih menjadi jalan panjang yang memerlukan lebih dari sekadar kunjungan ke makam. Ia butuh pengakuan yang paripurna, penyesalan yang jujur, dan komitmen untuk memastikan bahwa kekejaman semacam itu takkan pernah terulang lagi. Semoga saja, pelajaran dari Labuan ini tak hanya sekadar jadi polemik sesaat, tapi juga memicu refleksi yang lebih dalam bagi semua pihak yang terlibat, demi masa depan yang lebih damai dan saling menghargai.

Logo Radio
🔴 Radio Live