Ceritra
Ceritra Update

Sejarah Baru! Golden Sukses Bawa Pulang Piala Grammy

Nisrina - Monday, 02 February 2026 | 12:15 PM

Background
Sejarah Baru! Golden Sukses Bawa Pulang Piala Grammy
Huntrix Rumi, Mira dan Zoey dalam KPop Demon Hunters (Netflix/)

Sejarah Baru Golden dari KPop Demon Hunters Jadi Lagu KPop Pertama Pemenang Grammy

Industri musik Korea Selatan atau K Pop akhirnya mencatatkan sejarah emas yang sesungguhnya di panggung musik dunia. Setelah bertahun tahun menanti dan hanya puas berada di deretan nominasi kini trofi gramofon emas dari Grammy Awards akhirnya resmi dibawa pulang. Bukan oleh grup idola raksasa yang biasa kita dengar melainkan oleh sebuah lagu soundtrack yang fenomenal berjudul "Golden".

Lagu yang menjadi nyawa dari film animasi Netflix K Pop: Demon Hunters ini sukses memenangkan kategori Best Song Written for Visual Media pada ajang Grammy Awards ke 68. Kemenangan ini memecahkan "kutukan" panjang yang selama ini menghantui musisi K Pop di ajang penghargaan musik paling prestisius di Amerika Serikat tersebut.

Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana lagu dari grup fiksi HUNTR/X ini bisa mengalahkan nama nama besar dunia dan menjadi pembuka gerbang kemenangan bagi musik Asia. Kita akan membedah faktor apa yang membuat "Golden" begitu spesial hingga mampu meluluhkan hati para juri Recording Academy.

Pecahnya Telur Kemenangan untuk K Pop

Kemenangan "Golden" adalah momen monumental yang akan selalu dikenang dalam buku sejarah musik pop kultur. Selama bertahun tahun penggemar K Pop di seluruh dunia sering kali merasa kecewa karena idola mereka pulang dengan tangan hampa dari ajang Grammy. Namun malam itu narasi tersebut berubah total.

Lagu "Golden" yang dibawakan oleh trio musisi berbakat EJAE Audrey Nuna dan Rei Ami di bawah nama grup fiksi HUNTR/X berhasil membuktikan kualitasnya. Mereka tidak hanya menang karena popularitas filmnya tetapi karena komposisi musiknya yang dinilai superior oleh para kritikus.

Saat nama "Golden" dibacakan sebagai pemenang sorak sorai tidak hanya terjadi di Los Angeles tetapi juga menggema di seluruh platform media sosial. Ini adalah validasi nyata bahwa kreativitas insan musik Korea tidak lagi dipandang sebelah mata di kancah global. Piala ini didedikasikan untuk seluruh komunitas yang telah berjuang memperkenalkan K Pop ke dunia Barat.

Kekuatan di Balik Layar K Pop Demon Hunters

Apa yang membuat lagu ini begitu kuat. Jawabannya terletak pada "dapur" produksinya. Lagu ini digarap oleh tangan dingin para produser legendaris yang sudah malang melintang di industri K Pop termasuk Teddy Park yang dikenal sebagai pencetak hits bagi BLACKPINK dan BIGBANG.

Audrey Nuna, EJAE dan Rei Ami dari Kpop Demon Hunters ketika menghadiri Grammy Awards ke-68 (1/2/2026). (Sumber: Getty Images/Amy Sussman)


Kolaborasi antara penulis lagu EJAE Mark Sonnenblick dan produser 24 serta DO menghasilkan ramuan musik yang unik. "Golden" menggabungkan elemen electropop yang energik dengan lirik bahasa Inggris dan Korea yang emosional. Lagu ini berfungsi sebagai anthem atau lagu kebangsaan dalam filmnya yang menceritakan tentang pemburu iblis yang menyamar sebagai girl group.

Kualitas produksi yang setara dengan standar Hollywood namun tetap mempertahankan jiwa K Pop yang autentik inilah yang menjadi kunci. Recording Academy melihat ini sebagai jembatan budaya yang sempurna. Musiknya mudah diterima telinga internasional namun tetap membawa identitas asalnya dengan bangga.

Mengalahkan Raksasa Musik Dunia

Kemenangan ini terasa semakin manis jika melihat siapa saja pesaing yang dikalahkan. Dalam kategori Best Song Written for Visual Media "Golden" harus bersaing dengan karya karya dari musisi legendaris dunia. Mengalahkan nama nama besar tersebut membuktikan bahwa "Golden" bukan sekadar lagu kartun biasa.

Para juri menilai bahwa lagu ini memiliki dampak sinematik yang kuat. Ia tidak hanya sekadar tempelan di latar belakang film tetapi mampu menggerakkan emosi penonton dan memperkuat narasi cerita. Kemampuan sebuah lagu untuk "hidup" baik di dalam maupun di luar film adalah kriteria utama dalam kategori ini dan "Golden" mengeksekusinya dengan sempurna.

Pidato Kemenangan yang Mengharukan

Momen penerimaan piala menjadi salah satu sorotan utama malam itu. Para penulis lagu dan penyanyi naik ke panggung dengan penuh haru. Pidato kemenangan disampaikan dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Korea yang menyimbolkan penyatuan dua budaya.

EJAE dalam pidatonya menyebutkan bahwa kemenangan ini bukan hanya untuk mereka tetapi untuk setiap anak Asia yang bermimpi bisa berdiri di panggung dunia. "Melihat wajah wajah seperti kami di sini semoga bisa memberikan harapan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi," ujarnya. Pesan ini meresap dalam ke hati jutaan penonton dan menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Dampak Besar Bagi Masa Depan Musik Asia

Piala Grammy pertama ini adalah pembuka jalan yang lebar. Jika sebelumnya ada tembok tak kasat mata yang menghalangi musisi K Pop untuk menang di kategori utama kini tembok itu telah runtuh. "Golden" telah menetapkan standar baru bahwa musisi Asia bisa bersaing secara adil dalam hal kualitas musikalitas dan artistik.

Ke depannya kita bisa optimis akan melihat lebih banyak lagi karya karya dari Asia yang diapresiasi di panggung Grammy. Kemenangan ini juga memberikan sinyal kepada industri film dan musik global untuk lebih berani berinvestasi pada konten lintas budaya.

Fenomena K Pop: Demon Hunters dan lagu "Golden" mengajarkan kita bahwa karya yang dibuat dengan hati dan kualitas tinggi pasti akan menemukan jalannya menuju puncak kejayaan tidak peduli dari mana asalnya atau bahasa apa yang digunakannya.

Logo Radio
🔴 Radio Live