Dulu Bukan Kota Panas, Begini Cerita Surabaya di Masa Lalu
Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 09:00 AM


Keluar rumah pukul sepuluh pagi di Surabaya rasanya seperti masuk ke dalam oven raksasa. Angin yang berhembus bukannya menyejukkan, malah terasa seperti uap hangat yang menempel di kulit. Sering ada kelakar di media sosial yang menyebut kalau kota ini punya "dua matahari", atau simulasi kehidupan akhirat saking teriknya.
Melihat aspal yang memuai dan gedung-gedung kaca yang memantulkan silau, sulit membayangkan bahwa kota ini pernah memiliki wajah yang berbeda. Namun, jika menengok kembali album foto lawas era 1930-an atau mendengar cerita dari para sesepuh, ada narasi yang kontras.
Di foto-foto itu, terlihat noni-noni Belanda berjalan santai di Tunjungan mengenakan gaun berlapis, dan bapak-bapak memakai jas lengkap di siang bolong. Mereka tidak terlihat bermandi keringat. Apakah manusia zaman dulu punya kulit anti-panas? Atau memang Surabaya yang perlahan berubah menjadi tungku api? Ternyata, kota ini menyimpan memori tentang kesejukan yang kini perlahan menghilang.
Ke Mana Perginya Lorong-Lorong Hijau Itu?
Salah satu perbedaan paling mencolok antara Surabaya dulu dan sekarang adalah "payung" alaminya. Dulu, jalanan utama di kota ini didesain dengan konsep Garden City. Pohon-pohon asam (tamarind) dan trembesi raksasa ditanam berbaris rapat di kanan-kiri jalan, menciptakan kanopi alami yang menutupi aspal.
Berjalan kaki atau bersepeda di siang hari tidaklah menyiksa karena terlindung oleh rimbunnya dedaunan. Sinar matahari tidak langsung menghantam tanah, tapi disaring lewat celah-celah dahan. Tanah di bawahnya pun masih banyak yang berupa tanah resapan, bukan tertutup beton sepenuhnya. Tanah basah itu ikut menyumbang uap dingin saat angin berhembus.
Sekarang, "lorong hijau" itu berganti menjadi deretan ruko dan pelebaran jalan aspal demi memfasilitasi kendaraan yang makin padat. Pohon-pohon tua ditebang, diganti dengan tanaman hias kecil yang cantik dipandang tapi tak cukup rindang untuk tempat berteduh.
Rahasia Rumah Tinggi yang Bisa "Bernapas"
Pernah masuk ke gedung tua peninggalan Belanda di sekitar Jembatan Merah atau kawasan Darmo? Begitu melangkah masuk, hawanya langsung terasa adem, seolah-olah ada AC sentral yang menyala. Padahal, listrik pun tak ada.
Arsitektur masa lalu sangat menghormati iklim tropis. Langit-langit rumah dibuat setinggi empat meter agar udara panas bisa naik ke atas dan tidak mengendap di level manusia. Jendelanya besar-besar dengan ventilasi silang (cross ventilation), membiarkan angin terus bersirkulasi masuk dan keluar. Teras depan dan belakang dibuat luas agar dinding utama tidak terpapar matahari langsung.
Bandingkan dengan bangunan masa kini. Banyak ruko tertutup rapat dengan kaca, atap rendah, dan tembok beton tipis. Bangunan seperti ini justru menjebak panas di dalam, memaksa penghuninya untuk menyalakan pendingin ruangan 24 jam.
Beton yang "Memeluk" Panas Sampai Malam
Ada fenomena menarik, kenapa Surabaya di malam hari pun rasanya masih sumuk (gerah)? Padahal matahari sudah terbenam.
Ini adalah konsekuensi dari hutan beton. Dulu, saat masih banyak lahan terbuka hijau dan tanah lapang, panas matahari di siang hari akan diserap tanah dan dilepaskan perlahan. Namun sekarang, aspal jalanan dan gedung-gedung beton menyerap panas itu seharian, menyimpannya, lalu memancarkannya kembali saat malam tiba.
Kota ini tidak sempat "mendinginkan diri". Ditambah lagi, ribuan mesin mobil dan unit pembuangan panas (outdoor AC) yang menyembur ke jalanan setiap detik, membuat suhu lingkungan naik beberapa derajat lebih tinggi dibanding area pedesaan di sekitarnya.
Mengenang Surabaya yang dulu bukan berarti menolak kemajuan zaman. Mustahil rasanya meminta gedung-gedung tinggi itu diruntuhkan kembali menjadi kebun. Namun, cerita masa lalu ini bisa menjadi pengingat kecil.
Bahwa kesejukan itu sebenarnya bukan cuma soal suhu di termometer, tapi soal bagaimana manusia hidup selaras dengan lingkungannya. Mungkin kita tidak bisa mengembalikan pohon-pohon trembesi raksasa itu dalam semalam, tapi setidaknya, menanam satu pohon kecil di halaman rumah atau mematikan AC sejenak saat hujan turun, adalah upaya kecil untuk berdamai dengan panasnya kota ini.
Next News

Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
a day ago

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
a day ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
a day ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago





