Barang Viral Cuma Jadi Pajangan? Ini Cara Kendalikan Diri
Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 08:15 AM
Coba ingat-ingat lagi, berapa banyak barang di sudut kamar kamu yang dibeli cuma gara-gara viral di TikTok atau Instagram, tapi sekarang cuma jadi pajangan berdebu? Mungkin itu sebuah botol minum raksasa yang saking besarnya malah berat buat dibawa ke mana-mana, atau mungkin gantungan boneka Labubu yang harganya bikin geleng-geleng kepala padahal fungsinya ya cuma digantung doang. Kita semua pernah di sana. Berada di titik di mana logika bilang "nggak butuh," tapi jempol di layar HP seolah punya nyawa sendiri buat klik tombol 'Checkout Sekarang'.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi di era algoritma yang makin pintar kayak sekarang, tekanannya terasa sepuluh kali lipat lebih kencang. Pertanyaannya, kenapa sih kita manusia—makhluk yang katanya dibekali akal budi—begitu gampang terseret arus tren? Kenapa rasanya ada yang kurang kalau kita nggak ikutan antre dua jam demi sebuah cromboloni atau kopi susu yang sebenernya rasanya ya gitu-gitu aja?
FOMO: Hantu Digital yang Selalu Menghantui
Istilah Fear of Missing Out atau FOMO bukan sekadar jargon anak senja atau Gen Z doang. Ini adalah perasaan cemas yang sangat nyata. Secara psikologis, manusia itu makhluk sosial yang punya kebutuhan dasar untuk merasa "terlibat" atau "diterima" dalam kelompok. Zaman dulu, kalau kamu nggak ikut berburu bareng kelompok, kamu bisa mati kelaparan. Zaman sekarang, kalau kamu nggak tahu apa itu "Dubai Chocolate" atau nggak punya outfit ala "Coquette," kamu merasa mati gaya.
Media sosial memperparah ini dengan menciptakan realitas semu. Kita melihat semua orang seolah-olah punya kehidupan yang seru, barang yang keren, dan pengalaman yang estetik. Saat kita nggak punya barang yang lagi tren itu, otak kita ngasih sinyal bahaya: "Eh, lu ketinggalan nih! Lu nggak relevan lagi!" Sinyal inilah yang bikin kita rela ngeluarin duit buat sesuatu yang sebenernya nggak menambah nilai fungsional dalam hidup kita.
Hasrat untuk Membangun Identitas Lewat Konsumsi
Di dunia yang makin berisik ini, kita sering bingung mendefinisikan siapa diri kita sebenarnya. Akhirnya, kita meminjam identitas dari barang-barang yang kita pakai. Membeli barang yang lagi tren adalah cara paling instan untuk bilang ke dunia, "Gue bagian dari kelompok ini lho." Kamu pakai sepatu Samba? Berarti kamu anak skena yang paham fashion. Kamu koleksi vinyl padahal nggak punya pemutarnya? Berarti kamu orang yang apresiatif sama seni musik klasik.
Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa dengan memiliki barang X, maka kualitas hidup kita otomatis akan naik jadi level Y. Padahal, kepuasan itu biasanya cuma bertahan beberapa hari—atau bahkan beberapa jam setelah barang sampai. Begitu trennya basi, barang itu nggak lagi punya kekuatan untuk mendefinisikan siapa kita. Akhirnya? Ya kita cari tren baru lagi. Siklusnya terus berulang kayak lagu galau yang diputar on repeat.
Algoritma dan "Ilusi Kebutuhan"
Pernah nggak kamu cuma ngomongin soal "meja kerja minimalis" sama temen, eh tiba-tiba beranda Instagram kamu isinya iklan meja kayu semua? Algoritma sekarang udah kayak dukun. Mereka tahu kapan kamu merasa bosan, kapan kamu punya uang lebih, dan apa yang kira-kira bisa bikin kamu tertarik. Mereka menciptakan "ilusi kebutuhan."
