Dua Raksasa Asia Memanas, Ada Apa?
Elsa - Friday, 21 November 2025 | 04:30 PM


Duh, kalau sudah begini, rasanya mau bilang apa lagi? Situasi antara dua raksasa Asia ini, China dan Jepang, lagi enggak baik-baik saja, bahkan bisa dibilang... amburadul. Ketegangan yang tadinya cuma sebatas 'saling pandang sinis', sekarang sudah kayak drama Korea yang levelnya bikin sesak napas, alias nyaris kacau balau. Jujur saja, melihat kondisi hubungan bilateral mereka yang sudah di ambang kekacauan ini, bikin kita ikutan pusing juga, lho. Padahal, dulu kan lumayan sering 'main mata' demi urusan ekonomi.
Perselisihan yang berlarut-larut ini, kalau diibaratkan, sudah seperti benang kusut yang susah banget diurai. Setiap kali ada niat mau dibenerin, eh malah makin ruwet. Tapi, emangnya apa sih yang jadi biang keroknya? Ternyata, ada beberapa faktor utama yang bikin suhu di antara Beijing dan Tokyo ini panasnya sudah di ubun-ubun. Yuk, kita bedah satu per satu, biar enggak cuma menerka-nerka.
Siapa Dalang di Balik Ketegangan Ini?
Pertama, dan ini yang paling klasik serta bikin pusing tujuh keliling, adalah sengketa wilayah. Ingat kasus Kepulauan Senkaku atau Diaoyu? Nah, itu dia biang keroknya. Kedua negara merasa paling berhak atas pulau-pulau kecil tak berpenghuni itu. Ibaratnya, rebutan remote TV di rumah, tapi ini skalanya negara, lho! Jadinya, setiap ada kapal atau pesawat yang lewat di sekitar situ, langsung deh suasananya jadi panas, kayak masakan pedas khas Manado. Kedua belah pihak sama-sama kekeuh dengan klaimnya, dan ini sudah jadi duri dalam daging yang bikin susah akur.
Lalu, jangan lupakan isu Taiwan. Bagi China, Taiwan itu adalah bagian tak terpisahkan dari mereka, prinsip "Satu China" adalah harga mati. Tapi, Jepang, seperti halnya banyak negara Barat, punya kepentingan strategis dan keamanan di sekitar Taiwan. Melihat Taiwan yang terus-menerus 'dikasih angin' oleh negara-negara lain, termasuk Jepang, tentu saja bikin China meradang. Ini bukan cuma soal pulau, tapi sudah menyangkut kedaulatan, identitas nasional, dan posisi geopolitik di kawasan. Ketegangan di Selat Taiwan ini bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak, dan Jepang merasa perlu 'pasang badan' karena kedekatannya.
Terakhir, tapi enggak kalah penting, adalah perbedaan pandangan geopolitik yang lebih luas. China yang semakin agresif dalam menunjukkan ototnya di panggung global, tentu saja dilihat dengan mata elang oleh Jepang. Jepang, yang secara historis punya hubungan rumit dengan China dan kini makin merapat ke Amerika Serikat, merasa perlu menjaga keseimbangan kekuatan di Asia. Ini bukan lagi sekadar sengketa kecil, tapi sudah perebutan pengaruh siapa yang paling dominan di kawasan. Jadi, ya wajar kalau sering terjadi gesekan, apalagi di forum-forum internasional, mereka seringkali 'saling sikut' dan 'saling tuding'.
Efek Sampingnya: Politik dan Ekonomi Amburadul
Oke, kita sudah tahu apa saja yang jadi pemicunya. Sekarang, mari kita lihat apa saja efek sampingnya yang bikin hubungan mereka jadi 'amburadul' banget. Di ranah politik, situasinya sudah kayak jalan di tempat, alias mandek total. Dulu, mungkin masih ada celah untuk dialog, untuk 'ngopi-ngopi' sambil cari jalan keluar. Sekarang? Boro-boro! Yang ada cuma kebuntuan diplomatik. Komunikasi resmi minim, kalaupun ada, rasanya cuma basa-basi saja, enggak ada esensinya. Dialog-dialog tingkat tinggi yang diharapkan bisa melunakkan suasana, malah seringkali berakhir dengan saling sindir atau saling menuding.
