Ceritra
Ceritra Teknologi

Kenapa Lightstick Bisa Tahu Posisi Duduk Kita? Membedah Kecanggihan Sistem Central Control

Refa - Monday, 15 December 2025 | 10:45 AM

Background
Kenapa Lightstick Bisa Tahu Posisi Duduk Kita? Membedah Kecanggihan Sistem Central Control
Lightstick Kpop (Pinterest/)

Bagi siapa pun yang pernah menonton potongan video konser K-Pop, pasti pernah dibuat merinding oleh pemandangan "lautan cahaya" (ocean of light) di area penonton. Ribuan cahaya dari lightstick penggemar bisa berubah warna secara bersamaan, berkedip mengikuti irama drum, bahkan membentuk pola bendera, tulisan, atau gradasi pelangi raksasa di tribun stadion.

Bagi orang awam, ini terlihat seperti sihir atau kekompakan fans yang luar biasa. Namun, di balik keindahan visual tersebut, tersimpan infrastruktur teknologi canggih yang mengubah sebuah "senter mahal" menjadi perangkat cerdas yang saling terhubung. Inilah penerapan nyata Internet of Things (IoT) di industri hiburan.

Bukan Sekadar Senter Berwarna

Di era awal K-Pop, penggemar hanya menggunakan balon warna-warni atau glowstick kimia biasa. Namun, industri K-Pop yang selalu lapar inovasi melahirkan official lightstick modern.

Perbedaan utamanya terletak di dalam gagangnya. Lightstick modern (sering disebut versi 2, 3, dst.) tidak hanya berisi baterai dan lampu LED. Di dalamnya tertanam micro-controller dan chip Bluetooth Low Energy (BLE). Chip inilah yang mengubah tongkat cahaya tersebut menjadi perangkat pintar yang bisa menerima dan mengirim sinyal nirkabel. Saat membeli lightstick resmi, kamu sebenarnya sedang membeli sebuah perangkat IoT mini.

Sistem Komando Terpusat (Central Control)

Kunci dari sinkronisasi cahaya yang serentak terletak pada sistem yang disebut Central Control atau Pengendali Terpusat di lokasi konser.

Sebelum konser dimulai, ribuan lightstick di dalam venue akan "diambil alih" oleh konsol utama yang dioperasikan oleh teknisi pencahayaan (lighting director). Melalui pemancar sinyal berdaya kuat di stadion, konsol ini mengirimkan perintah data ke setiap chip Bluetooth di lightstick penonton. Perintahnya sangat spesifik: "Detik ke-10 lagu ini, ubah warna jadi merah, kedip dua kali, lalu mati." Akibatnya, puluhan ribu perangkat merespons perintah tersebut dalam hitungan milidetik yang sama.

Mapping: Mengubah Manusia Menjadi Piksel

Teknologi yang paling mengagumkan adalah kemampuan membentuk pola tulisan atau gambar di tribun. Bagaimana konsol tahu bahwa lightstick milik si A harus berwarna putih untuk membentuk huruf, sementara milik si B di sebelahnya harus mati untuk menjadi latar belakang?

Jawabannya adalah Seat Mapping (Pemetaan Kursi). Sebelum konser, fans wajib mendaftarkan nomor tiket/kursi mereka ke aplikasi lightstick di ponsel dan menghubungkannya via Bluetooth. Data ini dikirim ke server pusat.

Dengan data ini, komputer pusat mengetahui posisi presisi setiap lightstick di stadion. Teknisi kemudian memperlakukan area penonton layaknya sebuah layar raksasa. Setiap satu lightstick yang dipegang fans dianggap sebagai satu "piksel" hidup. Dengan mengatur warna tiap piksel berdasarkan lokasinya, terciptalah gambar atau tulisan raksasa yang memukau artis di atas panggung.

Evolusi yang Terus Berlanjut

Teknologi ini terus berkembang. Beberapa lightstick generasi terbaru bahkan mulai menyertakan layar OLED kecil di gagangnya untuk menampilkan animasi, atau motor getar yang tersinkronisasi dengan bass lagu.

Melalui teknologi ini, fans bukan lagi sekadar penonton pasif. Mereka telah menjadi bagian aktif dari pertunjukan visual itu sendiri, dihubungkan oleh benang merah teknologi tak kasat mata yang menciptakan rasa kebersamaan yang magis.

Logo Radio
🔴 Radio Live