Ceritra
Ceritra Kota

Jajanan Ini Pernah Hits di Surabaya, Kamu Masih Ingat?

Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 12:00 PM

Background
Jajanan Ini Pernah Hits di Surabaya, Kamu Masih Ingat?
Jajan Rambut Nenek (Pinterest/)

Saat melintas di depan gerbang sekolah dasar pada jam bubaran, pemandangan yang tersaji mungkin sudah jauh berbeda. Anak-anak sekarang terlihat menenteng cup minuman boba ukuran besar, sosis bakar berlumur mayones, atau jajanan kemasan yang serba praktis. Tidak ada yang salah dengan itu, selera memang berubah seiring waktu.

Namun, bagi mereka yang tumbuh besar di Surabaya pada era 90-an atau awal 2000-an, pemandangan itu mungkin memantik sedikit rasa rindu. Rindu pada masa ketika uang koin lima ratus perak sudah terasa sangat berharga, dan kebahagiaan sore hari ditentukan oleh suara lonceng pedagang keliling yang lewat di depan pagar rumah. Di antara hiruk-pikuk kuliner kekinian, masih ingatkah dengan legenda-legenda manis berikut ini?

Ke mana perginya suara gesekan biola "Ngik-Ngok"?

Dulu, kehadiran jajanan ini bisa dideteksi dari jarak 50 meter. Bukan dari aroma, tapi dari suara gesekan alat musik sederhana menyerupai rebab atau biola yang bunyinya khas: "ngik... ngok... ngik... ngok...".

Itulah tanda kedatangan penjual Arum Manis atau sering disebut Rambut Nenek. Makanan ini sebenarnya sederhana, hanya gula yang ditarik sedemikian rupa hingga menjadi serat-serat halus berwarna merah muda atau hijau. Bagian terbaiknya adalah saat serat gula itu dijepit di antara dua keping simping (kerupuk tipis) yang renyah dan gurih.

Perpaduan tekstur simping yang kriuk dan gula yang langsung lumer di mulut adalah sensasi magis. Sayangnya, suara "ngik-ngok" itu kini makin jarang terdengar di gang-gang Surabaya, tergantikan oleh lapak arum manis modern di dalam mal yang dikemas plastik tebal.

Brondong, Popcorn Jadul

Nah, biasanya di gerobak yang sama dengan Rambut Nenek, ada satu stoples kaca besar berisi gumpalan-gumpalan putih dan merah muda. Orang menyebutnya Brondong.

Jauh sebelum kita mengenal popcorn bioskop yang asin beraroma mentega, lidah anak-anak Surabaya sudah lebih dulu akrab dengan brondong jagung ini. Bentuknya memang mirip popcorn mekar, tapi teksturnya lengket karena diselimuti karamel gula pasir yang mengeras.

Rasanya manis sederhana, tanpa neko-neko. Sensasi paling diingat adalah saat memakannya. Bunyinya kriuk renyah, tapi kemudian sisa-sisa gulanya akan menempel erat di gigi geraham. Meski kadang bikin ribet harus congkel-congkel gigi setelahnya, tetap saja tangan tak bisa berhenti mengambil lagi dan lagi.

Sensasi dingin Es Gabus dan Es Wawan

Di tengah cuaca Surabaya yang teriknya tak kenal ampun, es selalu jadi primadona. Sebelum era es krim cone minimarket menyerbu, ada Es Gabus atau es kue. Teksturnya unik, tidak sehalus es krim, tapi padat dan sedikit kenyal seperti busa (gabus) saat digigit. Biasanya dipotong dari loyang besar, lalu dibungkus kertas tipis cokelat atau plastik bening.

Lalu ada juga legenda bernama Es Wawan. Minuman beku dalam kemasan plastik unik yang bagian tengahnya menyempit seperti pinggang. Cara makannya butuh sedikit usaha: dipatahkan jadi dua di bagian tengahnya. Seringkali ada momen "sial" saat mematahkannya tidak seimbang, satu sisi terlalu pendek, sisi lain kepanjangan. Rasa cokelat, stroberi, atau anggurnya mungkin artifisial, tapi dinginnya sukses meredakan gerah sepulang sekolah.

Makanan memang mesin waktu yang paling ampuh. Satu gigitan arum manis bisa membawa ingatan melayang kembali ke masa ketika beban hidup terberat hanyalah PR Matematika yang belum dikerjakan.

Logo Radio
🔴 Radio Live