Ceritra
Ceritra Kota

Dikira Marah Padahal Ramah, Mengapa Logat Jawa Timuran Terdengar Kasar dan Keras?

Refa - Monday, 15 December 2025 | 02:30 AM

Background
Dikira Marah Padahal Ramah, Mengapa Logat Jawa Timuran Terdengar Kasar dan Keras?
Gapura Selamat Datang di Provinsi Jawa Timur (Istimewa/)

Bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, Malang, atau daerah pesisir Jawa Timur lainnya, sering kali muncul sebuah kejutan budaya (culture shock).

Saat duduk di warung kopi atau antre tiket, telinga mungkin akan menangkap percakapan warga lokal yang terdengar "panas". Suaranya keras, nadanya tinggi, dan kata-katanya tajam. Orang yang terbiasa dengan kelembutan budaya Jawa Tengah (seperti Solo atau Yogyakarta) mungkin akan berpikir, "Lho, kok orang-orang ini bertengkar?"

Padahal, mereka tidak sedang bertengkar. Mereka hanya sedang menanyakan kabar atau bercanda soal sepak bola. Inilah uniknya budaya Arek Jawa Timur, yaitu nadanya memang "ngegas", tapi hatinya sebenarnya tulus dan hangat.

Pengaruh Geografis dan Sejarah

Mengapa logat Jawa Timur (terutama Surabaya dan Pesisir Utara) terdengar begitu keras? Jawabannya ada pada sejarah geografisnya.

Berbeda dengan budaya Mataraman (Yogya/Solo) yang tumbuh di lingkungan keraton yang hening, tenang, dan penuh tata krama halus, budaya Jawa Timur tumbuh di lingkungan pesisir dan pelabuhan.

Nenek moyang masyarakat pesisir hidup sebagai nelayan dan pedagang di pelabuhan yang bising. Suara deburan ombak dan hiruk-pikuk pasar membuat mereka harus berbicara dengan volume tinggi agar terdengar oleh lawan bicara. Kebiasaan berteriak demi komunikasi ini akhirnya mendarah daging menjadi dialek yang tegas, lugas, dan bervolume tinggi. Jadi, suara keras itu bukan tanda amarah, melainkan adaptasi lingkungan.

Egaliter: Duduk Sama Rendah

Selain faktor geografis, masyarakat Jawa Timur dikenal dengan sifatnya yang egaliter. Di sini, batas antara atasan dan bawahan, atau si kaya dan si miskin, tidak setebal di budaya keraton.

Masyarakat Jawa Timur menghargai kejujuran dan keterbukaan (blak-blakan). Berbicara berputar-putar dengan bahasa yang terlalu halus justru sering dianggap tidak tulus atau menyembunyikan sesuatu.

Bagi Arek Jawa Timur, berbicara lantang apa adanya adalah tanda penghormatan. Itu artinya mereka menganggap lawan bicara sebagai teman yang setara, bukan orang asing yang harus disegani secara kaku. Tidak ada "tedeng aling-aling" (penghalang); apa yang ada di hati, itulah yang keluar di mulut.

Semakin Kasar, Semakin Sayang

Hal yang paling membingungkan bagi orang luar mungkin adalah penggunaan kata-kata umpatan (seperti kata legendaris berawalan huruf 'J').

Di banyak daerah, umpatan adalah ajakan berkelahi. Namun di Jawa Timur, umpatan sering kali berfungsi sebagai "tanda koma" atau simbol keakraban. Jika dua orang teman lama bertemu dan saling menyapa dengan kata-kata kasar sambil tertawa, itu adalah tanda persahabatan yang sangat erat.

Justru sebaliknya, jika orang Jawa Timur berbicara sangat sopan, kaku, dan pelan kepada seseorang, itu tandanya mereka belum akrab atau sedang menjaga jarak.

Jadi, jangan mudah tersinggung jika mendengar nada tinggi di provinsi ini. Di balik suara yang menggelegar itu, tersimpan karakter warga yang setia kawan, penolong, dan sangat humoris. Mereka mungkin terdengar seperti sedang mengajak ribut, padahal sebenarnya sedang mengajak bersaudara.

Logo Radio
🔴 Radio Live