Benarkah Orang Indonesia Malas Jalan Kaki atau Kotanya yang Memang Sengaja Menyiksa Kita
Nisrina - Thursday, 22 January 2026 | 09:15 AM


Sudah menjadi rahasia umum kalau ada survei tingkat dunia yang melabeli orang Indonesia sebagai penduduk paling malas berjalan kaki. Label ini sering kali dijadikan bahan olok-olok atau self-deprecating humor di media sosial. Kita sering menyalahkan budaya, menyalahkan betis yang manja, atau menyalahkan kemalasan pribadi.
Padahal kalau mau jujur, masalahnya bukan pada mentalitas kita yang lemah. Masalah utamanya ada pada desain kota yang seolah memang dirancang untuk membunuh hasrat berjalan kaki secara perlahan. Kota-kota kita tidak sedang melayani manusia, melainkan sedang menyembah kendaraan bermesin.
Coba perhatikan trotoar di kota-kota besar yang baru direvitalisasi. Pemerintah daerah sering kali merasa sudah berprestasi dengan membangun trotoar lebar yang dilapisi granit mahal. Tapi anehnya, trotoar cantik itu tetap sepi, panas, dan gersang bak padang mahsyar.
Masalah utamanya ternyata bukan pada kualitas ubin trotoar itu sendiri. Dalang di balik penderitaan para pejalan kaki adalah musuh tak kasat mata bernama Garis Sempadan Bangunan atau GSB. Istilah birokratis ini terdengar membosankan, tapi dampaknya sungguh mematikan bagi kenyamanan.
GSB adalah aturan yang memaksa bangunan untuk mundur sekian meter dari tepi jalan raya. Tujuannya terdengar mulia yakni untuk cadangan pelebaran jalan di masa depan saat macet melanda. Namun logika ini sebenarnya cacat karena memprioritaskan aspal daripada trotoar.
Secara tidak langsung aturan ini mengatakan bahwa kota ini disiapkan untuk mobil, bukan untuk manusianya. Ketika GSB ditetapkan lebih dari nol meter, bangunan dipaksa menjauh dari trotoar. Gedung-gedung seolah melakukan social distancing yang tidak perlu dengan pejalan kaki.
Akibatnya hubungan intim antara pejalan kaki dan bangunan pun putus di tengah jalan. Di kota-kota yang enak buat jalan kaki seperti di Eropa, bangunan itu mepet ke jalan. Ini menciptakan apa yang disebut street wall atau dinding jalan yang estetik.
Fasad bangunan yang berderet rapi di pinggir trotoar itu fungsinya bukan cuma buat gaya-gayaan. Ia hadir untuk menemani pejalan kaki agar tidak merasa sendirian. Ada etalase toko yang bisa dilihat atau aroma makanan yang membuat perjalanan tidak terasa jauh.
Di Indonesia, berkat GSB yang besar, kita berjalan sendirian di trotoar yang kosong melompong. Sementara itu bangunannya entah ada di mana di balik pagar beton yang tinggi dan angkuh. Kita dipaksa berjalan di lorong sunyi yang membosankan tanpa interaksi visual.
Dampak paling brutal dari aturan bangunan yang mundur ini adalah hilangnya peneduh alami. Kita tinggal di negara tropis yang mataharinya sering kali terasa ada tiga buah di atas kepala. Bangunan yang rapat ke jalan seharusnya berfungsi sebagai payung raksasa.
Gedung tinggi bisa memberikan bayangan teduh ke trotoar saat matahari sedang ganas-ganasnya. Tapi karena aturan GSB memaksa gedung mundur, trotoar kita jadi terpapar matahari langsung tanpa ampun. Kenyamanan termal hancur lebur seketika.
Jadi wajar saja kalau orang memilih naik ojek untuk jarak 200 meter saja. Berjalan kaki di sana rasanya seperti simulasi masuk oven kue. Itu bukan malas, tapi naluri bertahan hidup dari serangan dehidrasi dan keringat berlebih.
Lebih menyedihkan lagi, ruang kosong antara trotoar dan gedung akibat GSB ini sering kali berubah fungsi. Area itu justru menjadi "lautan aspal" alias tempat parkir mobil. Ini adalah penghinaan pamungkas bagi pejalan kaki yang sudah kepanasan.
Kendaraan bermotor diberi karpet merah untuk parkir tepat di depan pintu masuk lobi gedung. Sementara pejalan kaki harus berjalan memutar dan menyelinap di antara mobil-mobil panas. Kita harus waspada agar tidak tertabrak kendaraan yang keluar masuk seenaknya.
Kota secara terang-terangan memberi sinyal bahwa kalau kamu tidak bawa mobil, kamu adalah warga kelas dua. Ketiadaan street wall yang solid membuat kota kehilangan jiwanya yang ramah. Jalanan hanya menjadi koridor lewatnya kendaraan yang bising dan polutif.
Selama pola pikir tata kota kita masih mendewakan GSB demi pelebaran jalan, jangan harap predikat "pemalas" itu lepas. Walkability itu bukan cuma soal membaguskan material trotoar lalu gunting pita. Itu soal keberpihakan politik tata ruang.
Selama aturan kota masih menganaktirikan pejalan kaki dan memanjakan kendaraan, trotoar kita hanya akan jadi pajangan. Berhentilah menyalahkan diri sendiri karena malas berjalan kaki di negeri ini. Salahkanlah kota yang memang tidak menginginkanmu ada di jalanan.
Next News

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
9 hours ago

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
14 hours ago

Penyelamat Nasi Putih: Bagaimana Sambal Menjadi Simbol Kemewahan Paling Murah di Indonesia
2 hours ago

Kenapa Radang Tenggorokan Lebih Sering Menyerang Anak-Anak Daripada Orang Dewasa?
15 hours ago

Lebih dari Sekadar "Jamet": Membedah Filosofi di Balik Gaya Rambut Sasuke dan Subkultur Emo
3 days ago

Jangan Kaget Dulu! Membedah Kenapa "Jancok" Jadi Bahasa Cinta Arek Suroboyo
3 days ago

Tren Jorts dan Baggy Jeans 2026: Alasan Mengapa Celana Lebar Lebih Disukai daripada Skinny Jeans
3 days ago

Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital
4 days ago

Bukan Sekadar Mendayu, Ini Alasan Politis di Balik Vibe Melayu pada Lagu Nasional Indonesia
6 days ago

Bukan Sekadar Lomba 17-an, Egrang adalah "Life Lesson" Tentang Keseimbangan dan Ego
7 days ago






