Ceritra
Ceritra Kota

Kenapa Surabaya Pakai Simbol Ikan dan Buaya? Ini Kisahnya

Refa - Thursday, 08 January 2026 | 01:30 PM

Background
Kenapa Surabaya Pakai Simbol Ikan dan Buaya? Ini Kisahnya
Patung Sura dan Baya (Pinterest/sartisamit)

Patung ikan hiu dan buaya yang saling melingkar menjadi ikon yang tak terpisahkan dari wajah Kota Surabaya. Monumen yang berdiri gagah di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan di bantaran Kalimas ini bukan sekadar hiasan kota, melainkan representasi visual dari cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-usul nama ibu kota Jawa Timur tersebut.

Legenda pertarungan Sura dan Baya telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Berikut adalah kisah lengkap di balik mitos tersebut.

Penguasa Laut dan Darat

Dikisahkan pada zaman dahulu, di lautan luas yang kini menjadi kawasan Surabaya, hiduplah dua hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau mengalah. Mereka adalah Sura, seekor ikan hiu (suro) yang menguasai lautan, dan Baya, seekor buaya yang merajai perairan sungai dan rawa-rawa.

Keduanya kerap terlibat perkelahian sengit saat berebut mangsa. Karena memiliki kekuatan, ketangkasan, dan keganasan yang seimbang, pertarungan mereka sering kali berlangsung berhari-hari tanpa ada pemenang maupun yang kalah.

Perjanjian Pembagian Wilayah

Merasa lelah dan bosan karena terus-menerus bertarung tanpa hasil, Sura dan Baya akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Keduanya membuat perjanjian pembagian wilayah kekuasaan untuk menghindari konflik di masa depan.

Dalam kesepakatan tersebut, diputuskan bahwa Sura berkuasa penuh di dalam air (laut) dan hanya boleh mencari mangsa di sana. Sementara itu, Baya berkuasa di daratan hingga sungai. Batas wilayah antara keduanya ditentukan pada tempat yang dicapai oleh air laut pada saat pasang surut. Berkat perjanjian ini, kedamaian sempat tercipta selama beberapa waktu.

Pengingkaran Janji dan Pertempuran Puncak

Namun, perdamaian tersebut tidak bertahan selamanya. Suatu hari, Sura merasa persediaan makanan di laut mulai menipis. Secara diam-diam, hiu tersebut mulai berburu mangsa di muara sungai. Awalnya aktivitas ini tidak diketahui, namun lama-kelamaan Baya memergoki tindakan Sura.

Baya pun murka. Ia menganggap Sura telah melanggar perjanjian perbatasan yang telah disepakati. Namun, Sura berkilah dengan alasan logis bahwa sungai juga mengandung air, sehingga itu masih menjadi wilayah kekuasaannya sebagai penguasa air.

Argumentasi ini memicu pertarungan dahsyat, jauh lebih sengit dari perkelahian-perkelahian sebelumnya. Dikisahkan bahwa air di sekitar tempat pertarungan berubah menjadi merah karena darah kedua hewan tersebut.

Dalam klimaks pertempuran, Baya berhasil menggigit pangkal ekor Sura. Sebaliknya, Sura juga menggigit ekor Baya dengan kuat hingga hampir putus. Karena terluka parah dan kesakitan, Sura akhirnya menyerah dan kembali ke laut. Baya pun berhasil mempertahankan wilayah sungai dan daratannya.

Filosofi "Sura Ing Baya"

Peristiwa pertarungan bersejarah inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama Surabaya. Masyarakat mempercayai bahwa nama tersebut merupakan gabungan dari "Sura" (ikan hiu) dan "Baya" (buaya).

Namun, dari sisi filosofi dan sejarah, nama Surabaya juga sering dikaitkan dengan frasa Jawa "Sura Ing Baya", yang memiliki makna "berani menghadapi bahaya". Simbolisme pertarungan ini kemudian diadopsi menjadi lambang resmi Pemerintah Kota Surabaya, yang menggambarkan semangat juang yang tidak mudah menyerah, selaras dengan julukannya sebagai Kota Pahlawan.

Logo Radio
🔴 Radio Live