Fenomena AI Slop yang Mulai Merusak Media Sosial Kita
Nisrina - Tuesday, 03 February 2026 | 11:15 AM


Pernahkah Anda melihat gambar aneh saat menggulir beranda Facebook atau Instagram. Mungkin Anda pernah melihat foto anak anak miskin yang tampak kurus kering tetapi memiliki janggut lebat layaknya pria dewasa. Atau mungkin gambar seseorang dengan jumlah jari yang salah sedang memegang kue ulang tahun di tengah jalan raya yang sibuk sambil diguyur hujan.
Meskipun gambar tersebut sangat tidak masuk akal postingan itu bisa mendapatkan jutaan tanda suka atau likes dan ribuan komentar simpati. Selamat datang di era baru media sosial yang kini dipenuhi oleh fenomena bernama AI Slop.
Istilah ini merujuk pada gelombang konten berkualitas rendah yang dibuat secara massal menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Konten ini membanjiri internet dengan video dan gambar palsu yang dirancang khusus untuk memancing emosi pengguna. Artikel ini akan membahas secara tuntas bagaimana sampah digital ini mengubah cara kita berinteraksi di dunia maya dan mengapa banyak pihak mulai menyuarakan perlawanan.
Apa Sebenarnya AI Slop Itu

Contoh konten AI slop (sumber: istimewa)
AI Slop bisa didefinisikan sebagai konten digital baik berupa gambar teks maupun video yang diproduksi secara cepat dan massal menggunakan alat generatif AI. Ciri utamanya adalah kualitas yang rendah sering kali tidak logis namun sangat manipulatif.
Konten ini tidak dibuat dengan tujuan seni atau kreativitas. Tujuannya hanya satu yaitu mendapatkan interaksi atau engagement sebanyak banyaknya dalam waktu singkat. Para pembuat konten ini memanfaatkan celah psikologis manusia. Mereka sering menggunakan tema kemiskinan agama atau militer untuk memancing rasa iba atau kekaguman semu.
Misalnya video tentang anak anak di negara berkembang yang membuat patung rumit dari sampah. Video tersebut sebenarnya palsu dan dibuat oleh AI. Namun karena terlihat inspiratif jutaan orang tertipu dan memberikan apresiasi. Inilah yang membuat siklus AI Slop terus berputar kencang.
Mesin Uang di Balik Konten Sampah
Mengapa orang repot repot membuat konten palsu yang aneh ini. Jawabannya sangat sederhana yaitu uang. Ekonomi kreator di platform seperti YouTube Facebook dan TikTok memberikan insentif finansial bagi konten yang viral.
Sebuah riset menunjukkan bahwa saluran YouTube yang memproduksi konten AI Slop bisa meraup keuntungan fantastis. Salah satu saluran populer bahkan diperkirakan bisa menghasilkan pendapatan hingga 4 juta dolar AS per tahun hanya dengan memposting video video aneh yang dibuat oleh mesin.
Dengan iming iming pendapatan sebesar itu tidak heran jika internet kini dibanjiri oleh konten serupa. Algoritma media sosial yang memprioritaskan waktu tonton dan interaksi pengguna turut memperparah keadaan. Algoritma tidak peduli apakah konten itu asli atau palsu selama pengguna terus menonton maka konten itu akan terus disodorkan.
Sikap Raksasa Teknologi yang Mendukung
Alih alih membendung banjir konten sampah ini raksasa teknologi justru terlihat merangkulnya. Mark Zuckerberg dari Meta menyebut bahwa media sosial kini memasuki fase ketiga yang berpusat pada AI. Setelah fase konten teman dan fase konten kreator kini kita masuk fase konten sintetis.
Platform besar seperti Facebook Instagram dan YouTube bahkan menyediakan alat bagi pengguna untuk membuat konten AI dengan lebih mudah. Bagi perusahaan teknologi konten adalah raja. Semakin banyak konten yang tersedia semakin lama pengguna berada di dalam aplikasi dan semakin banyak iklan yang bisa ditayangkan.
Meskipun CEO YouTube Neal Mohan mengakui adanya kekhawatiran tentang konten berkualitas rendah mereka menolak untuk menjadi polisi yang menentukan selera. Mereka berdalih bahwa tren konten selalu berubah dan AI hanyalah alat baru bagi kreativitas. Namun data menunjukkan bahwa 20 persen konten yang disodorkan kepada akun baru di YouTube kini adalah video AI berkualitas rendah.
