Ceritra
Ceritra Warga

Efek Nostalgia: Mengapa Kita Sering Rindu Suasana Teras Rumah Lama

Nisrina - Friday, 13 March 2026 | 06:15 AM

Background
Efek Nostalgia: Mengapa Kita Sering Rindu Suasana Teras Rumah Lama
The Art of Nostalgia (artcrasher.com/Bumblebeelovesyou)

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, tiba-tiba lewat video pendek yang isinya cuma kompilasi lagu pembuka kartun Minggu pagi atau suara tukang es tung-tung yang lewat di depan rumah? Detik itu juga, perasaan kamu kayak ditarik paksa keluar dari realita kantor yang sumpek, langsung mendarat di teras rumah lama sambil megang segelas Nutrisari dingin. Rasanya hangat, agak nyesek dikit, tapi nagih.

Fenomena ini bukan hal aneh. Nostalgia masa kecil itu ibarat narkoba legal buat orang dewasa. Mau kamu Gen X, Millennial, sampai Gen Z awal, obrolan soal "eh, inget nggak dulu pas kita..." bakal selalu jadi topik paling laris di tongkrongan. Tapi pertanyaannya, kenapa sih kita seolah-olah gagal move on dan selalu merasa masa lalu itu jauh lebih indah daripada cicilan paylater yang harus dibayar bulan depan?

Dunia yang Jauh Lebih Sederhana (Tanpa Notifikasi Kantor)

Alasan paling klise tapi paling bener adalah karena masa kecil itu masanya "hidup tanpa beban". Dulu, masalah paling berat dalam hidup kita mungkin cuma PR matematika yang nggak kelar-kelar atau takut ketahuan ibu karena nggak tidur siang. Bandingkan dengan sekarang: bangun tidur aja udah disambut notifikasi WhatsApp grup kerjaan, tagihan listrik yang makin nggak ngotak, sampai drama politik yang bikin pusing tujuh keliling.

Psikologi punya istilah keren buat ini, namanya Rosy Retrospection. Ini adalah kecenderungan otak manusia buat memfilter ingatan buruk dan cuma menyisakan yang manis-manis doang. Kita mungkin lupa kalau dulu pernah nangis kejer gara-gara jatuh dari sepeda sampai lutut berdarah, yang kita ingat cuma serunya balapan sama temen-temen kompleks sampai magrib. Nostalgia itu semacam filter Instagram buat memori kita—semuanya kelihatan lebih aesthetic dan glow up di masa lalu.

Bau, Rasa, dan Suara: Pemicu Memori yang Bandel

Kenapa sih bahas nostalgia itu seru banget? Karena pemicunya ada di mana-mana. Cuma modal bau buku baru atau rasa micin dari jajanan Anak Mas (yang sekarang entah ke mana), otak kita langsung memproses data ribuan gigabyte memori masa kecil. Indra penciuman kita itu punya jalur tol langsung ke sistem limbik di otak, bagian yang ngurusin emosi. Makanya, bau tanah basah setelah hujan bisa bikin kita mendadak kangen main bola di lapangan becek-becekan.

Obrolan soal masa kecil juga jadi "jembatan" sosial yang paling ampuh. Coba aja kamu lempar pertanyaan di tongkrongan, "Dulu kalian tim Digimon atau Pokemon?" Wah, itu obrolan bisa berjam-jam nggak kelar. Kita merasa punya sekutu, merasa punya identitas kolektif yang sama. Di dunia yang makin individualis ini, punya memori kolektif soal main kelereng atau nonton Ksatria Baja Hitam itu rasanya kayak punya kode rahasia yang cuma dimengerti sama generasi kita.

Pelarian dari Dunia yang Terlalu Cepat

Zaman sekarang semuanya serba cepat. Baru juga tren satu lagu viral, eh besoknya udah ganti lagi. Informasi masuk kayak air bah, bikin kita capek mental. Nah, masa kecil itu menawarkan sesuatu yang "pasti". Kita sudah tahu akhir cerita Doraemon kayak gimana, kita tahu rasa es krim potong itu seperti apa. Kepastian inilah yang bikin kita merasa aman.

Nostalgia itu berfungsi sebagai safety blanket atau selimut pelindung. Saat kita merasa dunia luar terlalu kejam dan nggak menentu, kita lari ke masa lalu yang sudah kita kuasai alurnya. Itu sebabnya kenapa industri film sekarang hobi banget bikin remake atau reboot film lama. Mereka tahu kalau kita, para orang dewasa yang jiwanya sebenernya masih pengen main petak umpet ini, bakal rela ngeluarin duit buat ngerasain lagi sensasi masa kecil itu.

Bukan Sekadar Kangen, Tapi Soal Harapan

Menariknya, nostalgia masa kecil itu sebenarnya bukan cuma soal masa lalu, tapi juga soal masa depan. Pas kita nostalgia, kita diingatin lagi sama versi diri kita yang dulu punya mimpi setinggi langit tanpa takut gagal. Dulu kita pengen jadi astronaut, jadi pemain bola dunia, atau sesederhana pengen cepat gede biar bisa bebas main. Sekarang, setelah kita "bebas" dan jadi dewasa, kita sadar kalau jadi orang gede itu ternyata nggak se-asik itu.

Membahas masa kecil bikin kita kembali "manusiawi". Di tengah tuntutan produktivitas dan hustle culture, mengingat momen-momen receh kayak nungguin hadiah di dalam kotak Chiki atau nungguin hari Minggu buat nonton kartun seharian adalah cara kita buat bertahan hidup. Itu adalah pengingat kalau kita pernah bahagia dengan cara yang sangat simpel.

Jangan Lupa Pulang, Tapi Jangan Tinggal di Sana

Akhirnya, nostalgia itu ibarat bumbu penyedap dalam hidup. Enak dinikmati, bikin makanan (hidup) jadi lebih berasa, tapi ya jangan dimakan bumbunya doang. Membahas masa kecil itu seru karena itu adalah bagian dari fondasi siapa kita sekarang. Tapi ya jangan sampai kita jadi orang yang cuma hidup di masa lalu sampai lupa kalau hari ini juga punya potensi buat jadi "nostalgia indah" di masa depan.

Jadi, nggak apa-apa kok kalau sesekali kamu beli mainan jadul yang dulu nggak kesampaian gara-gara nggak dikasih uang jajan sama bapak. Nggak apa-apa kalau kamu masih dengerin playlist lagu pop tahun 2000-an pas lagi kerja biar fokus. Itu bukan tanda kamu belum dewasa, itu cuma cara kamu buat meluk diri sendiri dan bilang, "Hehe, masa kecil kita seru banget ya?"

Jadi, kalau boleh jujur, jajanan apa sih yang paling kamu kangenin sekarang dan rasanya pengen banget balik ke zaman itu cuma buat makan sekali lagi? Tulis di kolom komentar ya! (Eh, ini bukan YouTube, ya sudah, ceritain aja ke temen sebelahmu).

Logo Radio
🔴 Radio Live