Ceritra
Ceritra Uang

Kereta Cepat Whoosh dan Jerat Utang: Kenapa Negosiasi Ulang Jadi Angin Segar?

- Saturday, 25 October 2025 | 03:00 PM

Background
Kereta Cepat Whoosh dan Jerat Utang: Kenapa Negosiasi Ulang Jadi Angin Segar?

Siapa yang tak kenal Whoosh? Kereta cepat kebanggaan kita yang melaju dari Jakarta ke Bandung dalam hitungan menit. Dulu, kereta ini hadir sebagai simbol kemajuan, sebuah lompatan teknologi transportasi yang bikin kita semua berdecak kagum. Tapi di balik kecepatan dan kemegahannya, ada satu "penumpang" lain yang ikut di gerbong Whoosh: utang. Dan ternyata, penumpang ini lumayan "berat di ongkos," sampai-sampai bikin para petinggi di Kementerian Keuangan harus putar otak. Nah, kabar teranyar yang bikin banyak orang, terutama di lingkaran ekonomi, sedikit bernapas lega datang dari Purbaya Yudhi Sadewa. Beliau ini Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, bukan kaleng-kaleng lah pokoknya. Begitu mendengar rencana negosiasi ulang utang proyek Kereta Cepat Whoosh, acungan jempol dan kata "top" langsung meluncur dari mulutnya. Kenapa bisa begitu? Sederhana saja, menurut beliau, negosiasi adalah langkah terbaik, bukan sembarang langkah, tapi *terbaik*, untuk mengatasi beban utang yang sekarang ini memang dinilai memberatkan. Ini bukan soal menyerah kalah, tapi lebih ke mencari jalan tengah biar sama-sama enak, atau setidaknya, biar kita nggak terlalu tercekik. Memangnya seberat apa sih utang Kereta Cepat Whoosh ini sampai harus dinegosiasi ulang? Begini ceritanya. Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti syarat utang dari China Development Bank (CDB) yang disepakati sebelumnya. Kalau kata anak muda sekarang, ini tuh "PR banget." Coba bayangkan, bunganya 3,4% per tahun. Angka ini mungkin terdengar lumrah di telinga sebagian orang, tapi untuk pinjaman skala triliunan rupiah dengan jangka waktu yang panjang, angka 3,4% itu bisa membengkak jadi beban yang bikin pusing tujuh keliling. Apalagi, tenornya cuma 30 tahun. Dan ada masa tenggang 10 tahun, di mana kita hanya perlu membayar bunganya saja. Kelihatannya enak di awal, tapi ya itu, seperti makan mi instan, kenikmatan sesaat bisa jadi masalah di kemudian hari kalau nggak dihitung matang-matang. Purbaya, dengan segala pengalaman dan kepakarannya, nggak cuma ngasih acungan jempol doang. Beliau juga ngasih "wishlist" alias daftar target yang harus banget dikejar dalam negosiasi nanti. Pertama, bunga! Ia menyarankan pemerintah menargetkan penurunan suku bunga sampai di bawah 2%, atau kalau bisa malah menyentuh angka 1%. Ini namanya "berburu diskon" di level tertinggi. Mengapa begitu ngotot dengan angka ini? Karena setiap poin persentase itu sangat berarti, terutama untuk proyek raksasa seperti Whoosh. Bayangkan berapa triliun yang bisa dihemat kalau bunga bisa ditekan serendah itu. Kedua, tenor atau jangka waktu pengembalian pinjaman. Dari yang tadinya 30 tahun, Purbaya berharap bisa diperpanjang jadi 40-50 tahun. Ini kayak minta cicilan KPR yang lebih panjang biar angsuran per bulannya nggak terlalu mencekik. Lebih lega, kan? Belum selesai sampai di situ. Target ketiga adalah perpanjangan masa tenggang (grace period) hingga 20 tahun. Artinya, selama dua dekade pertama, kita hanya perlu membayar bunganya saja, memberi ruang napas yang lebih panjang bagi proyek Whoosh untuk benar-benar mapan dan menghasilkan keuntungan. Dan yang terakhir, skema pembayaran "bullet payment" di akhir. Ini artinya pokok pinjaman baru dibayar lunas sekaligus di akhir masa tenor. Skema ini memang punya risiko, tapi kalau diatur dengan baik, bisa sangat meringankan beban kas di awal-awal operasional proyek. Ibaratnya, kita fokus dulu bikin usahanya jalan, baru nanti pas sudah untung banyak, bayar utang pokoknya sekaligus. Kedengarannya cukup masuk akal, ya? Intinya, menurut Purbaya, negosiasi ini bukan tanda menyerah atau mengakui kegagalan. Jauh dari itu. Ini adalah upaya cerdas dan pragmatis untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih adil dan meringankan beban proyek. Tujuannya cuma satu: agar proyek Whoosh ini lebih layak secara finansial, bukan cuma di atas kertas, tapi juga di praktik lapangan. Dan yang lebih penting lagi, ini bertujuan agar proyek kebanggaan kita ini tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ujung-ujungnya dibiayai dari pajak rakyat, atau bahkan membebani generasi mendatang. Kita nggak mau dong anak cucu kita nanti harus mikirin "cicilan" Whoosh yang entah kapan lunasnya. Proses negosiasi ini sendiri akan dilakukan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebagai pihak pelaksana proyek, langsung dengan China Development Bank (CDB). Tentunya, mereka nggak sendirian. KCIC akan didukung penuh oleh pemerintah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa negara serius menangani masalah ini, dan semua pihak ingin mencari solusi terbaik. Besaran pinjaman yang akan dinegosiasikan ulang ini sendiri nggak main-main, sekitar USD 750 juta atau setara dengan Rp 11,6 triliun. Angka yang bikin deg-degan tapi juga harus dihadapi dengan kepala dingin. Memang, cerita pembangunan infrastruktur besar di mana-mana seringkali diwarnai drama finansial seperti ini. Seringkali proyek ambisius berhadapan dengan realitas ekonomi yang tak seindah rencana awal. Anggaran membengkak, asumsi meleset, dan tiba-tiba beban utang menjadi monster yang harus dijinakkan. Oleh karena itu, langkah negosiasi ulang ini adalah angin segar, sebuah pengakuan bahwa "tidak ada salahnya bernegosiasi untuk mendapatkan yang lebih baik." Ini seperti tawar-menawar di pasar, bedanya ini pasar global dengan taruhan triliunan rupiah dan masa depan infrastruktur bangsa. Kita semua tentu berharap agar negosiasi ini berjalan lancar dan membuahkan hasil yang positif. Whoosh adalah proyek yang penting, dan keberlanjutan finansialnya adalah kuncian agar ia bisa terus menjadi tulang punggung transportasi dan simbol kemajuan Indonesia. Semoga "acungan jempol" dari Purbaya Yudhi Sadewa ini menjadi awal dari napas lega yang panjang bagi Whoosh, bagi APBN, dan tentunya, bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Logo Radio
🔴 Radio Live