Retorika yang meningkat juga jadi pemandangan sehari-hari. Kedua negara enggak segan-segan melontarkan pernyataan yang keras dan pedas. Mediasi, upaya mencari jalan tengah? Aduh, itu sudah kayak barang langka. Kepercayaan antara kedua belah pihak sudah menipis banget, kayak kulit bawang yang gampang sobek. Kalau sudah begini, bagaimana mau membangun jembatan perdamaian? Ini ibarat dua orang yang lagi marahan besar, tapi gengsi untuk ngomong duluan, jadinya cuma diam-diam memendam kekesalan.
Dampak di bidang ekonomi juga enggak kalah bikin geleng-geleng kepala, lho. Dulu, China dan Jepang adalah mitra dagang yang sangat mesra. Investasi mengalir deras, rantai pasok terjalin erat. Tapi sekarang? Ketegangan ini jadi racun yang pelan-pelan merusak semua itu. Perdagangan antarnegara jadi terhambat, investasi jadi lesu, dan rantai pasok yang selama ini efisien jadi terganggu. Banyak perusahaan Jepang yang mulai mikir ulang untuk berinvestasi di China, begitu pula sebaliknya.
Para pelaku bisnis di kedua negara ini sekarang harus menghadapi ketidakpastian yang makin menjadi-jadi. Ibaratnya, mereka lagi jalan di atas telur, salah langkah sedikit bisa pecah. Risiko gangguan operasional jadi makin tinggi, dan yang paling menakutkan adalah potensi boikot produk. Ingat kasus boikot produk-produk Jepang di China atau sebaliknya? Nah, itu bisa jadi sering terjadi lagi kalau tensinya makin tinggi. Investor jadi mikir seribu kali untuk menanamkan modalnya, dan itu artinya, pertumbuhan ekonomi di kedua negara bisa terhambat. Mereka terpaksa mulai mencari alternatif pasar atau pemasok lain, yang tentu saja tidak mudah dan membutuhkan biaya serta waktu yang tidak sedikit.
Pusingnya Ini Belum Ada Obatnya
Jadi, kalau diringkas, hubungan politik dan ekonomi antara China dan Jepang saat ini memang sedang dalam kondisi yang sangat berantakan. Tidak ada tanda-tanda mereda dalam waktu dekat, malah cenderung makin memburuk. Ketegangan ini bukan cuma merugikan kedua negara, tapi juga punya implikasi luas bagi stabilitas dan kemakmuran kawasan Asia secara keseluruhan. Kita hanya bisa berharap, ada pihak yang bisa jadi penengah, atau setidaknya, ada kesadaran dari kedua belah pihak untuk mencari jalan keluar, sebelum semuanya benar-benar tak bisa diperbaiki. Karena kalau sudah begini, yang pusing bukan cuma mereka, tapi kita semua yang juga ikut merasakan dampaknya!
Next News

Masa Depan Keuangan Gen Z: Jangan Sampai Nyesel!
2 days ago

Mata Melek, Layar Gadget Menanti: Ini Alasannya!
2 days ago

Dompet Aman, Hati Nyaman: Jurus Akhir Bulan
6 days ago

Kunci Ekonomi Nendang: Pertemuan Prabowo-Bahlil
8 days ago

Kejutan Toyota! Mobil Listrik Lokal Kini Lebih Ramah Kantong.
8 days ago

Investasi? Ah, Ribet! Atau Justru Kunci Biar Nggak Melarat di Masa Depan?
9 days ago

Bitcoin: Bukan Cuma Uang Digital, Ini Ceritanya!
10 days ago

Ketika Turis China 'Nyelametin' Dompet Indonesia: Pahlawan Ekonomi Anti Defisit!
9 days ago

Bitcoin Turun Tajam: Dari Cuannya ke Kisaran US$ 86.000
10 days ago

Strategi yang Dulu Bikin Cuan, Sekarang Bikin Investor Kripto Kewalahan
9 days ago






