Ceritra
Ceritra Update

Ciri Khas Virus Nipah: Dari Tetes Air Mata ke Kematian

Nisrina - Wednesday, 28 January 2026 | 02:45 PM

Background
Ciri Khas Virus Nipah: Dari Tetes Air Mata ke Kematian
Ilustrasi virus. (Freepik/)

Apa Itu Virus Nipah?

Bayangkan sebuah virus yang datang dari ketiak lembah hutan, menunggu kesempatan lewat tetesan air mata kelelawar atau sapuan napas babi. Itulah Nipah virus, virus RNA berdiri yang pertama kali diidentifikasi di Malaysia pada tahun 1999. Sejak itu, virus ini menorehkan cerita kelam di dunia kesehatan karena mortalitasnya yang tinggi, berkisar antara 40% sampai 75%. Meski terdengar menakutkan, penting bagi kita untuk mengerti karakteristiknya supaya bisa mengantisipasi potensi penyebaran.

Bagaimana Cara Menular?

Virus ini tidak main-main dalam memanfaatkan rute penularan. Di sisi pertama, ia menyusup lewat kontak langsung dengan hewan penyandang, seperti kelelawar, babi, atau bahkan manusia yang sudah terinfeksi. Namun, yang lebih menegangkan, ia juga bisa menular melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bayangkan minum susu mentah atau memakan buah yang belum dicuci – itu bisa jadi pintu masuknya.

  • Kontak langsung dengan hewan: kelelawar, babi, dan manusia.
  • Kontaminasi makanan/minuman: susu mentah, madu, buah yang belum dicuci.
  • Penularan antar manusia: cairan tubuh, udara, atau kontak kulit.

Gejala yang Terlihat

Awalnya, gejala Nipah sangat samar-samar, mirip flu biasa. Penderita bisa mengalami demam, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot. Namun, ketika penyakit berkembang, tampak tanda-tanda neuroinflamasi yang cukup dramatis: delirium, kebingungan, kejang, dan gangguan motorik. Beberapa orang bahkan melaporkan gangguan visual, mual, muntah, dan diare. Bagian paling mematikan adalah sindrom pernapasan akut yang bisa memaksa pasien masuk ICU karena gagal napas. Jadi, bila Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala aneh, jangan menunda‑tunda; konsultasi medis segera.

Bagaimana Cara Diagnosis?

Di laboratorium, dokter memanfaatkan dua alat utama: serologi (ELISA) dan teknik PCR. PCR ini memeriksa RNA virus, sehingga dapat mendeteksi keberadaannya di darah, urin, atau cairan otak (CSF). Selain itu, dokter juga menilai kondisi secara menyeluruh dengan rontgen dada, CT scan otak, dan evaluasi fungsi organ lainnya. Karena tidak ada obat antivirus spesifik, diagnosis cepat sangat krusial untuk memberikan perawatan suportif.

Terapi dan Pencegahan

Secara umum, penanganan masih bergantung pada terapi suportif: infus cairan, kontrol suhu, dan respirator. Namun, ada beberapa harapan: penelitian in vitro dan pada hewan menunjukkan bahwa remdesivir dan antibodi monoklonal mAb 1C10 dapat menekan virus. Meski belum tersedia di pasaran, penelitian ini menandakan bahwa masa depan terapi mungkin lebih cerah.

  • Penggunaan obat antiviral: remdesivir (pencobaan).
  • Antibodi monoklonal: mAb 1C10 (pencobaan).
  • Terapi suportif: infus, kontrol suhu, respirasi.

Untuk mencegah penularan, strategi harus multipel. Di daerah endemik, hindari kontak dengan kelelawar dan babi liar. Peternak disarankan memakai alat pelindung dan menjaga sanitasi kandang. Pastikan susu yang dikonsumsi sudah dipasteurisasi dan buah diproses bersih. Di tingkat masyarakat, kebersihan lingkungan, pembuangan limbah organik, serta isolasi pasien dan hewan selama wabah menjadi kunci. Edukasi masyarakat tentang gejala awal dan cara pencegahan juga sangat penting.

Kesimpulan

Nipah virus memang tidak sekecil virus biasa. Kematian yang tinggi, rute penularan yang banyak, serta gejala yang menakutkan membuatnya menjadi ancaman serius. Namun, dengan diagnosis cepat, terapi suportif, dan upaya pencegahan yang konsisten, risiko dapat dikurangi. Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua punya peran: menjaga kebersihan, sadar akan potensi risiko, dan cepat merespons bila ada gejala aneh. Karena kesehatan adalah aset berharga, tetap waspada dan rawat diri serta lingkungan sekitar.

Logo Radio
🔴 Radio Live