Ceritra
Ceritra Kota

Keagungan Pua Kumbu Dayak Iban yang Melampaui Sekadar Benang

Nisrina - Thursday, 18 December 2025 | 09:17 AM

Background
Keagungan Pua Kumbu Dayak Iban yang Melampaui Sekadar Benang
Menenun kain Pua Kumbu (KataKabar Online/)

Di kedalaman hutan hujan Kalimantan yang lembap dan mistis, di balik dinding-dinding kayu rumah panjang atau Rumah Betang, terdengar suara ritmis yang seolah menjadi detak jantung kehidupan masyarakat Dayak Iban. Itu adalah suara "hentakan" alat tenun gedogan, tempat para perempuan tangguh memintal kapas menjadi benang, dan menyusun benang menjadi sebuah mahakarya yang dikenal sebagai Pua Kumbu. Bagi masyarakat Dayak Iban, Pua Kumbu bukanlah sekadar selembar kain penutup tubuh atau hiasan dinding semata. Ia adalah benda sakral, sebuah medium komunikasi spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhur, alam semesta, dan Sang Pencipta.

Proses penciptaan selembar Pua Kumbu adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang dan penuh risiko, yang menempatkan penenun perempuan pada posisi yang sangat terhormat dalam struktur sosial Dayak Iban. Tidak sembarang orang bisa menenun motif-motif sakral. Para penenun tingkat tinggi, yang sering disebut sebagai "Indu Ngar", dipercaya mendapatkan inspirasi motif melalui mimpi yang dikirimkan oleh para dewa atau roh leluhur. Oleh karena itu, menenun bagi mereka adalah aktivitas "menangkap mimpi". Jika seorang penenun berani membuat motif tanpa wangsit atau mimpi yang kuat, dipercaya ia akan jatuh sakit atau mengalami parang (kutukan). Inilah mengapa setiap helai Pua Kumbu memiliki "jiwa" dan narasi yang unik; tidak ada dua kain yang benar-benar identik karena tidak ada dua mimpi yang sama persis.

Keistimewaan lain dari tenun ini terletak pada kesabarannya dalam meramu warna. Jauh sebelum tren pewarna alami menjadi gaya hidup ramah lingkungan di era modern, perempuan Dayak Iban telah menguasai kimia alam selama berabad-abad. Mereka masuk ke dalam hutan untuk mencari akar mengkudu, kulit kayu, dan dedaunan tertentu untuk menciptakan warna merah bata yang khas, warna cokelat tanah, dan hitam yang pekat. Proses pewarnaan ini, yang disebut Ngar, dilakukan melalui ritual khusus yang penuh pantangan. Warna-warna ini tidak akan pudar oleh waktu; sebaliknya, semakin tua usia kain, warnanya akan semakin matang dan "hidup", seolah menyimpan energi hutan yang tak pernah mati.

Dalam siklus kehidupan manusia Iban, Pua Kumbu hadir sebagai pelindung dan saksi. Kain ini menyambut bayi yang baru lahir ke dunia, menjadi selimut bagi pasangan yang menikah, menjadi bagian penting dalam upacara panen Gawai, hingga akhirnya menjadi penutup jenazah saat seseorang berpulang ke alam baka. Ia dianggap memiliki kekuatan magis untuk menolak bala, mengusir roh jahat, dan memagari jiwa penggunanya. Dalam konteks ini, kain tenun bertindak sebagai perisai spiritual yang ditenun dengan doa dan harapan di setiap baris benangnya.

Di tengah gempuran tekstil pabrikan yang diproduksi massal dengan harga murah, keberadaan Pua Kumbu adalah pengingat betapa berharganya sebuah proses. Ia mengajarkan kita tentang dedikasi, hubungan harmonis dengan alam, dan penghormatan terhadap dunia tak kasat mata. Mengapresiasi tenun Dayak Iban bukan hanya soal mengagumi keindahan motif pakis atau naga yang rumit, melainkan turut menjaga nyala api peradaban kuno yang luhur. Setiap helai Pua Kumbu yang kita lihat adalah bukti ketangguhan perempuan Dayak dalam menjaga memori leluhur agar tidak luntur ditelan zaman.

Logo Radio
🔴 Radio Live