Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Hal Receh Bisa Bikin Ngakak? Ini Penjelasan Medisnya

Nisrina - Tuesday, 24 March 2026 | 04:15 PM

Background
Kenapa Hal Receh Bisa Bikin Ngakak? Ini Penjelasan Medisnya
Ilustrasi (Pexels/Keira Burton)

Bayangkan situasinya begini: Kamu lagi nongkrong di kafe yang estetik, suasananya tenang, dan semua orang lagi sibuk sama laptop masing-masing. Tiba-tiba, temen di sebelah kamu keseleo lidah pas mau mesen "Ice Americano" malah jadi "Ice Amis-amis-ano". Detik itu juga, pertahanan kamu runtuh. Kamu tertawa sampai sesak napas, padahal kalau dipikir-pikir secara logika, apa sih lucunya orang salah ngomong? Tapi ya itu dia, tawa itu refleks yang nggak bisa dicegah, kayak tagihan paylater yang datang di awal bulan.

Pernah nggak sih kamu mikir, kenapa sih manusia harus tertawa? Kenapa ekspresi kebahagiaan atau respons terhadap sesuatu yang absurd harus melibatkan suara "ha-ha-ha" yang dibarengi sama kontraksi otot perut dan mata yang berair? Kenapa kita nggak cukup bilang "Itu lucu" dengan nada datar kayak robot? Ternyata, di balik tawa receh kita saat melihat video kucing jatuh, ada mekanisme sains dan evolusi yang cukup ribet tapi seru buat dibahas.

Teori Ketidaksesuaian: Saat Otak Kena Prank

Secara psikologis, salah satu alasan paling populer kenapa kita tertawa adalah karena apa yang disebut sebagai Incongruity Theory atau Teori Ketidaksesuaian. Otak kita itu sebenarnya adalah mesin pembuat prediksi yang sangat handal. Setiap saat, otak menebak apa yang bakal terjadi selanjutnya berdasarkan pola yang sudah kita kenal. Nah, tawa muncul ketika ada "patahan" dalam prediksi itu.

Misalnya nih, ada jokes bapak-bapak: "Kenapa ikan hidup di air asin? Karena kalau di air gula nanti jadi manisan." Otak kita awalnya mengharapkan jawaban biologis yang serius, tapi tiba-tiba dibanting ke jawaban yang nggak nyambung tapi masuk akal secara plesetan. Glitch kecil di otak inilah yang memicu respons tawa. Kita tertawa karena kita merasa "tertipu" dengan cara yang menyenangkan. Semakin nggak terduga punchline-nya, biasanya semakin meledak tawa kita. Makanya, komedi itu soal timing dan kejutan. Kalau kamu sudah tahu ujung ceritanya, lucunya bakal diskon drastis, kan?

Tawa Sebagai "Sinyal Aman" dari Zaman Purba

Kalau kita tarik jauh ke belakang, ke zaman di mana nenek moyang kita masih sibuk berburu mammoth, tawa punya fungsi yang lebih vital daripada sekadar hiburan. Ada teori yang bilang kalau tawa adalah sinyal sosial untuk menunjukkan bahwa "semuanya baik-baik saja".

Coba bayangkan, ada seekor singa mendekat ke semak-semak. Semua orang tegang, jantung berdegup kencang, hormon adrenalin naik. Pas dicek, ternyata itu bukan singa, tapi cuma kelinci yang lagi lompat-lompat. Ketegangan itu tiba-tiba lepas, dan manusia purba bakal tertawa. Tawa ini adalah kode buat anggota kelompok lain yang bunyinya kira-kira: "Woy tenang, ini cuma salah sangka, kita nggak bakal mati kok!" Ini yang menjelaskan kenapa kita sering tertawa setelah baru saja melewati kejadian yang menyeramkan atau memalukan. Tawa adalah mekanisme coping untuk membuang stres yang menumpuk secara instan.

Benign Violation: Antara Lucu dan Kurang Ajar

Ada satu teori lagi yang nggak kalah menarik namanya Benign Violation Theory. Teori ini bilang kalau sesuatu itu lucu kalau ada "pelanggaran" tapi dalam batas yang "aman". Kenapa kita ketawa pas lihat temen kita jatuh kepeleset tapi nggak terlalu parah? Karena ada pelanggaran (orang jatuh itu sakit dan memalukan), tapi tetap aman (dia nggak sampai masuk ICU).

Inilah yang menjelaskan kenapa selera humor orang beda-beda. Ada yang suka dark jokes yang agak "nyerempet", ada juga yang merasa itu nggak lucu sama sekali tapi malah tersinggung. Kalau pelanggarannya terlalu berat, jatuhnya jadi tragedi. Kalau nggak ada pelanggaran sama sekali, jatuhnya jadi garing. Komedi adalah seni menari-nari di atas garis tipis antara hal yang tabu dan hal yang biasa saja.

Efek Sosial: Ketawa Itu Menular, Cuy!

Pernah nggak kamu nonton film komedi sendirian di kamar dan cuma senyum-senyum tipis, tapi pas nonton bareng temen-temen di bioskop, kamu malah ketawa ngakak sampai sakit perut? Nah, ini membuktikan kalau tawa itu sifatnya sosial. Penelitian menunjukkan kalau kita 30 kali lipat lebih mungkin tertawa kalau lagi bareng orang lain daripada pas lagi sendirian.

Tertawa adalah cara kita membangun koneksi atau bonding. Dengan tertawa bareng, kita seolah-olah bilang, "Eh, kita satu frekuensi nih, kita punya cara pandang yang sama terhadap dunia." Itulah kenapa dalam acara sitcom di TV sering ada suara tawa latar (laugh track). Tujuannya buat memancing otak kita supaya ikut tertawa, karena secara insting kita bakal ngikutin vibrasi sosial di sekitar kita. Jadi kalau kamu merasa nggak lucu-lucu amat tapi tetap ikut ketawa pas gebetan nge-jokes, itu sebenarnya insting purba kamu lagi berusaha buat PDKT.

Tawa Adalah Obat (Beneran, Bukan Kiasan)

Secara biologis, pas kita tertawa, otak kita kayak lagi pesta kembang api. Tubuh melepaskan endorfin, hormon yang bikin kita merasa happy dan bisa mengurangi rasa sakit. Selain itu, kadar kortisol alias hormon stres bakal turun drastis. Nggak cuma mental, fisik kita juga dapet manfaatnya. Tertawa itu kayak olahraga ringan buat paru-paru dan otot perut. Makanya ada istilah "tertawa sampai perut kaku".

Pada akhirnya, tertawa adalah salah satu hal paling manusiawi yang kita punya. Di tengah dunia yang makin absurd, berita yang bikin pusing, dan tekanan kerja yang nggak ada habisnya, kemampuan kita buat menertawakan hal-hal kecil adalah bentuk pertahanan diri yang paling murah dan efektif.

Jadi, kalau hari ini kamu melihat sesuatu yang receh, nggak usah ditahan-tahan. Ketawa aja. Mau itu video kucing, meme politik yang sarkas, atau sekadar ingat kejadian memalukan masa lalu, nikmati aja momen "glitch" di otak itu. Karena kalau kita nggak bisa lagi tertawa, mungkin dunia ini bakal terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.

Logo Radio
🔴 Radio Live