Digerus Inflasi Tiap Tahun, Masihkah Relevan Menabung Uang di Bank?
Refa - Saturday, 13 December 2025 | 02:00 PM


Pepatah lama "rajin menabung pangkal kaya" belakangan ini sering menjadi bahan perdebatan panas. Di tengah gempuran inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang gila-gilaan, menumpuk uang tunai di rekening bank konvensional sering dianggap sebagai langkah yang merugi.
Banyak penasihat keuangan di media sosial yang menyerukan narasi "Cash is Trash" atau uang tunai adalah sampah karena nilainya terus menyusut dimakan waktu. Mereka menyarankan untuk langsung terjun ke saham, kripto, atau properti. Lantas, apakah aktivitas menabung uang tunai benar-benar sudah kuno dan tidak lagi worth it dilakukan di tahun 2025 ini? Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".
Realitas Pahit Bernama Inflasi
Harus diakui secara matematika, menabung di celengan ayam atau rekening tabungan biasa dengan bunga 0% hingga 0,5% per tahun adalah cara pasti untuk "miskin pelan-pelan". Jika inflasi tahunan rata-rata berada di angka 3% hingga 4%, maka uang senilai satu juta rupiah hari ini, daya belinya akan turun drastis lima tahun ke depan.
Harga sepiring nasi goreng yang dulu 15 ribu kini sudah 25 ribu, namun nominal uang di tabungan tetap sama. Inilah yang membuat orang merasa menabung itu sia-sia. Jika tujuannya adalah melipatgandakan kekayaan (wealth creation), maka menabung jelas bukan jalannya. Itu adalah tugas investasi.
Uang Tunai adalah Benteng Pertahanan
Namun, menganggap remeh tabungan tunai adalah kesalahan fatal. Menabung tetaplah sangat worth it, bahkan wajib, jika fungsinya didudukkan sebagai "Dana Darurat" atau likuiditas.
Bayangkan skenario buruk: PHK mendadak, sakit keras yang butuh talangan tunai sebelum asuransi cair, atau genteng rumah roboh. Aset investasi seperti saham butuh waktu untuk dicairkan dan nilainya fluktuatif (bisa sedang rugi besar saat butuh uang). Properti lebih sulit lagi dijual cepat. Di sinilah uang tunai menjadi raja (Cash is King). Tabungan memberikan rasa aman dan akses instan yang tidak bisa diberikan oleh instrumen investasi manapun.
Evolusi Cara Menabung
Jadi, masalahnya bukan pada kegiatan "menabung"-nya, melainkan "di mana" menabungnya. Strategi menabung di tahun 2025 tidak boleh lagi konservatif.
Menabung masih sangat relevan jika dilakukan di instrumen yang likuid namun memberikan imbal hasil setara atau sedikit di atas inflasi. Bank digital kini menjamur menawarkan bunga simpanan 4% hingga 6% yang cair harian. Selain itu, instrumen Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) juga menjadi alternatif tempat "parkir" uang yang aman dengan risiko sangat rendah dan bebas pajak.
Kesimpulan Akhir
Menabung tidak akan membuat seseorang menjadi miliarder, tapi menabung akan mencegah seseorang menjadi bangkrut saat musibah datang.
Pola pikir yang tepat adalah membagi peran. Gunakan tabungan untuk menjaga keamanan jangka pendek (dana darurat dan pengeluaran rutin), dan gunakan investasi untuk melawan inflasi jangka panjang. Jadi, jangan berhenti menabung, tapi mulailah menabung dengan cara yang lebih cerdas.
Next News

Menu Sahur Praktis 10 Ribu Sehat Tanpa Harus Kuras Kantong
5 days ago

Alasan Kenapa Klik Checkout Bisa Bikin Beban Hidup Terangkat
7 days ago

Mulai 15 Maret! Ini Lokasi Strategis Penukaran Uang Baru BI 2026 di Seluruh Indonesia
7 days ago

Hati-Hati Salam Tempel! Kenali Ciri Uang Palsu Jelang Lebaran
8 days ago

Tips Milih Asuransi Perjalanan Biar Gadget Aman Sentosa
9 days ago

Saldo Bocor Akibat QRIS? Ini Alasan Uang Tunai Lebih Efektif
9 days ago

Habis Gajian Jangan Cuma Nabung, Lawan Inflasi Dengan Cara Ini
8 days ago

Jangan Tertipu Harga Murah Kenali Risiko Barang Cepat Rusak
10 days ago

Jangan Kalap Diskon Lebaran! Simak Cara Belanja Bijak
10 days ago

Tips Atasi Ajakan Bukber yang Bikin Kantong Kering
10 days ago






