Buka Puasa Terlalu Manis Bisa Bikin 'Food Coma', Mitos atau Fakta?
Refa - Sunday, 01 February 2026 | 03:30 PM


Meja makan penuh dengan kolak pisang, es buah sirup merah, teh manis panas, dan jajanan pasar. Begitu azan Magrib berkumandang, semua minuman manis itu langsung diserbu. Rasanya segar sesaat, tenggorokan basah, dan dahaga hilang.
Namun, 30 menit kemudian, saat hendak bersiap salat Magrib atau Isya, mata terasa berat sekali. Badan lemas, perut begah, dan rasa kantuk menyerang tak tertahankan saat rakaat awal Tarawih. Pernah mengalaminya? Ini sering disebut "Koma Makanan" (Food Coma).
Banyak orang berlindung di balik dalil "Berbukalah dengan yang manis". Padahal, dari kacamata medis dan hadis yang sebenarnya, kebiasaan menenggak gula pasir berlebihan saat perut kosong adalah resep bencana bagi metabolisme tubuh.
Mari kita bongkar mitosnya dan perbaiki pola makannya agar Tarawih Anda tetap bugar.
1. Mitos vs Fakta: Apa Maksud Hadisnya?
Selama ini kita mengartikan "manis" secara serampangan. Segala yang mengandung gula pasir, sirup, atau pemanis buatan dianggap menjalankan sunah.
Padahal, jika merujuk pada hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW berbuka dengan:
- Ruthob (Kurma basah/mengkal).
- Jika tidak ada, beliau makan Tamr (Kurma kering).
- Jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk Air Putih.
Fakta Medis: Rasa manis pada kurma berasal dari Fruktosa (gula buah alami) yang disertai dengan Serat. Kehadiran serat ini penting karena ia "menahan" laju penyerapan gula ke darah agar tidak melonjak drastis. Sementara itu, sirup, teh manis, dan kolak umumnya menggunakan Sukrosa (Gula Pasir) tanpa serat. Inilah biang kerok masalahnya.
2. Fenomena "Sugar Crash" (Kenapa Jadi Lemas?)
Mengapa setelah minum es sirup badan malah jadi lemas dan ngantuk? Ini penjelasan ilmiahnya:
- Fase Lonjakan (Insulin Spike): Saat perut kosong seharian (kadar gula darah rendah) tiba-tiba diguyur gula pasir dalam jumlah banyak, gula darah Anda akan melonjak naik (spiking) secara ekstrem dalam waktu singkat. Anda merasa segar dan "hiperaktif" sesaat.
- Respons Panik Tubuh: Pankreas mendeteksi bahaya gula berlebih ini, lalu membanjiri tubuh dengan hormon Insulin untuk menyedot gula tersebut keluar dari darah dan menyimpannya ke dalam sel (sering kali jadi lemak).
- Fase Jatuh (Sugar Crash): Karena insulin bekerja terlalu keras, gula darah yang tadinya tinggi tiba-tiba "dibanting" turun drastis di bawah normal. Di titik inilah Anda merasakan lemas mendadak, mengantuk berat, dan malas bergerak.
Jadi, rasa kantuk saat Tarawih itu bukan karena kekenyangan nasi, tapi sering kali karena efek roller coaster gula darah akibat takjil yang salah.
3. Protokol Berbuka yang Benar (Metode 3 Tahap)
Agar energi pulih stabil tanpa sugar crash, ikuti urutan berbuka "Anti-Ngantuk" ini:
Tahap 1: Hidrasi & Gula Alami (Saat Azan)
- Minum 1 gelas air putih (suhu ruang, jangan es yang terlalu dingin agar lambung tidak kaget).
- Makan 3 butir Kurma.
- Alternatif jika tak ada kurma: Buah potong segar yang mengandung air (Semangka, Melon, Pepaya). Hindari buah yang terlalu asam (Jeruk nipis/Nanas) saat perut kosong.
Tahap 2: Jeda Lambung (Salat Magrib)
- Berhenti makan dulu. Lakukan Salat Magrib.
- Jeda waktu 10-15 menit ini sangat krusial. Ini memberi sinyal pada lambung: "Siap-siap ya, sebentar lagi ada makanan berat masuk." Enzim pencernaan akan mulai diproduksi secara perlahan.
Tahap 3: Makan Besar (Setelah Salat)
- Makanlah dengan porsi wajar.
- Pastikan piring Anda lengkap: Karbohidrat kompleks (Nasi merah/Ubi/Nasi putih porsi sedang) + Protein (Ayam/Ikan/Telur) + Sayuran.
- Sayur (serat) adalah kunci untuk menahan agar gula darah tetap stabil.
Kesimpulan
Bolehkan minum es campur atau kolak? Boleh, tapi jadikan itu "hiburan", bukan menu utama. Batasi porsinya dan jangan diminum saat perut benar-benar kosong di tegukan pertama.
Ramadan adalah bulan detoksifikasi. Jangan sampai "sampah" yang kita keluarkan saat puasa di siang hari, kita masukkan lagi secara berlebihan lewat gula pasir di malam hari. Ubah "manis buatan" menjadi "manis alami", dan rasakan bedanya: badan lebih ringan, ibadah lebih khusyuk.
Next News

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
15 hours ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
3 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
3 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
3 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
4 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
19 hours ago

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
19 hours ago

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
4 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
4 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
5 days ago