Bahaya Brain Rot dan Kebodohan Massal
Dampak dari AI Slop bukan hanya sekadar gangguan visual di beranda kita. Para ahli memperingatkan adanya risiko brain rot atau pembusukan otak. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana konsumsi konten sampah secara terus menerus dapat menurunkan rentang perhatian dan kemampuan kognitif seseorang.
Ketika kita terbiasa melihat gambar ikan memakai sepatu atau gorila mengangkat beban di pusat kebugaran otak kita berhenti berpikir kritis. Kita menjadi malas memverifikasi kebenaran. Batas antara realitas dan fantasi menjadi kabur.
Bahaya yang lebih besar mengintai ketika AI Slop digunakan untuk disinformasi. Video palsu tentang kondisi politik atau bencana alam bisa memicu kepanikan publik atau membentuk opini yang salah. Jika pengguna media sosial kehilangan kemampuan untuk membedakan mana video asli dan mana buatan AI maka demokrasi dan kebenaran informasi sedang berada di ujung tanduk.
Gelombang Perlawanan Pengguna
Di tengah kepungan konten sintetis ini muncul gelombang perlawanan dari pengguna internet yang sudah muak. Seorang mahasiswa bernama Theodore bahkan membuat akun khusus untuk mengolok olok konten AI Slop yang tidak masuk akal. Akun tersebut mendapat dukungan besar dari warganet yang merasakan keresahan yang sama.
Kini semakin umum kita melihat kolom komentar di video viral dipenuhi oleh hujatan netizen yang menyadari bahwa konten tersebut adalah palsu. Komentar seperti "Angkat tangan jika Anda lelah dengan sampah AI ini" sering kali mendapatkan likes lebih banyak daripada postingan aslinya.
Platform seperti Pinterest yang mulai terdampak juga mencoba merespons dengan fitur yang memungkinkan pengguna menyembunyikan konten AI. Namun fitur ini masih bergantung pada kejujuran pengunggah konten.
Masa Depan Interaksi Digital Kita
Apakah kita bisa kembali ke masa di mana media sosial bersih dari sampah AI. Tampaknya sulit. Teknologi deteksi AI semakin tertinggal dibandingkan kemampuan AI itu sendiri untuk meniru realitas. Mesin pendeteksi kesulitan membedakan mana video asli dan mana yang sintetis.
Ke depannya mungkin akan muncul platform media sosial baru yang menjanjikan pengalaman bebas AI sebagai nilai jual utamanya. Mirip dengan aplikasi BeReal yang sempat populer karena menjanjikan keaslian tanpa filter. Namun melawan dominasi raksasa teknologi yang sudah ada bukanlah hal mudah.
Sebagai pengguna langkah paling bijak yang bisa kita lakukan saat ini adalah meningkatkan literasi digital. Kita harus lebih skeptis terhadap apa yang kita lihat di layar. Jangan mudah memberikan like atau membagikan konten yang terlihat terlalu sempurna atau terlalu aneh.
Fenomena AI Slop adalah polusi digital yang nyata. Jika kita tidak hati hati kita akan tenggelam dalam lautan informasi palsu yang tidak hanya membuang waktu tetapi juga menumpulkan pikiran.
Next News

Film The Devil Wears Prada Tayang April 2026
12 hours ago

Kini Ojol dan Kurir Dapat Diskon Iuran BPJS Ketenagakerjaan
13 hours ago

Deretan Tokoh Dunia dan Fakta Mengejutkan dalam Dokumen Terbaru Jeffrey Epstein
14 hours ago

Danielle Resmi Hilang dari Profil NewJeans dan Digugat ADOR
15 hours ago

Era Baru Pariwisata Indonesia Tanpa Atraksi Gajah Tunggang
16 hours ago

Panduan Lengkap Reaktivasi BPJS Kesehatan Nonaktif Agar Bisa Digunakan Lagi
17 hours ago

Justin Bieber Guncang Panggung Grammy 2026 Usai Vakum
a day ago

Sejarah Baru! Golden Sukses Bawa Pulang Piala Grammy
2 days ago

Serunya Wahana LEGO Ferrari Build and Race di Malaysia
2 days ago

14 Film Indonesia Februari 2026 yang Siap Guncang Bioskop Tanah Air
2 days ago