Awalnya kita cuma lihat satu influencer pakai. Ah, biasa aja. Besoknya, ada lima orang lagi yang pakai. Lusa, tiba-tiba ada video "Review Jujur" yang bilang kalau barang itu life-changing. Di titik ini, pertahanan kita runtuh. Kita mulai meyakinkan diri sendiri dengan kalimat sakti: "Ah, mumpung lagi diskon," atau "Anggap aja ini self-reward." Padahal kalau dipikir pakai logika dingin, self-reward-nya udah kebanyakan, yang ada malah self-punishment buat tabungan masa depan.
Efek Dopamin yang Bikin Nagih
Secara biologis, saat kita membeli sesuatu yang baru, otak kita melepaskan dopamin—hormon kebahagiaan. Sensasi saat nunggu paket dateng, suara robekan lakban di kardus, sampai bau barang baru itu emang nagih banget. Masalahnya, dopamin ini sifatnya sementara. Begitu rasa senangnya hilang, kita butuh "suntikan" baru lagi. Inilah kenapa belanja barang tren seringkali bukan soal barangnya, tapi soal sensasi berburunya.
Apalagi sekarang ada tren "unboxings" dan "hauls" yang bikin kegiatan belanja terasa kayak kompetisi atau konten kreatif. Kita nggak cuma beli barang, tapi juga beli potensi buat dapet likes dan engagement di media sosial. "Lihat nih, gue juga punya yang lagi viral!" adalah pesan tersirat yang ingin kita sampaikan.
Jadi, Salah Nggak Sih Ikut Tren?
Jujur aja, ikut tren itu nggak dosa. Manusiawi banget kalau kita pengen kelihatan keren atau pengen ngerasain apa yang lagi ramai dibicarakan orang. Yang jadi masalah adalah kalau kita sampai kehilangan kendali atas diri sendiri dan kondisi finansial. Kalau setiap minggu kita harus ngikutin apa yang viral cuma biar dianggap "asik," mungkin ada yang salah dengan cara kita memandang diri sendiri.
Mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak sebelum bayar di kasir atau klik 'Bayar' di aplikasi. Tanya ke diri sendiri: "Gue beneran suka barang ini, atau gue cuma suka karena orang lain suka?" Kalau jawabannya yang kedua, mendingan uangnya ditabung buat hal yang lebih esensial, atau minimal buat beli makan enak yang beneran bikin kenyang, bukan cuma yang bagus difoto doang.
Pada akhirnya, tren itu datang dan pergi lebih cepet daripada janji manis mantan. Hari ini viral, besok dilupakan. Jadi, nggak perlu capek-capek ngejar semua hal yang lewat di timeline. Menjadi diri sendiri yang "nggak update" kadang jauh lebih tenang dan hemat daripada jadi orang paling trendy tapi tiap akhir bulan makan promag gara-gara saldo ludes.
Next News

Alasan Mengapa Merasa Dimengerti Itu Sangat Melegakan
in 4 hours

Kenapa Kita Suka Hujan Tapi Malas Kehujanan?
in 3 hours

5 Menit Lagi: Kebohongan Paling Manis yang Kita Telan Bulat-Bulat
in 3 hours

Bahaya Berkendara Mode Autopilot: Kenapa Kita Bisa Lupa Jalan?
in 2 hours

Krisis Eksistensial Itu Normal: Kenapa Kamu Nggak Perlu Cemas
in an hour

Pengaruh Warna Terhadap Mood: Kenapa Kita Suka Bengong di Kafe?
in 16 minutes

Ilusi Optik: Saat Mata dan Otak Tidak Sepakat Melihat Realita
44 minutes ago

Dari Labubu ke Tren Baru: Mengapa Kita Selalu Merasa Ketinggalan?
2 hours ago

Ujung Pulpen Hancur? Simak Alasan di Balik Kebiasaan Unik Ini
3 hours ago

Rahasia Lidah Api: Kenapa Selalu Menunjuk ke Langit?
4 hours ago






