Ceritra
Ceritra Kota

Berburu "Blue Fire" di Kawah Ijen, Fenomena Magis yang Cuma Ada Dua di Dunia

Refa - Tuesday, 30 December 2025 | 02:00 PM

Background
Berburu "Blue Fire" di Kawah Ijen, Fenomena Magis yang Cuma Ada Dua di Dunia
Blue Fire, Kawah Ijen (Pinterest/GeologyIn)

Jika Paris punya Menara Eiffel dan New York punya Patung Liberty, maka Jawa Timur punya sesuatu yang tidak bisa dibangun oleh tangan manusia, Api Biru atau Blue Fire.

Banyak pelancong lokal yang belum menyadari betapa istimewanya tempat ini. Fenomena nyala api berwarna biru elektrik yang muncul di tengah kawah aktif ini adalah kejadian alam yang sangat langka. Di seluruh dunia, fenomena ini hanya bisa disaksikan secara konsisten di dua tempat, yaitu Islandia dan Kawah Ijen, Indonesia. Bedanya, akses di Ijen jauh lebih "ramah" bagi pendaki dibandingkan lokasi di Islandia.

Namun, keindahan ini tidak datang gratis. Ada perjuangan fisik dan risiko yang harus ditebus untuk melihat si api biru menari dalam gelap. Berikut adalah gambaran pengalaman magis yang menantimu di puncak Ijen.

Sains di Balik Warna Biru

Jangan salah sangka, Blue Fire sebenarnya bukanlah api dari pembakaran kayu atau lava yang berwarna biru. Secara ilmiah, ini adalah reaksi kimia dari gas belerang (sulfur) bertekanan tinggi yang menyembur keluar dari celah-celah bebatuan.

Gas ini memiliki suhu ekstrem mencapai 600 derajat Celcius. Saat gas panas tersebut bertemu dengan oksigen di udara, ia terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru terang. Fenomena ini hanya bisa dilihat saat kondisi gelap gulita total. Itulah sebabnya, pendakian ke Ijen selalu dimulai tengah malam. Saat matahari mulai terbit, warna biru itu akan kalah oleh cahaya matahari dan asap putih belerang, sehingga fenomena ini "menghilang" dari pandangan mata.

Uji Fisik Menembus Dingin dan Asap

Berburu Blue Fire bukan untuk kaum rebahan yang manja. Perjalanan biasanya dimulai dari pos Paltuding sekitar pukul 01.00 atau 02.00 dini hari. Kamu harus mendaki trek menanjak sejauh 3 kilometer dengan kemiringan yang lumayan menguras napas.

Tantangan belum selesai saat sampai di bibir kawah. Untuk melihat api biru dari dekat, kamu harus turun ke dasar kawah melewati jalanan berbatu yang terjal dan sempit selama kurang lebih 45 menit. Di sinilah mental diuji. Di satu sisi ada jurang kawah, di sisi lain ada asap belerang yang pekat. Suhu di puncak bisa drop hingga 10 derajat Celcius, namun keringatmu akan tetap bercucuran karena aktivitas fisik yang berat.

Papasan dengan Manusia Kuat Penambang Belerang

Salah satu pemandangan paling menyentuh hati di Ijen bukanlah apinya, melainkan manusianya. Di jalur sempit itu, kamu akan berpapasan dengan para penambang belerang tradisional. Mereka memikul keranjang bambu berisi bongkahan belerang kuning yang beratnya bisa mencapai 70 hingga 90 kilogram.

Mereka naik-turun kawah, menembus asap beracun, hanya dengan perlindungan seadanya. Saat kamu sibuk mengatur napas dengan pakaian hiking mahal, mereka berjalan stabil dengan sandal jepit atau sepatu boot karet. Jika berpapasan dengan mereka di jalur sempit, berilah jalan. Prioritaskan mereka. Itu adalah bentuk rasa hormat kita pada "pahlawan keluarga" yang bertaruh nyawa di bibir kawah.

Masker Gas Adalah Nyawa

Ini bukan saran, tapi peringatan keras: Jangan pernah mencoba turun ke kawah tanpa masker gas (respirator) yang layak. Asap belerang di Ijen mengandung sulfur dioksida yang sangat pekat.

Jika angin berubah arah dan asap menerpamu, rasanya seperti dicekik. Mata akan perih luar biasa hingga berair, hidung terasa panas, dan dada sesak seketika. Masker medis biasa atau kain buff tidak akan mempan menahan gas ini. Jika asap datang, jangan panik dan jangan berlari karena bisa terpeleset ke jurang. Cukup tutup mata, balikkan badan membelakangi asap, dan bernapaslah setenang mungkin lewat masker gasmu sampai angin membawa asap itu pergi.

Logo Radio
🔴 Radio Live