Jangan Panik Dulu! Ini Alasan Kenapa Gempa Besar di Laut Tidak Selalu Picu Tsunami
Refa - Monday, 26 January 2026 | 02:30 PM


Setiap kali mendengar kabar gempa bumi yang berpusat di laut, kekhawatiran masyarakat akan ancaman tsunami pasti meningkat. Namun, faktanya tidak semua gempa laut, bahkan yang berkekuatan besar sekalipun, otomatis melahirkan gelombang raksasa.
Ahli geologi dan BMKG memiliki parameter ketat untuk menentukan potensi tsunami. Kunci utamanya bukan hanya pada besaran kekuatan (magnitudo), melainkan pada kedalaman pusat gempa dan mekanisme pergerakan tanahnya.
Berikut adalah penjelasan ilmiah sederhana mengapa gempa laut dalam (seperti yang baru terjadi di Maluku) tergolong aman dari tsunami:
1. Syarat Mutlak: Dasar Laut Harus "Naik-Turun"
Tsunami tercipta karena adanya perpindahan kolom air laut dalam jumlah masif secara tiba-tiba. Hal ini hanya bisa terjadi jika lantai samudera mengalami deformasi vertikal.
Bayangkan sebuah bak mandi yang dasarnya dipukul keras dari bawah hingga airnya muncrat keluar. Jika lempeng bumi hanya bergeser ke samping (mendatar/strike-slip), air laut tidak akan teraduk hebat. Tsunami hanya terjadi jika ada mekanisme patahan naik (thrust fault) atau patahan turun (normal fault) yang signifikan.
2. Faktor Peredam Tebal (Gempa Dalam)
Kedalaman pusat gempa (hiposenter) memegang peran krusial. Gempa bumi dikategorikan menjadi tiga berdasarkan kedalamannya:
- Gempa Dangkal (0 - 70 km): Paling berbahaya dan merusak. Energi ledakannya langsung mematahkan dasar laut.
- Gempa Menengah (70 - 300 km): Getaran terasa luas, namun energi perusak mulai berkurang.
- Gempa Dalam (> 300 km): Sangat jarang memicu tsunami.
Pada kasus gempa dalam, energi yang dilepaskan harus menembus lapisan batuan setebal ratusan kilometer sebelum mencapai permukaan dasar laut. Akibatnya, energi tersebut sudah teredam dan tidak cukup kuat untuk merobek atau mengangkat dasar laut. Tanpa deformasi dasar laut, tsunami tidak akan terbentuk.
3. Ambang Batas Magnitudo
Selain kedalaman dan jenis patahan, kekuatan gempa juga menjadi penentu. Secara teoritis, gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami yang merusak biasanya memiliki kekuatan minimal Magnitudo 7,0.
Gempa di bawah angka tersebut (misalnya M 5,0 - 6,0) umumnya tidak memiliki cukup energi untuk memindahkan volume air laut dalam skala yang mematikan, meskipun pusatnya dangkal.
Next News

Birthday Blues: Mengapa Sebagian Orang Justru Merasa Sedih Saat Ulang Tahun?
7 days ago

Mengapa Kita Senang Mendapat Ucapan Ulang Tahun?
7 days ago

Kue Ulang Tahun: Bagaimana Tradisi Ini Berawal?
7 days ago

Kenapa Tiup Lilin Menjadi Tradisi Saat Ulang Tahun?
7 days ago

Ulang Tahun: Mengapa Momen Bertambah Usia Selalu Terasa Istimewa?
7 days ago

Rumah Sebagai Safe Space: Mengapa Lingkungan Tempat Tinggal yang Bersih Memengaruhi Kesejahteraan Kita?
13 days ago

Menjemur di Bawah Matahari atau Di Tempat Teduh, Mana yang Lebih Baik?
13 days ago

Kebiasaan yang Tanpa Sadar Mengundang Kecoak, Tikus, dan Hama Lainnya Ke Rumah
13 days ago

Dari Mana Asal Debu di Rumah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
13 days ago

Jangan Asal Campur Bahan Pembersih Ini Risiko Fatalnya
13 days ago

