Ceritra
Ceritra Kota

Di Balik Tiga Kalimat yang Menggetarkan: Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Sumpah Pemuda?

- Wednesday, 29 October 2025 | 03:00 PM

Background
Di Balik Tiga Kalimat yang Menggetarkan: Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Sumpah Pemuda?

Jejak sehari sebelum ikrar lahir menyimpan cerita yang lebih riuh dari teksnya sendiri. Jauh sebelum tiga kalimat itu dibacakan, para pemuda dari berbagai daerah justru lebih dulu terjebak dalam perdebatan panjang—dengan suara keras, meja bergetar, dan mimpi yang belum bulat.


Di sebuah ruangan sempit di Jalan Kramat 106, belasan pemuda datang dengan bahasa berbeda, logat berbeda, bahkan bayangan masa depan yang tak selalu searah. Mereka membawa keresahan masing-masing: penjajahan yang menekan, pendidikan yang timpang, dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri. “Kalau kita bicara terpisah, kita cuma angin lewat,” kata seorang peserta kongres, menurut catatan lisan yang banyak diwariskan.


Perdebatan berlangsung berjam-jam. Ada yang ingin mempertegas jati diri daerah, ada yang lebih berani mendorong gagasan “Indonesia” sebagai nama rumah bersama. Malam makin larut, masalah tak juga lurus. Namun di antara kepenatan itu, mereka mulai menyadari satu hal: bahwa perbedaan hanya jadi beban kalau dibiarkan berdiri sendiri.


Keesokan paginya, suasana berubah. Mereka sepakat merapikan kata-kata. Singkat. Padat. Jelas. Ikrar itu seperti suluh kecil yang dinyalakan di tengah gelap. Warga yang hadir menggambarkannya sebagai momen yang “menghangatkan dada”—meski mereka tahu, perjuangan sebenar-benarnya belum dimulai.


Hampir seabad berlalu, tiga kalimat itu tetap mengetuk. Ia lahir bukan dari keajaiban, tapi dari kemauan untuk duduk bersama, menurunkan ego, dan memilih jadi satu. Mungkin itu pelajaran paling sunyi dari Sumpah Pemuda: persatuan jarang datang tiba-tiba—ia dirawat, bukan dihafal.

Logo Radio
🔴 Radio Live