Ceritra
Ceritra Uang

Kamus Wajib Investor Pemula Membedah Plus Minus Instrumen Dasar Investasi

Refa - Thursday, 11 December 2025 | 10:00 AM

Background
Kamus Wajib Investor Pemula Membedah Plus Minus Instrumen Dasar Investasi
Ilustrasi Investasi (Pinterest/)

Istilah investasi sering kali terdengar mengintimidasi bagi mereka yang baru pertama kali berniat menyisihkan sebagian gaji. Di media sosial, orang-orang pamer keuntungan saham yang fantastis, tapi di sisi lain berita tentang investasi bodong juga berseliweran. Kebingungan ini wajar terjadi, karena dunia keuangan memang memiliki banyak pintu masuk dengan risiko dan imbal hasil yang berbeda-beda.


Memilih instrumen investasi sebenarnya mirip dengan memilih kendaraan. Ada yang lambat tapi aman, ada yang cepat tapi berisiko kecelakaan. Agar tidak salah pilih "kendaraan" untuk tujuan keuangan di tahun 2026 nanti, kenali dulu karakter dasar dari tiga instrumen paling populer ini: Deposito, Emas, dan Saham.


Deposito

Bagi tipe orang yang tidak bisa tidur tenang jika melihat nilai uangnya turun walau sepeser pun, deposito adalah pilihan paling masuk akal. Instrumen perbankan ini bekerja dengan cara yang sangat sederhana. Nasabah menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu, bisa satu bulan hingga satu tahun, dan bank akan memberikan bunga yang persentasenya sudah dikunci di awal.


Kelebihan utamanya adalah keamanan. Nilai pokok uang tidak akan berkurang dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selama sesuai syarat. Namun, "biaya" dari keamanan ini adalah imbal hasil yang rendah. Bunga deposito sering kali hanya sedikit di atas inflasi, bahkan kadang kalah jika dipotong pajak. Deposito cocok untuk tujuan jangka pendek atau tempat parkir dana darurat.


Emas

Berbeda dengan deposito yang berupa angka di rekening, emas adalah aset fisik. Logam mulia ini sudah dipercaya selama ribuan tahun sebagai pelindung nilai kekayaan. Karakteristik emas cukup unik; harganya cenderung naik dalam jangka panjang mengikuti inflasi, namun bisa fluktuatif dalam jangka pendek.


Emas sangat cocok bagi investor tipe moderat yang ingin uangnya berkembang tapi tetap bisa dicairkan dengan mudah kapan saja. Emas bukanlah alat untuk menjadi kaya mendadak, melainkan alat untuk menjaga agar kekayaan tidak tergerus kenaikan harga barang. Jika tujuannya adalah menabung untuk biaya haji atau dana pendidikan anak lima tahun lagi, emas adalah kawan yang setia.


Reksadana

Jika merasa tidak punya cukup ilmu untuk mengelola uang sendiri tapi ingin hasil yang lebih baik dari deposito, reksadana adalah jawabannya. Konsepnya seperti naik bus, penumpang cukup membayar tiket (modal), lalu ada sopir profesional bernama Manajer Investasi yang akan mengemudikan uang tersebut ke berbagai aset seperti pasar uang, obligasi, atau saham.


Reksadana menjadi favorit generasi milenial karena modalnya sangat terjangkau, bisa dimulai dari puluhan ribu rupiah saja. Risikonya bervariasi tergantung jenis yang dipilih. Reksadana Pasar Uang sangat minim risiko mirip deposito, sedangkan Reksadana Saham memiliki risiko tinggi namun potensi keuntungannya juga besar.


Saham

Ini adalah instrumen dengan prinsip high risk high reward yang sesungguhnya. Membeli saham berarti membeli kepemilikan sebuah perusahaan. Keuntungannya didapat dari dua sumber: pembagian laba perusahaan (dividen) dan kenaikan harga saham (capital gain).


Potensi keuntungan saham bisa jauh melampaui deposito dan emas. Namun, risikonya juga brutal. Harga saham bisa anjlok dalam hitungan jam karena sentimen pasar atau kinerja perusahaan yang memburuk. Instrumen ini hanya disarankan bagi mereka yang sudah memiliki dana dingin, siap mental menghadapi kerugian, dan mau meluangkan waktu untuk belajar menganalisis kinerja perusahaan.


Memahami perbedaan karakter ini adalah langkah awal yang krusial. Tidak ada instrumen yang paling sempurna, yang ada hanyalah instrumen yang paling cocok dengan tujuan dan profil risiko masing-masing individu.

Logo Radio
🔴 Radio Live