Ceritra
Ceritra Warga

Bisa Larut di Air Bukan Berarti Aman! Mengapa Cassava Bag Tetap Berisiko Bagi Ekosistem.

Refa - Thursday, 29 January 2026 | 09:30 PM

Background
Bisa Larut di Air Bukan Berarti Aman! Mengapa Cassava Bag Tetap Berisiko Bagi Ekosistem.
Ilustrasi kantong plastik singkong (Pinterest/)

Dalam upaya mengurangi sampah plastik konvensional, tren penggunaan kantong plastik singkong atau cassava bag meroket tajam. Produk ini sering diklaim sebagai solusi ajaib yang terbuat dari bahan alami, mudah hancur, dan diklaim "ramah lingkungan".

Banyak konsumen merasa tenang setelah beralih ke kantong ini, mengira tugas menyelamatkan bumi sudah selesai. Namun, fakta di lapangan tidak seindah klaim pemasarannya. Sering kali, label "Eco-Friendly" hanyalah strategi pemasaran atau greenwashing belaka.

Berikut adalah fakta ilmiah untuk meluruskan 3 mitos terbesar seputar kantong plastik singkong yang beredar di masyarakat.

1. Mitos: "Bisa Hancur Sendiri di Halaman Rumah"

Ini adalah kesalahpahaman yang paling fatal. Banyak orang berpikir jika mereka membuang kantong singkong ke tanah di kebun belakang rumah, kantong itu akan menghilang dalam hitungan hari layaknya kulit pisang.

Faktanya: Sebagian besar bioplastik, termasuk yang berbahan dasar pati singkong, membutuhkan kondisi khusus untuk terurai sempurna.

  • Butuh Suhu Tinggi: Agar bisa terurai, kantong ini memerlukan fasilitas Kompos Industrial dengan suhu di atas 50-60 derajat Celcius dan tingkat kelembapan tertentu.
  • Sulit Terurai di TPA: Jika kantong ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tertimbun sampah lain (minim oksigen), proses penguraiannya akan sangat lambat. Lebih buruk lagi, proses ini bisa menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berbahaya bagi lapisan ozon.

Jadi, istilah Biodegradable (bisa terurai hayati) tidak sama dengan Home Compostable (bisa dikomposkan di rumah). Tanpa fasilitas yang tepat, kantong ini tetaplah sampah yang menumpuk.

2. Mitos: "100% Organik Tanpa Campuran Plastik"

Banyak produk berlabel cassava bag yang beredar di pasaran sebenarnya tidak murni 100% terbuat dari singkong. Pati singkong murni memiliki struktur yang rapuh dan tidak tahan air panas.

Faktanya: Demi memperkuat struktur kantong agar kuat menahan beban belanjaan, produsen sering kali mencampur pati singkong dengan polimer sintetis atau zat aditif penguat.

  • Bahaya Mikroplastik: Jika kantong "campuran" ini terurai, bagian organiknya memang akan hilang dimakan mikroba. Namun, bagian polimer sintetisnya hanya akan hancur menjadi serpihan kecil atau mikroplastik.
  • Pencemaran Tanah: Bukannya menyuburkan tanah, sisa-sisa mikroplastik ini justru mencemari tanah dan bisa masuk ke rantai makanan.

Konsumen harus jeli melihat sertifikasi. Pastikan produk memiliki sertifikat "Compostable" berstandar internasional (seperti EN 13432), bukan sekadar tulisan "Eco-Friendly".

3. Mitos: "Larut di Air Berarti Aman untuk Ikan"

Video viral yang menunjukkan kantong singkong larut dalam segelas air panas sering dijadikan bukti bahwa kantong ini aman jika terbuang ke sungai atau laut.

Faktanya: Meskipun larut dalam air panas, bukan berarti zat tersebut aman bagi ekosistem perairan jika dalam jumlah besar.

  • Perubahan pH Air: Larutan pati dalam jumlah masif dapat mengubah tingkat keasaman (pH) air sungai.
  • Mengikat Oksigen: Proses penguraian zat organik di air membutuhkan oksigen. Jika terlalu banyak kantong singkong terbuang ke air, kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di air bisa turun drastis, yang justru membahayakan kelangsungan hidup ikan dan biota air lainnya.
  • Risiko Tersedak: Sebelum benar-benar larut, tekstur kantong yang melunak di air tetap berisiko membuat penyu atau ikan tersedak jika mereka mengiranya sebagai ubur-ubur atau makanan.

Solusi: Bagaimana Cara Membuangnya?

Lantas, apakah kita harus berhenti menggunakan kantong singkong? Tidak juga. Kantong ini tetap lebih baik daripada plastik minyak bumi (petroleum-based). Namun, perlakuan pembuangannya harus tepat:

  1. Jangan Dibuang ke Bak Daur Ulang Plastik: Kantong singkong tidak boleh dicampur dengan botol plastik atau kresek biasa karena akan merusak mesin daur ulang plastik.
  2. Gunakan Lubang Biopori: Jika memiliki lubang biopori atau tong komposter aktif di rumah, potong-potong kantong singkong menjadi bagian kecil sebelum dimasukkan agar proses penguraian lebih cepat.
  3. Pakai Ulang (Re-use): Solusi terbaik tetaplah menggunakan kantong belanja kain (tote bag) yang bisa dipakai ratusan kali, bukan mengganti sampah plastik dengan sampah jenis baru.
Logo Radio
🔴 Radio Live